-->

[ADS] Top Ads

Dinamika Perubahan Pedosfer - Materi Geografi

Pedosfer

Apa yang dimaksud dengan Pedosfer? dan apa saja faktor-faktor pembentuk tanah? Pada materi geografi kali ini akan membahas tentang pertanyaan tersebut, sekaligus beberapa hal yang berkaitan dengan Pedosfer, seperti struktur dan tekstur tanah, klasifikasi tahan, komposisi tanah, dan lain-lain.

Proses pembentukan tanah atau pedosfer diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan secara fisik maupun kimia. Dari proses pelapukan ini, batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya.

Pada tahap ini batuan yang lapuk belum dikatakan sebagai tanah, tetapi sebagai bahan tanah (regolith) karena masih menunjukkan struktur batuan induk. Proses pelapukan terus berlanjut hingga pada akhirnya bahan induk tahan berubah menjadi tahan.

Proses pelapukan tersebut menjadi awal terbentuknya tanah  atau pedosfer, sehingga faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah. Faktor-faktor tersebut akan dibahas dalam bab ini.

Ilmu yang mempelajari tanah disebut Pedologi. sedangkan ilmu yang secara khusus mempelajari proses pembentukan tanah disebut Pedogenesa. Kedua ilmu tersebut sangat berkaitan apabila ingin memahami pelajaran geografi bab pedosfer.

Pengertian Pedosfer


Secara sederhana pedosfer diartikan sebagai lapisan tanah yang menempati bagian paling atas dari litosfer. Pengertian Pedosfer adalah lapisan paling atas dari permukaan bumi yang menjadi tempat berlangsungnya proses pembentukan tanah (Hartono, 2007: 74).

Menurut teori, tanah berasal dari batuan yang telah lapuk dan mengalami beberapa proses di dalam pembentukanya. Tanah (soil) adalah suatu wujud alam yang terbentuk dari campuran hasil pelapukan batuan, bahan anorganik, bahan organik, air, dan udara yang menempati bagian paling atas dari litosfer.

Proses Pembentukan Tanah


Pada dasarnya tanah berasal dari batuan atau zat anorganik yang mengalami pelapukan. Perubahan batuan menjadi butir-butir tanah disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu;
  • Pemanasan matahari pada siang hari dan pendinginan pada malam hari
  • Pemadatan dan tekanan pada sisa-sisa zat organik akan mempercepat terbentuknya batuan.
  • Batuan yang sudah retak dan proses pelapukan dipercepat oleh air
  • binatang-binatang kecil seperti cacing, rayap, dan sebagainya yang membuat lubang dan mengeluarkan zat-zat yang dapat menghancurkan batuan dan akar tumbuhan dapat menerobos, memecah batuan menjadi hancur menjadi butiran tanah.

Pelapukan yang terjadi pada batuan atau sisa-sisa jasad kehidupan pada proses terbentuknya tanah dapat berlangsung secara tiga macam.
  • Kimiawi, yaitu pelapukan yang disebabkan oleh pengaruh bahan kimia yang larut dalam air. Adanya reaksi kimia pada zat yang terkandung dalam air menyebabkan batuan mengalami penghancuran.
  • Mekanis atau fisik, yaitu pelapukan yang disebabkan oleh faktor perubahan cuaca seperti peristiwa pemanasan di siang hari dan pendinginan pada malam hari, sehingga lambat laun batuan mengalami pelapukan.
  • Biologis atau organik, yaitu pelapukan yang disebabkan oleh adanya tumbuhan yang hidup di atas permukaan batuan, misalnya lumut. Batuan yang ditumbuhi lumut lama-lama akan mengalami pelapukan, sehingga hancur dan menjadi butir-butir tanah.

Apabila memperhatikan proses terbentuknya tanah, maka terdapat beberapa faktor yang dapat memberi pengaruh terhadap proses pembentukan tanah.

Faktor-Faktor Pembentuk Tanah


Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pembentukan tanah adalah iklim.

Apakah hanya iklim saja yang memberi pengaruh terhadap proses pembentukan tanah? Tentu bukan hanya faktor iklim saja yang mempengaruhinya. Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi proses pembentukan tanah seperti, organisme, bahan induk, topografi, dan waktu.

Faktor-faktor pembentuk tanah adalah sebagai berikut:

1. Iklim


Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah yang paling utama adalah suhu dan curah hujan.

Suhu/Temperatur
Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk tanah. Apabila perubahan suhu terjadi secara ekstrim, maka proses pelapukan akan berlangsung cepat, sehingga pembentukan tanah juga cepat.

Curah Hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat akan menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).

2. Organisme (Vegetasi, Jasad Renik/Mikro Organisme)


Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam beberapa hal, yaitu;

Membantu proses pelapukan
Baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi. Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur yang larut oleh air.

Membantu proses pembentukan humus
Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daun-daunan dan rantingranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.

Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.

Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis tanaman cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara, derajat keasamannya lebih tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.

3. Bahan Induk


Bahan induk terdiri atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan batuan metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami pelapukan dan menjadi tanah.

Tanah yang terdapat di permukaan bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan induknya. Bahan induk yang masih terlihat, seperti tanah berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi.

4. Topografi atau Relief


Keadaan relief suatu daerah akan memengaruhi pembentukan tanah, antara lain sebagai berikut

Tebal atau tipisnya lapisan tanah. Daerah dengan topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya menjadi lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi proses sedimentasi.

Sistem drainase atau pengaliran. Daerah yang drainasenya jelek sering tergenang air. Keadaan ini akan menyebabkan tanahnya menjadi asam.

5. Waktu


Tanah merupakan benda yang terdapat di alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan penyucian yang terjadi terus menerus. Oleh karena itu, tanah akan menjadi semakin tua dan kurus.

Mineral yang banyak mengandung unsur hara akan habis karena mengalami pelapukan sehingga yang tertinggal adalah mineral yang sukar lapuk, seperti kuarsa. Akibat proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka induk tanah berubah berturut-turut menjadi muda, tanah dewasa, dan tanah tua.

Tanah Muda
Tanah muda ditandai oleh adanya proses pembentukan tanah yang masih tampak pencampuran antara bahan organik dan bahan mineral atau masih tampak struktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalah tanah aluvial, regosol, dan litosol.

Tanah Dewasa
Tanah dewasa ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah muda dapat berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan proses pembentukan horizon B. Misalnya, tanah andosol, latosol, dan grumosol.

Tanah Tua
Tanah tua ditandai oleh proses pembentukan tanah yang berlangsung terus-menerus sehingga terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada horizon-horizon A dan B. Contoh tanah pada tingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit).

Lamanya waktu pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memer lukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda, dan 1.000–10.000 tahun untuk membentuk tanah dewasa.

Profil dan Solum Tanah


Profil tanahadalah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri atas lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Adapun solum tanah adalah bagian dari profil tanah yang terbentuk sebagai akibat proses pembentukan tanah.

Perbedaan horizon tanah disebabkan pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air atau penyucian tanah (leached) dan karena proses pembentukan tanah.

Proses pembentukan horizon-horizon tersebut akan menghasilkan benda alam baru yang disebut tanah. Penampang vertikal dari tanah menunjukkan susunan horizon yang disebut profil tanah.

Horizon-horizon yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah adalah horizon O, A, B, C, dan D atau R (bed rock). Adapun horizon yang menyusun solum tanah hanya terdiri atas horizon A dan B.

  • Horizon O dapat ditemukan pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu. Horizon O merupakan horizon organik yang terbentuk di atas lapisan tanah mineral.
  • Horizon A terdiri atas campuran bahan organik dan bahan mineral. Horizon A merupakan horizon yang mengalami penyucian.
  • Horizon B terbentuk dari adanya proses penimbunan (iluviasi) dari bahan-bahan yang tercuci dari horizon A.
  • Horizon C tersusun atas bahan induk yang sudah mengalami sedikit pelapukan dan bersifat tidak subur.

Horizon D atau R tersusun atas batuan keras yang belum terla pukan. Horizon D atau R disebut juga batuan induk atau batuan dasar

Warna, Struktur dan Tekstur Tanah


Karena beberapa hal warna, struktur dan tekstur tanah menjadi berbeda-beda.

1. Warna Tanah


Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Faktor penyebab adanya perbedaan warna permukaan tanah pada umumnya terjadi karena perbedaan kandungan bahan organik. Semakin tinggi kandungan bahan organik, berarti semakin gelap warna tanah.

Warna tanah disusun oleh tiga jenis variabel, yaitu sebagai berikut.
  • Hue, menunjukkan warna spektrum yang paling dominan sesuai dengan panjang gelombangnya.
  • Value, menunjukkan gelap terangnya warna sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.
  • Chroma, menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.

Warna tanah dapat ditentukan dengan membandingkan warna baku pada buku Munsell Soil Colour Chart dengan warna tanah. Warna tanah akan berbeda apabila tanah dalam keadaan basah, lembap, atau kering. Di dalam penentuan warna tanah perlu dicatat bagaimana kondisi tanah tersebut apakah dalam keadaan basah, lembap, atau kering.

2. Tekstur Tanah


Tektur tanah menunjukkan kasar halusnya butiran tanah. Berdasarkan perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu, dan liat di dalam tanah terdapat dua belas kelas tekstur tanah, yaitu sebagai berikut.
  • Pasir
  • Pasir berlempung
  • Lempung berpasir
  • Lempung
  • Lempung berdebu
  • Debu
  • Lempung liat
  • Lempung liat berpasir
  • Lempung liat berdebu
  • Liat berpasir
  • Liat berdebu
  • Liat

Dari dua belas tekstur tanah tersebut, terdapat empat kelas utama yaitu pasir, lempung, debu dan liat. Di lapangan, tekstur tanah secara sederhana dapat ditentukan dengan memilin tanah dengan jari-jari tangan (kasar halusnya tanah).

3. Struktur Tanah


Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari tanah akibat melekatnya butir-butir tanah satu sama lain. Struktur tanah memiliki bentuk yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut.
  • Lempeng (Platy), ditemukan di horizon A.
  • Prisma (Presmatic), ditemukan di horizon B pada daerah iklim kering.
  • Tiang (Columnar), ditemukan di horizon B pada daerah iklim kering.
  • Gumpal Bersudut (Angular Blocky), ditemukan pada horizon B di daerah iklim basah.
  • Gumpal Membulat (Sub Angular Blocky), ditemukan pada horizon B di daerah iklim basah.
  • Granuler (Granular), ditemukan pada horizon A.
  • Remah (Crumb), ditemukan pada horizon A.

Berbagai jenis struktur tanah antara lain berupa gumpalan atau remah. Struktur tanah pada berbagai lapisan tanah bisa berbeda. Kegiatan-kegiatan petani berupa pembajakan, pemupukan, dan pengolahan tanah dapat mengubah struktur tanah asli.


Penulis : KhoiruAddien
Sumber :
  1. Hartono, Geografi Jelajah dan Alam Semesta : untuk Kelas 10 SMA/MA, Cetakan 1, 2007, Jakarta; DPN.
  2. Bagja Wijaya, Memahami Geografi SMA/MA Kelas 10, 2009, Jakarta: DPN.
  3. Danang Endarto., dkk, Geografi 1 Untuk SMA/MA Kelas 10, 2009, Jakarta: DPN.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah