-->

[ADS] Top Ads

5 Langkah Penelitian Sejarah Beserta Penjelasanya

Langkah-langkah penelitian sejarah merupakan metode atau cara untuk melakukan sebuah penelitian yang berkaitan dengan sejarah. Proses yang dilakukan dalam penelitian harus sistematis dan menggunakan metode yang sudah disepakati oleh para Para Ahli Sejarah.

Karya ilmiah selain menemukan hal yang baru, juga dapat menambah wawasan. Bagi peneliti, karya ilmiah sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman, wawasan, dan dapat menemukan hal baru. Bagi pembaca, dapat dijadikan rujukan dan bahan bacaan untuk menambah informasi.

Wawasan, pengalaman, dan informasi yang didapat dari penelitian sejarah cukup beragam mencakup topik-topik ekonomi, budaya, teknologi, religius, dan politik, tergantung subjek penelitiannya. Subjek penelitian adalah topik yang dibahas dalam suatu penelitian.

Menentukan topik (subjek) penelitian merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah. Setelah menetapkan topik yang akan diteliti, maka lanjut pada langkah berikutnya, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan yang terakhir tahap historiografi.

Penelitian sejarah adalah menyelidiki, mendalami, dan menggali secara sistematis terhadap suatu peristiwa sejarah untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman baru pada subjek penelitian. Lalu bagaimana cara melakukan penelitian sejarah?

5 Langkah-Langkah Penelitian Sejarah


5 Langkah Penelitian Sejarah

Ada lima langkah atau tahapan untuk melakukan penelitian sejarah yaitu 1) Menentukan Subjek Penelitian 2) Mengumpulkan data atau heuristik 3) Melakukan Kritik atau Verifikasi 4) Menafsirkan atau interpretasi 5) Tahap Penulisan. Berikut ini penjelasannya.

1. Menentukan Subjek Penelitian Sejarah


5 Langkah Penelitian Sejarah

Langkah awal dalam penelitian sejarah adalah menentukan topik  atau subjek yang akan diteliti. Tentukanlah topik permasalahan yang layak untuk diteliti dan belum pernah dibahas oleh Peneliti lain. Tanunasena M., (2009:78) berpendapat, topik yang diteliti harus layak untuk dijadikan penelitian dan bukan merupakan pengulangan atau duplikasi dari penelitian sebelumnya.

Sebelum menentukan topik penelitian, carilah informasi tentang keberadaan sumber penelitian (data). Jangan sampai memilih topik yang masih jarang atau bahkan tidak ada keberadaan sumber informasi yang dijadikan bahan penelitian.

Keberadaan sumber data sebagai bahan penelitian merupakan perkara yang sangat penting. Jika sumber data sangat jarang, maka akan menghambat proses pencarian data. Oleh sebab itu, selain memilih topik yang layak untuk diteliti, juga harus mempertimbangkan keberadaan sumber yang diteliti.

Berbeda dengan penelitian ilmu pengetahuan lainnya, penelitian sejarah sangat bergantung pada ketersediaan sumber. Jadi, topik yang diteliti harus merupakan hal yang baru dan diharapkan dapat memberikan informasi yang baru atau ditemukan suatu teori baru. (Tarunasena M., Departemen Pend., Kelas X, 2009: 78-79)

Point penting dalam menentukan topik penelitian antara lain:
  • Topik penelitian sejarah harus layak untuk diteliti. Kelayakan itu berdasarkan;
  • Bukan merupakan pengulangan dari penelitian sebelumnya.
  • Bukan merupakan duplikasi penelitian sebelumnya.
  • Topik penelitian sejarah juga harus mempertimbangkan ketersediaan sumber atau bahan penelitian.

Pemilihan topik pada penelitian sejarah sangat penting untuk dilakukan karena untuk memberi batasan (fokus) pada sebuah permasalahan. Bagaimana cara agar penelitian menjadi fokus?

Cara agar penelitian menjadi fokus terhadap sebuah permasalahan adalah dengan mengajukan lima pertanyaan yaitu;

a. What (apa?)
Artinya adalah, apa yang akan Anda diteliti?, apakah Anda meneliti sejarah dari aspek ekonomi, politik, budaya, atau sosial. Pernyataan tentang apa, lebih melihat pada aspek-aspek yang akan kita teliti.

Misalnya kita ingin meneliti sebuah desa, maka harus menentukan aspek sejarah apa yang akan diteliti. Beberapa aspek sejarah dapat dikelompokkan berdasarkan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan aspek-aspek lainnya.

Jangan sampai penelitian sejarah yang anda lakukan, antara sejarah ekonomi tercampur dengan sejarah sosial atau anda meneliti sejarah politik di suatu desa namun malah melebar ke sejarah sosial. Jadi harus fokus salah satu di antara beberapa aspek sejarah.

b. Who (siapa?)
Setelah menentukan sejarah apa yang akan diteliti, maka harus menetapkan siapa saja yang berkaitan dengan aspek tersebut. Misalnya, anda meneliti sejarah ekonomi di sebuah desa, maka harus menetapkan siapa saja yang berkaitan dengan aspek tersebut.

Pada umumnya orang-orang yang terkait dengan sejarah ekonomi adalah tokoh masyarakat yang bergerak dalam bidang ekonomi, pelaku ekonomi seperti petani, pedagang, pengrajin dan lain-lain. Dari beberapa kelompok masyarakat tersebut akan didapat informasi berapa jumlah produksinya, hasil yang didapat berapa, dan bagaimana cara mereka bekerja.

c. Where (di mana?)
Pertanyaan yang selanjutnya adalah di mana penelitiannya? Tempat penelitian sejarah yang ditentukan akan menjadikan penelitian yang sedang dilakukan menjadi fokus pada wilayah tertentu.

d. When (kapan?)
Yaitu, kapan peristiwa sejarah yang akan diteliti terjadi? Dengan pertanyaan ini, sebuah penelitian akan fokus pada batas waktu tertentu karena waktu merupakan salah satu perkara yang amat penting dalam penelitian sejarah. Misalnya meneliti tentang perubahan sosial pada sebuah desa di tahun 1995-1997.

Penetapan angka tahun harus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang bersifat akademis, misalnya pada tahun 1995 merupakan awal perubahan sosial sampai dengan tahun 1997 karena menurunnya perubahan-perubahan penting. Perubahan tersebut bukan hanya pada konteks sosial namun juga bisa dalam konteks ekonomi, politik, dan konteks lainnya.

e. Why (mengapa?)
Pertanyaan ini berhubungan dengan sebab akibat. Contohnya pada topik penelitian tentang Perubahan Sosial di Desa Kali Jodo pada Tahun 1995-1997. Maka akan timbul pertanyaan mengapa pada tahun tersebut terjadi perubahan sosial.

2. Mengumpulkan Data dari Berbagai Sumber (Heuristik)


5 Langkah Penelitian Sejarah

Setelah menentukan topik penelitian sejarah, langkah yang kedua adalah heuristik yaitu, mengumpulkan data yang diperlukan untuk penelitian. Data yang diperlukan merupakan data yang berkaitan dengan topik penelitian. Data bisa dicari dari berbagai sumber, baik sumber primer atau sekunder.

Sumber primer adalah sumber pokok atau sumber yang berkaitan langsung dengan subjek/topik penelitian. Sedangkan sumber sekunder adalah sumber yang mendukung sumber primer atau sumber yang tidak berkaitan secara langsung. Misalnya, buku karya ilmiah dan surat kabar.

Secara umum sumber sejarah terdiri dari tiga jenis yaitu;

a. Sumber lisan
Yaitu sember sejarah yang berasal dari lisan seseorang, berupa kisah yang diungkapkan langsung melalui lisan. Sumber lisan didapatkan dari pelaku sejarah atau saksi mata.

b. Sumber teks atau tulisan
Sumber tulisan merupakan sumber yang berbentuk tulisan, seperti tulisan pada kitab kuno dan prasasti. Sumber yang berbentuk tulisan ini biasa disebut dengan sumber dokumen.

c. Sumber visual
Adalah benda-benda peninggalan sejarah yang berkaitan langsung dengan peristiwa sejarah. Seperti candi-candi, peninggalan berupa ketaton, atau benda pusaka seperti keris, kapak, dan lain sebagainya.

Dalam penelitian ada metode untuk mengumpulkan data, diantaranya;

a. Metode Wawancara
Wawancara adalah proses komunikasi dengan seseorang yang menjadi sumber sejarah. Dengan bertanya kepada orang yang mengalami dan menyaksikan suatu peristiwa sejarah, akan memperoleh informasi yang berkaitan dengan penelitian.

b. Metode Dokumentasi
Yaitu mencari sumber sejarah yang pada umumnya berbentuk teks. Teks tersebut juga harus berkaitan dengan penelitian sejarah. Dengan mencari dokumen yang berkaitan dengan topik sejarah, akan memperoleh data di dalamnya.

c. Metode Observasi
Observasi adalah sebuah kegiatan untuk mengamati suatu objek tertentu. Jika berkaitan dengan penelitian sejarah, maka yang diobservasi adalah benda peninggalan masa lampau. Dari benda peninggalan sejarah, kita dapat mengamatinya dan mendapat informasi dari benda tersebut.

3. Melakukan Kritik (Verifikasi)


5 Langkah Penelitian Sejarah

Langkah yang ketiga adalah verifikasi atau kritik terhadap data yang telah didapatkan. Setelah proses pengumpulan data dirasa sudah cukup, maka proses selanjutnya adalah verifikasi data. Verifikasi data adalah menguji dan menilai kebenaran sumber sejarah.

Menurut Marwan (2009: 56) verifikasi adalah kegiatan mempelajari data yang telah direduksi dan disajikan pada langkah-langkah sebelumnya, dan dengan pertimbangan terus menerus sesuai dengan perkembangan adat dan fenomena yang ada di lapangan, pada akhirnya menghasilkan kesimpulan untuk mengambil sesuatu keputusan.

Kritik sumber merupakan kegiatan peneliti untuk mencari kebenaran. Untuk membuktikan suatu kebenaran, maka harus berdasar pada sumber sejarah. Dalam penelitian sejarah terdapat dua cara untuk mengkritik sumber sejarah, yaitu;

a. Kritik Ekstern
Kritik ekstern adalah kritik yang mempersoalkan apakah sumber yang dikumpulkan adalah sumber asli atau palsu. Ketika peneliti menguji keaslian sumber sejarah, maka berkaitan dengan bahan pembuatan, tinta yang dipakai, serta bentuk sumber sejarah.

Dalam kritik ekstern terdapat tiga pertanyaan yang bisa digunakan terkait dengan sumber sejarah, yaitu;
  • Apakah sumber itu merupakan sumber yang dikehendaki? (auntentitas).
  • Apakah sumber itu asli, turunan, tiruan, atau palsu? (orisinalitas)
  • Apakah sumber itu masih utuh atau sudah dirubah? (soal integritas)

b. Kritik Intern
Kritik intern adalah kritik terhadap isi atau informasi yang ada pada sumber sejarah seperti prasasti, kitab kuno, dokumen, dll. Kritik intern dilakukan untuk membuktikan bahwa informasi yang terkandung di dalam sumber sejarah dapat dipercaya dengan menilai intrinsik terhadap sumber dan dengan membandingkan kesaksian-kesaksian berbagai sumber.

Kritik intern merupakan kritik yang dilakukan setelah kritik ekstern berhasil dilaksanakan. Sedangkan penilaian intrinsik terdapat dua langkah. Langkah yang pertama adalah menentukan sifat sumber sejarah (apakah sumber sejarah itu bersifat formal atau non formal, resmi atau tidak resmi).

Dalam penelitian sejarah, sumber tidak resmi dinilai lebih berharga dari pada sumber resmi, sebab sumber tidak resmi bukan dimaksudkan untuk dibaca orang banyak (untuk kalangan bebas) sehingga isinya bersifat apa adanya, terus terang, tidak banyak yang disembunyikan, dan objektif.

Langkah kedua adalah menyoroti penulis sumber tersebut, karena sang penulis sumber adalah orang yang memberikan informasi yang dibutuhkan.

Pembuatan sumber harus dipastikan bahwa kesaksiannya dapat dipercaya. Untuk itu, harus mampu memberikan kesaksian yang benar dan harus dapat menjelaskan mengapa ia menutupi (merahasiakan) suatu peristiwa, atau sebaliknya melebih-lebihkan karena ia berkepentingan di dalamnya. (Wardaya, 2009: 44)

4. Tahap Interpretasi (Menafsirkan)


5 Langkah Penelitian Sejarah

Langkah penelitian sejarah yang keempat adalah menafsirkan data yang sudah melalui proses verifikasi(interpretasi). Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkainya menjadi suatu kesatuan yang harmonis dan masuk akal.

Interpretasi dalam sejarah dapat juga diartikan sebagai penafsiran suatu peristiwa atau memberikan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa (Tarunasena M., 2009: 45). Tarunasena (2009: 45) juga menyebutkan bahwa, interpretasi dalam sejarah adalah penafsiran terhadap suatu peristiwa, fakta sejarah, dan merangkai suatu fakta dalam kesatuan yang masuk akal.

Ada beberapa syarat dalam menafsirkan suatu penelitian
  • Peneliti harus melakukan analisis yang sesuai dengan fokus penelitian.
  • Penafsiran harus bersifat logis.
  • Harus menghindari subjektifitas (penafsiran yang semena-mena).
  • Dalam proses interpretasi sejarah, seorang peneliti harus berusaha mencapai pengertian faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa.
  • Di kalangan akademisi, agar menghasilkan fakta yang objektif, harus menghindari penafsiran yang semena-mena, karena penafsiran yang semena-mena biasanya cenderung bersifat subjektif.
  • Interpretasi harus bersifat deskriptif sehingga para akademisi juga dituntut untuk mencari landasan interpretasi yang mereka gunakan.
  • Proses interpretasi harus bersifat selektif sebab tidak mungkin semua fakta dimasukkan ke dalam cerita sejarah, sehingga harus dipilih yang relevan dengan topik yang ada dan mendukung kebenaran sejarah.
Sumber:(Wardaya, Cakrawala Sejarah SMA Kelas X, 2009: 46)

5. Tahap Terakhir yaitu, Penulisan Sejarah (Historiografi)


5 Langkah Penelitian Sejarah

Langkah yang terakhir dalam penelitian sejarah adalah historiografi, yakni menulis laporan hasil penelitian yang telah dilakukan (Dwi Ari Listiani, 2009: 54). Penulisan sejarah hendaknya memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian dari fase awal hingga akhir (kesimpulan). Penulisan karya ilmiah atau dalam hal ini adalah penelitian sejarah biasanya terdiri dari tiga bagian yaitu; pendahuluan, pembahasan, dan penutup.

Itulah penjelasan langkah-langkah penelitian sejarah yang harus dilakukan oleh peneliti. Semoga dapat membantu Anda dalam penulisan karya ilmiah khususnya pada penelitian sejarah. Apabila ada penjelasan yang belum dipahami silakan beritahu Admin di kolom komentar. Sekian dan terima kasih.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah