-->

[ADS] Top Ads

3 Jenis Tenaga Eksogen (Pelapukan, Erosi, dan Sedimentasi)

Jenis tenaga eksogen-Eksogen merupakan tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi yang mengakibatkan perubahan bentuk muka bumi. Tenaga eksogen bersifat merusak bentuk permukaan bumi yang sebelumnya telah dibangun oleh tenaga endogen. Contohnya batu yang lapuk akibat perubahan suhu secara terus-menerus akan membuat batu menjadi rapuh dan hancur.

Tidak seperti tenaga endogen, proses perubahan yang dilakukan oleh tenaga eksogen berlangsung secara bertahap dan membutuhkan waktu yang panjang. Proses perubahan permukaan bumi yang disebabkan oleh tenaga eksogen akan dibahas dalam artikel ini berdasarkan penyebabnya.

jenis tenaga eksogen

Jenis-Jenis Tenaga Eksogen

Secara umum sumber tenaga eksogen ada tiga yaitu, atmosfer (perubahan suhu dan angin), air yang bergerak, dan organisme seperti, manusia, hewan, tumbuhan. Merekalah kekuatan yang dapat merubah permukaan bumi menjadi bentuk yang berbeda. Terutama manusia yang menggali secara besar-besaran di kawasan pertambangan untuk mendapatkan sumber daya alam.

4 Jenis tenaga eksogen dapat anda pahami dalam keterangan berikut ini.

1. Pelapukan

jenis tenaga eksogen
Contoh Pelapukan
Berasal dari kata lapuk, yaitu batu yang hancur dari bentuk gumpalan menjadi butiran kecil bahkan larut dalam air. Proses pelapukan terjadi akibat perubahan suhu secara terus-menerus karena panas sinar matahari dan dingin pada malam hari. Ketika batu mengalami perubahan suhu secara mendadak dan terus-menerus, maka lambat-laun akan menjadi lapuk.

Menurut proses terjadinya pelapukan dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu;

Pelapukan Mekanis
Disebut juga dengan pelapukan fisik, merupakan proses hancurnya material seperti batu secara perlahan menjadi bentuk yang lebih kecil tanpa merubah komponen atau susunan kimia material tersebut. Adapun faktor yang mempengaruhi terjadinya pelapukan mekanis antara lain;
  • suhu yang berubah-ubah
  • pembekuan air yang masuk melalui celah-celah material
  • pengkristalan air yang masuk melalui celah-celah material.

Suhu yang berubah secara terus-menerus akan membuat material seperti batu menjadi lapuk tanpa merubah susunan kimia pada material batu tersebut. Dalam pelajaran fisika, terdapat istilah "memuai dan menyusut".

Batu yang terkena panas sinar matahari akan memuai atau mengembang, sedangkan suhu dingin pada malam hari akan membuat batu menyusut. Proses tersebut akan terjadi secara berulang-ulang hingga menyebabkan batu menjadi lapuk dan rapuh, sehingga mudah hancur secara perlahan.

Air yang masuk ke dalam material (batu) melalui celah kecil lalu membeku juga menyebabkannya lapuk. Pelapukan ini bisa terjadi di daerah yang memiliki musim salju. Awalnya air masuk melalui celah-celah yang terdapat pada batu, kemudian hawa dingin pada musim salju akan membuat air di dalamnya menjadi membeku.

Kejadian itu akan membuat batu menjadi rapuh dan hancur secara perlahan karena celah batu akan menjadi lebih lebar. Begitu pula air laut yang mengkristal menjadi garam akan menyebabkan pelapukan.

Dari keterangan tersebut, contoh pelapukan antara lain, batu yang lapuk karena perubahan suhu, batu lapuk akibat air yang masuk melalui celah batu lalu membeku atau mengkristal.

Pelapukan Kimiawi
Merupakan proses pelapukan material karena terdapat unsur kimiawi. Misalnya, batu yang keras akan menjadi lapuk sebab ditumbuhi lumut. Sekilas tidak mungkin tumbuhan yang memiliki akar lembut membuat lapuk batuan, tetapi karena ada unsur kimia yang bereaksi, maka batu yang keras sekalipun lama-lama akan lapuk dan rapuh.

Pelapukan kimia dapat dilogikakan seperti besi yang sering terkena air hujan. Besi tersebut lama-lama menjadi berkarat karena terdapat proses kimia yang ditimbulkan air hujan. Begitu pula dengan akar tumbuhan yang membuat batu menjadi lapuk. Karena tumbuhan tertentu akarnya memiliki unsur kimia yang dapat membuat lapuk bebatuan.

Pelapukan Biologis
Atau disebut juga pelapukan organis, yaitu lapuknya material karena adanya campur tangan suatu organisme. Sebagian besar organisme yang menyumbang terjadinya pelapukan adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan organisme yang sangat kecil seperti bakteri.

Contoh pelapukan biologis adalah pohon besar yang tumbuh di atas bebatuan maka akarnya lama-lama akan menembus batuan tersebut. Ini sering kita jumpai di sekitar pegunungan yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan di gua-gua.

Pelapukan jenis ini mencakup pelapukan fisik dan kimia. Hanya saja pelapukan fisik sering dilakukan oleh organisme besar seperti manusia, hewan, dan tumbuhan yang mempunyai akar kuat. Contohnya penggalian di wilayah pertambangan yang merubah bentuk permukaan bumi.

Sedangkan pelapukan biologis sering dilakukan oleh organisme kecil seperti bakteri dan tumbuhan kecil. Contoh yang sering kita jumpai adalah batu yang lapuk akibat ditumbuhi lumut.

2. Erosi (Pengikisan)

jenis tenaga eksogen
Erosi
Material padat seperti batu dan tanah akan terkikis dan dipindahkan oleh tenaga eksogen seperti air dan angin. Sebenarnya proses pengikisan sering terjadi di sekitar kita tetapi jarang disadari. Contohnya terkikisnya batu yang berada di jalur aliran air sungai. Erosi terjadi akibat beberapa faktor.

Sebab-sebab erosi adalah antara lain;
  • Air yang mengalir dan terhempas
  • Angin yang bertiup kencang.
  • Gletser/es

Berdasarkan sebabnya, erosi dibagi menjadi beberapa jenis yaitu;

Erosi Air
Merupakan pengikisan benda padat yang disebabkan oleh air, baik air yang mengalir atau air yang bergelombang (ombak). Erosi yang disebabkan oleh air mengalir disebut alasi, sedangkan erosi yang disebabkan oleh gelombang laut disebut abrasi.

Alasi banyak terjadi di tempat-tempat yang menjadi jalur aliran air, seperti di sungai dan parit-parit. Semakin besar aliran sungai, maka proses erosi semakin cepat, sebaliknya jika aliran sungai kecil dan lambat maka erosi juga akan lambat. Begitu pula dengan abrasi, semakin besar gelombang laut, maka proses pengikisan juga menjadi cepat.

Proses alasi dapat terjadi pada batu yang berada di jalur aliran sungai. Batu-batu yang berada di jalur sungai akan bergesekan dengan air secara terus-menerus sehingga terjadilah pengikisan.

Abrasi sering terjadi di daerah pantai. Gelombang air laut menerpa batu-batu yang ada di bibir pantai secara terus-menerus. Akibatnya batu yang terhempas gelombang berangsur-angsur akan mengalami pengikisan. Buktinya, batu-batu yang berada di bibir pantai banyak yang berlubang dan membentuk bentuk yang unik.

Erosi Angin
Yaitu proses pengikisan material padat yang disebabkan oleh angin yang berhembus kencang. Erosi jenis ini biasanya terjadi di daerah gurun atau tempat yang memiliki tekanan angin kencang. Di daerah pegunungan yang terdapat tebing-tebing yang terjal hembusan angin begitu kuat, akibatnya dinding tebing akan terkikis oleh angin.

Erosi angin terbagi menjadi dua jenis yaitu, deflasi dan korosi. Deflasi ialah erosi yang disebabkan oleh tiupan angin tanpa melibatkan partikel lain di dalamnya, Korosi, prinsipnya sama dengan deflasi, namun melibatkan partikel seperti pasir.

Korosi banyak terjadi di daerah gurun pasir. Angin yang kencang membawa pasir terbang dan menghempas batu-batu di sekitarnya. Proses ini terjadi berulang-ulang hingga batu-batu menjadi terkikis karena gesekan pasir yang menghempas batu tersebut.

Sekilas memang tidak masuk akal, masa sih pasir bisa terbang gara-gara hembusan angin? Tetapi apabila kita ingat bahwa ada yang namanya badai pasir, maka semuanya menjadi masuk akal. Sebab angin yang berada di gurun cukup kuat untuk membawa pasir terbang dan menghempas batu-batu di sekitarnya.

Erosi Gletser (Eksasari)
Gletser merupakan bongkahan es dalam jumlah besar yang terbentuk di atas permukaan tanah. Es tersebut terjadi karena suhu dingin yang ekstrim dan dalam waktu yang lama. Karena suhu dingin yang ekstrim, salju yang turun di permukaan tanah tidak mencair dan menumpuk, sehingga lama-lama menjadi bongkahan es.

Eksasari terjadi akibat mencairnya sebagian bongkahan es yang membuat sebagian es terlepas dari induk bongkahan. Es yang terpisan akan longsong ke bawah menuruni lereng gunug, sehingga batu yang dilewatinya akan terkikis. Jika hal ini terjadi berulang-ulang, maka jalur yang dilalui akan berubah karena erosi dan terbentuklah permukaan bumi yang baru.

Erosi gletser merupakan pengikisan material seperti batu dan tanah, yang diakibatkan oleh gumpalan es yang longsor dari atas ke bawah. Erosi jenis ini banyak terjadi di Kutub Utara, bahkan akhir-akhir ini es yang berada di Kutub Utara sudah banyak yang mencair, sehingga aktivitas erosi semakin sering terjadi.

3. Sedimentasi (Pengendapan)

jenis tenaga eksogen
Contoh Sedimentasi
Ialah proses pengendapan partikel-partikel kecil hasil erosi yang disebabkan oleh air, angin, dan gletser. Partikel hasil erosi akan diangkut dan dibawa ke tempat yang lebih rendah, sehingga akan membentuk sesuatu yang baru.

Berdasarkan sebabnya, sedimentasi dibagi menjadi tiga macam yaitu;

Sedimentasi Air
Butiran-butiran hasil erosi terbawa air mengalir dan mengendap di tempat yang lebih rendah seperti di muara sungai, waduk, dasar laut, dan danau. Endapan butiran batu tersebut akan menumpuk sehingga membentuk sesuatu yang baru seperti delta.

Delta adalah daratan di muara sungai yang terbentuk akibat endapan hasil erosi. Awalnya endapan itu akan membuat muara sungai menjadi dangkal, namun karena proses pengendapan terjadi secara terus menerus, maka terbentuklan sebuah dataran yang disebut Delta.

Sedimentasi Angin
Hembusan angin kencang bukan hanya mengikis batu yang dihempasnya, namun hasil erosinya juga akan dibawa oleh angin dan mengendap di titik tertentu. Proses pengendapan inilah yang disebut sedimentasi angin. Hasil sedimentasi angin ini menghasilkan tanah loss dan dapat dilihat di kawasan gurun pasir.

Sedimentasi Gletser
Gletser yang meluncur bukan hanya mengikis batu dan tanah yang dilaluinya, namun ia juga membawa hasil erosi dan berhenti di lembah gunung. Tumpukan hasil erosi akan mengendap dan akan bertambah sehingga terbentuklah gundukan yang disebut morain.

Perubahan yang disebabkan oleh tenaga eksogen melalui beberapa proses dan memerlukan waktu yang cukup panjang. Seperti erosi dan pelapukan pada material padat tidak berjalan dengan cepat. Namun diperlukan waktu yang cukup lama agar batu dapat lapuk dan terkikis.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah