-->

[ADS] Top Ads

Masa Aksara di Indonesia dan Perkembangan Penulisan Sejarah

Masa Aksara di Indonesia

Masa Aksara di Indonesia

Masa aksara disebut juga dengan zaman aksara. Masa aksara adalah masa di mana manusia sudah mengenal dan menggunakan tulisan sebagai media komunikasi selain bahasa lisan. Sebelum mengenal tulisan, manusia tidak memiliki tradisi merekam sejarah dalam bentuk tulisan, namun setelah mengenal tulisan dan bisa menggunakannya, barulah tradisi mencatat sejarah melalui tulisan mulai berkembang.

Masa aksara di Indonesia terjadi akibat beberapa faktor di antaranya, dahulu Indonesia merupakan tempat yang strategis untuk jalur perdagangan, banyak pedagang asing yang singgah untuk menawarkan barang dagangan di Indonesia, dan interaksi antara pedagang asing dengan pribumi. Faktor-faktor tersebut membuat penduduk Indonesia bisa dengan mudah mengenal tulisan melalui para pedagang asing.

Sejarah Masuknya Aksara di Indonesia

Sebelum masyarakat Indonesia mengenal tulisan, para pedagang asing, terutama dari Cina Selatan dan India Selatan telah singgah dan melakukan interaksi dengan penduduk setempat. Dahulu kepulauan Indonesia merupakan tempat strategis yaitu, terletak di antara jalur pelayaran dan perdagangan Cina-India.

Dalam pelayaran tersebut para pedagang asing hampir dapat dipastikan melewati perairan Indonesia dan singgah sebelum melanjutkan perjalanan. Kondisi tersebut berlangsung sangat lama, sehingga terjadi kontak budaya antara pedagang asing dan penduduk pribumi.

Penduduk di kepulauan indonesia baru memasuki masa aksara sekitar abad ke-5 Masehi. Pendapat tersebut berdasarkan tujuh buah prasasti berbentuk yupa (tugu) yang ditemukan di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Prasasti Yupa merupakan prasasti yang dibuat pada masa Kerajaan Kutai.

Kerajaan Kutai terletak di sekitar Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Menurut prasasti yang ditemukan, Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Dalam salah satu prasasti disebutkan nama raja-raja seperti Raja Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman. Di lihat dari bentuk tulisan prasasti tersebut di duga di buat pada abad ke-5 Masehi.

Pengaruh India sangat kental dalam penemuan tersebut karena prasasti yupa terukir tulisan huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Berdasarkan penemuan tersebut sejumlah pakar ahli sejarah menduga bahwa masyarakat Indonesia mulai mengenal aksara pada abad ke-5 Masehi.

Kehidupan Masyarakat Indonesia Pada Masa Aksara

Kehidupan masyarakat masa aksara di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan yang sangat signifikan. Di berbagai bidang telah tumbuh dan berkembang secara dinamis. Berikut kehidupan awal masyarakat Indonesia pada masa aksara.

1. Bidang Pemerintahan
Pada awal masa aksara di Indonesia, sistem pemerintahan yang dianut adalah demokrasi. Cara menentukan pemimpin melalui musyawarah dan pemimpin yang terpilih disebut Kepala Suku. Kepala suku dipilih berdasarkan kemampuan. Siapa orangnya yang memiliki kemampuan tertinggi di antara masyarakat, maka dialah yang menjadi pemimpin.

Masyarakat Indonesia pada masa aksara hidup secara berkelompok. Mereka mampu berkembang secara dinamis dengan bentuk kesukuan. Pertemuan antara penduduk pribumi dan pedagang India ternyata membawa pengaruh positif dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam pemerintahan.

Pada awalnya masyarakat Indonesia menganut sistem demokrasi dalam bentuk kesukuan, namun setelah masuknya pengaruh India (Hiduisme), sistem tersebut berubah menjadi bentuk kerajaan. Kekuasaan raja diberikan secara turun temurun berdasarkan keturunan, sehingga rakyat tidak ikut campur dalam pemilihan raja.

Raja yang lemah pasti akan segera berakhir dan turun tahta sehingga digantikan oleh raja yang kuat dan bijaksana. Sebaliknya, raja yang kuat dan bijaksana akan memimpin kerajaan dengan baik dan tidak mudah dijatuhkan dari tahta.

2. Bidang Ekonomi
Usaha ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat pada masa aksara di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara ekonomi barang, yaitu jual beli barang dengan sistem barter. Barter adalah tukar menukar barang dengan barang yang lainnya, misalnya membeli perhiasan dibayar dengan hasil bumi seperti padi atau singkong.

3. Dalam Bidang Sosial
Penataan sosial masyarakat Indonesia pada masa aksara sudah teratur. Sudah ada desa untuk sekelompok masyarakat. Dalam satu kelompok masyarakat terdapat aturan-aturan untuk kepentingan bersama dan kehidupan mereka bersifat gotong royong.

4. Bidang Budaya
Pengaruh budaya India telah membawa bangsa Indonesia kepada arah yang lebih baik dan terarah dalam berkarya. Para raja atau penguasa mulai menggunakan tulisan walau dengan media yang seadanya. Mereka membuat prasasti untuk mencatat peristiwa pada masa itu, dan menulis surat dengan media seperti kulit dan daun.

Pada masa aksara, masyarakat di kepulauan Indonesia telah menghasilkan maha karya berupa bangunan, yaitu candi borobudur, candi prambanan, dan lain-lain. Bahkan relief pada dinding candi borobudur dinilai lebih hebat dibanding karya orang India.

5. Sistem Kepercayaan
Pada masa aksara di Indonesia, telah berkembang berbagai kepercayaan, di antaranya kepercayaan Animisme, Dinamisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang berasal dari roh nenek moyang yang sudah meninggal. Dinamisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib.

Perkembangan Penulisan Sejarah di Indonesia

Penulisan sejarah tidak hanya menulis peristiwa masa lampau, namun harus dilakukan penelitian secara mendalam terlebih dahulu baru kemudian setelah memperoleh kesimpulan sejarah ditulis. Dalam penelitian sejarah terdapat metode dan tahapan untuk menghasilkan sebuah penulisan sejarah. Tersusun secara sistematis, terarah, dan fokus pada tujuan.

Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia disebut dengan Historiografi Indonesia. Karya sejarah di Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak masa kerajaan hingga sekarang.

Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia telah dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yaitu Sejarah Tradisional, Sejarah Kolonial, dan Sejarah Nasional. Semua jenis sejarah tersebut ada yang ditulis oleh bangsa Indonesia sendiri dan orang asing.

Pengelompokan Penulisan Sejarah di Indonesia

1. Sejarah Tradisional (Historiografi Tradisional)
Sejarah tradisional ditulis pada awal masa aksara, yaitu masa kerajaan-kerajaan kuno. Penulisan ini di mulai sejak masuknya pengaruh India (Hinduisme)  hingga masuknya Islam ke Indonesia. Penulisnya biasanya adalah seorang pujangga, kesatria, dan raja-raja yang memiliki kemampuan menulis.

Media yang digunakan pada umumnya berupa batu. Entah bagaimana caranya, batu ditulis dan diukir dengan huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Biasanya penulisan sejarah hanya seputar pada peristiwa tertentu dan menceritakan seorang raja.

Penekanan pada sejarah tradisional adalah sebagai berikut.
  • Menekankan pada satu tokoh atau raja tertentu, seperti prasasti Kebon Kopi yang berisi "Di sini tampak sepasang dua telapak kaki.... yang seperti Airawata, gagah penguasa Taruma agung dan... kejayaan".
  • Pembahasan hanya seputar aspek tertentu saja, misalnya menceritakan pada aspek religius saja.
  • Pembahasan hanya seputar peristiwa tertentu saja, misalnya prasasti tugu (Cilincing, Jakarta) yang menceritakan pembuatan saluran sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 kilo meter).
  • Penulisan sejarah hanya struktur bukan proses.

Perkembangan penulisan sejarah tradisional di Indonesia lebih kepada ekspresi budaya dari pada usaha untuk merekam suatu peristiwa masa lampau.

Penulisan sejarah tradisional bukan bertujuan untuk mendapatkan kebenaran sejarah dengan pembuktian melalui fakta-fakta, namun lebih kepada keyakinan akan kebenaran kisah sejarah yang diperoleh melalui pengakuan serta pengabdian kepada penguasa.

2. Sejarah Kolonial (Historiografi Kolonial)
Sejarah kolonial merupakan sejarah yang ditulis oleh sejarawan kolonial. Perkembangan penulisan sejarah Indonesia tidak dapat mengabaikan karya-karya sejarah yang ditulis oleh sejarawan kolonial. Ini disebabkan oleh historiografi kolonial turut memperkuat proses penulisan sejarah di Indonesia.

Penulisan sejarah kolonial pada umumnya tidak lepas dari kepentingan penguasa kolonial Belanda. Contohnya sejarah tentang Pangeran Diponegoro. Sejarah kolonial akan menulis bahwa Pangeran Diponegoro adalah seorang pemberontak, sementara sejarah nasional akan menulis bahwa Pangeran Diponegoro adalah seorang pahlawan.

Mengapa demikian? karena Pangeran Diponegoro melawan kebijakan pemerintah kolonial yang menjajah dan menindas masyarakat Indonesia. Sebaliknya, sejarah nasional menganggap beliau seorang pahlawan karena berjuang untuk membebaskan penduduk Indonesia dari penjajah.

3. Sejarah Nasional (Historiografi Nasional)
Usaha penulisan sejarah nasional dimulai setelah revolusi kemerdekaan Indonesia. Latar belakang penulisan sejarah nasional adalah perbedaan intepretasi yang menghasilkan penafsiran berbeda dengan sejarah kolonial.

Ini merupakan perkara yang sangat penting karena jika tidak segera dilaksanakan, maka penerus bangsa akan membaca sejarah kolonial. Penerus bangsa Indonesia yang membaca sejarah kolonial akan menganggap bahwa para pahlawan adalah seorang pemberontak.

Sejarah Modern (Historiografi Modern)

Terlepas dari pembagian penulisan sejarah, perkembangan penulisan sejarah di Indonesia sangat erat kaitannya dengan penulisan sejarah modern. Historiografi modern menitik beratkan pada ketepatan teknik dalam usaha mendapatkan fakta sejarah dan mengadakan rekonstruksi sebaik mungkin serta menerangkan dengan tepat.

5 tahap dalam penelitian sejarah untuk mendapatkan fakta sejarah.
  1. Menentukan topik penelitian
  2. Heuristik (mengumpulkan data dari berbagai sumber)
  3. Melakukan verifikasi (kritik)
  4. Menafsirkan (interpretasi)
  5. Penulisan sejarah (historiografi)

Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia pada tahap modern memerlukan langkah-langkah dasar yang telah disebutkan di atas. Semuanya dilakukan secara cermat, kritis, sistematis, dan mengandung kehati-hatian dalam menulis sejarah.

Pada awal masa aksara di Indonesia belum menggunakan langkah-langkah tahapan seperti pada penulisan sejarah modern. Karena masyarakat awal masa aksara menitik beratkan pada apa yang dirasakan dan dilihat oleh penulis sejarah.

Berbeda dengan sejarah modern yang harus melalui tahapan secara ketat dan sistematis.

Sejarah Indonesia dari Masa Pra-aksara Menuju Aksara

Dalam sejarah, masa pra-aksara adalah masa di mana manusia belum mengenal tulisan, sedangkan masa aksara merupakan lanjutan dari masa sebelumnya (zaman pra aksara).  Kedua masa tersebut berkaitan erat dan saling terhubung dalam periodisasi sejarah berdasarkan aksara atau tulisan.

Periodisasi adalah proses pembabakan atau pembagian waktu dalam sejarah menjadi beberapa zaman atau periode. Contohnya, sejarah dibagi menjadi dua zaman berdasarkan aksara yaitu, zaman pra aksara dan zaman aksara.

Masa pra aksara disebut juga zaman pra sejarah. Pada masa pra aksara Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa dan waktu yang sangat panjang untuk memasuki zaman aksara.

Masa Indonesia Sebelum Mengenal Tulisan

Masa manusia belum mengenal tulisan disebut zaman pra aksara atau zaman prasejarah. Masa pra aksara di Indonesia adalah masa di mana masyarakat Indonesia belum mengenal dan menggunakan tulisan. Zaman pra-aksara berjalan dalam waktu yang sangat panjang dan terbagi menjadi beberapa zaman.

Pembagian masa pra aksara

1. Masa Berburu
Pada awal masa pra aksara, kehidupan manusia purba untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan cara berburu. Mereka berburu dalam kelompok kecil dengan alat yang sangat sederhana dan hasilnya dibagi untuk makan bersama.

Apabila binatang buruan sudah mulai jarang ditemukan, masyarakat pra aksara akan berpindah ke tempat yang masih banyak hewan buruan. Itulah mengapa manusia purba pada masa berburu hidup  dengan berpindah-pindah.

2. Masa Bercocok Tanam
Perkembangan kehidupan pada masa pra aksara telah meningkat dari berburu ke pertanian (bercocok tanam). Meski sudah mulai bercocok tanam, manusia pra aksara masih tetap melakukan berburu.

Bila pada masa berburu hasilnya dimakan semua, maka pada masa bercocok tanam sebagian hewan buruan mulai dipelihara dan diternak.

Mereka bercocok tanam dengan cara yang sangat sederhana, yakni dengan berhuma. Berhuma adalah membuat lahan pertanian dengan menebang pohon-pohon di hutan kemudian ditanam pohon penghasil makanan.

3. Masa Perundagian
Pada masa ini profesi masyarakatnya sudah memiliki banyak keterampilan, sehingga profesi sudah mulai beragam. Ada yang sebagai petani, tukang, pandai besi, dan lain-lain. Pada masa prundagian juga sudah menggunakan sistem ekonomi barter, yaitu tukar menukar barang dengan barang yang lain.

Pembagian zaman pra aksara berdasarkan Ilmu Geologi

1. Zaman Arkeozoikum
Merupakan zaman tertua dalam sejarah perkembangan bumi. Fase arkeozoikum diperkirakan berlangsung sejak 2500 juta tahun yang lalu dan belum ada tanda-tanda kehidupan di bumi karena suhunya masih sangat panas. Berakhirnya masa ini ditandai dengan turunnya suhu udara yang memungkinkan munculnya kehidupan.

2. Zaman Palaeozoikum
Disebut juga dengan zaman primer, yaitu masa pertama kali ada tanda-tanda kehidupan akibat penurunan suhu di bumi, meski hanya makhluk bersel satu (seperti bakteri) dan hewan sejenis amfibi. Masa ini berlangsung sejak 340 juta tahun yang lalu.

3. Zaman Mesozoikum
Zaman ini disebut juga dengan zaman sekunder yang berlangsung sejak 140 juta tahun yang lalu. Kehidupan pada masa sekunder mengalami perkembangan yang pesat, namun hanya berbagai binatang dan tumbuhan tertentu yang bermunculan.

4. Zaman Kaenozoikum
Diperkirakan zaman ini berlangsung sejak 60 juta tahun yang lalu dan populer dengan sebutan Masa Neozoikum. Pada masa neozoikum keadaan bumi sudah mulai stabil sehingga kehidupan sudah lebih beraneka ragam.

Masa kaenozoikum dibagi menjadi dua fase yaitu;
  • Zaman tersier yang ditandai dengan punahnya binatang jenis reptil raksasa (dinosaurus) secara bertahap dan hewan-hewan menyusui seperti monyet dan kera dapat berkembang dengan baik.
  • Zaman kuarter, yaitu masa yang berlangsung sejak 600.000 juta tahun yang lalu. Pada masa ini tanda-tanda kehidupan manusia telah ditemukan.

Zaman kuarter dibagi menjadi dua yaitu, Pleistosen dan Holosen. Untuk mempelajari zaman pra aksara secara lebih mendalam silahkan klik link di sini (tulisan berwarna biru).

Kehidupan serta kebudayaan manusia pada masa pra aksara di Nusantara pada awalnya merupakan kehidupan yang relatif sederhana. Zaman pra aksara dimulai sejak manusia ada di bumi dan berakhir setelah manusia mengenal aksara atau tulisan.

Masyarakat Indonesia pada masa pra aksara meninggalkan benda kebudayaan yang terbuat dari batu, tulang, logam, serta lukisan pada dinding gua, namun tidak meninggalkan jejak berbentuk tulisan.

Karena zaman pra aksara belum memiliki tradisi untuk mencatat suatu peristiwa, maka para peneliti hanya meneliti benda-benda peninggalan masa pra aksara untuk merekonstruksi kehidupan mereka. Dari penelitian tersebut ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai ciri-ciri  zaman pra aksara;
  • Cara mewariskan sejarah pada masa pra aksara menggunakan lisan.
  • Sistem kepercayaan manusia masa pra aksara adalah Animisme, Dinamisme, Totemisme.
  • Benda-benda yang ditinggalkan terbuat dari batu, tulang, dan logam.
  • Memiliki kemampuan dalam berburu, bertani, beternak, dan membuat peralatan sederhana.

Perjalanan menuju masa aksara di Indonesia terjadi pada zaman logam, yaitu masa di mana masyarakat Indonesia sudah membuat peralatan yang berbahan dari logam. Pembuatan peralatan dari logam lebih berkembang dan menghasilkan karya luar biasa ketika bangsa asing singgah di Indonesia.

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa pengaruh budaya India sangat terasa di Indonesia. Pedagang asing terutama dari India Selatan hampir dipastikan singgah di Indonesia. Kondisi tersebut membuat pribumi dan pedagang asing mengalami interaksi, sehingga kontak budaya tidak bisa dihindari.

Para pakar ahli memperkirakan bahwa masyarakat Indonesia mulai mengenal tulisan pada abad ke-5 Masehi. Pendapat ini berdasarkan pada 7 prasasti yupa Kerajaan Kediri yang ditemukan di Kediri, Jawa Timur.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah