-->

[ADS] Top Ads

Ali bin Abi Thalib: Biografi Singkat Dari Lahir Hingga Wafat

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib (dalam tulisan Arab = علي بن أﺑﻲ طالب) adalah khalifah ke empat setelah Utsman bin Affan dan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW yang menyandang gelar Khulafaur Raysidin. Lahir pada 15 September 601 atau 13 Rajab tahun 21 Sebelum Hijriah. Ia merupakan sepupu Nabi serta menjadi menantunya setelah menikahi salah satu putri Nabi yang bernama Fatimah az-Zahra. Memeluk agama Islam pada masa awal dakwah Rasul Muhammad SAW, membuatnya termasuk golongan pemeluk Islam awal.

Julukan Ali bin Abi Thalib adalah Abu Hasan, Abu Husain, Abu Aimah, Abu Sibthain, Abu Raihanatain, dan Abu Turab. Di antara beberapa nama julukan tersebut, Ali paling menyukai Abu Turab sebagai julukannya, karena Nabi Muhammad SAW sendiri yang memberikan julukan tersebut. Turab artinya debu. Ketika Nabi mencari menantunya Ali, ternyata ia sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu menempel di punggung Ali. Kemudian Nabi duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, "duduklah Abu Turab".

Nama lengkap Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab. Ayah Ali bernama Abu Thalib, salah satu paman Nabi yang berjasa mengasuh Muhammad SAW dari kecil hingga dewasa, ketika Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Pada masa Nabi Muhammad SAW, Ali mengikuti semua peperangan melawan kafir Quraisy, kecuali Perang Tabuk.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada tahun 656 setelah Khalifah Utsman wafat dan berakhir pada tahun 661. Ia berkuasa selama 4 tahun, 223 hari dari 20 Juni 656 hingga 29 Januari 661. Masa kekuasaan Ali merupakan salah satu periode tersulit dalam sejarah Islam, karena pada saat itu telah terjadi perang saudara yang pertama dalam tubuh umat Islam yang mengakibatkan pembunuhan khalifah ke tiga Utsman bin Affan.

Biografi Ali bin Abi Thalib

Biografi Singkat Ali bin Abi Thalib

Nama Panggilan: Ali
Nama Asli: Asad bin Abu Thalib
Nama Lengkap: Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab
Julukan: Abu Hasan, Abu Husain, Abu Aimah, Abu Shibthain, Abu Rahainatain, dan Abu Turab.
Gelar: Khulafaur Rasyidin
Lahir: 15 September, 601 (13 Rajab, 21 Sebelum Hijriah) di sekitar Ka'bah, Mekkah
Wafat: 29 Januari 661 (21 Ramadhan, 40 H) di Kuffah pada usia 59 tahun
Pemakaman: Sekitar Masjid Imam Ali
Suku: Quraisy dari golongan Bani Hasyim
Berkuasa: 20 Juli 656 sampai 29 Januari 661 (4 tahun, 223 hari)
Ayah: Abu Thalib
Ibu: Fatimah binti Asad
Pasangan: Fathimah binti Muhammad, Umamah binti Sainab, Fathimah binti Hizam, Laila binti Mas'ud, Asma binti 'Umaiys, Khaulah binti Ja'far, dan as-Sahba' binti Rabi'ah
Anak: Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, Muhsin, Muhammad, 'Abbas, Abdullah, Hilal

Baca Juga: Khulafaur Rasyidin: Sejarah Singkat Masa Kepemimpinan Setelah Nabi Muhammad SAW

Riwayat Hidup di Masa Nabi

Ali bin Abi Thalib lahir pada 15 September 601 M  (13 Rajab tahun 21 Sebelum Hijriah) di sekitar Mekkah. Ayah Ali bernama Abu Thalib, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Asad. Abu Thalib merupakan paman Nabi Muhammad SAW yang mengasuh beliau ketika masih kecil dan ikut melindungi Nabi ketika ditekan oleh Kafir Mekkah. Jadi Ali bin Abi Thalib adalah anak paman Nabi. Walaupun Abu Thalib tidak menyatakan Imannya ke pada Nabi, akan tetapi dalam hatinya mempercayai dan meyakini bahwa ajaran Nabi itu benar.

Masa Kecil Hingga Remaja

Ali dari lahir diberi nama Assad bin Abu Thalib. Assad artinya adalah macan, yang berarti dari pihak keluarga ingin bahwa kelak Ali menjadi sosok yang pemberani, tangguh dan disegani oleh masyarakat. Namun, Abu Thalib yang baru mengetahui bahwa anaknya diberi nama Assad, ayahnya memanggil dengan nama Ali, yang berarti luhur derajatnya.

Masa kecil Ali bin Abi Thalib telah banyak dihabiskan bersama Nabi dan Isrinya Khadijah. Karena keluarga Ali sangat sibuk, maka hal tersebut memberi kesempatan Nabi dan Khadijah untuk mengasuhnya. Ali bin Abi Thalib diasuh oleh Nabi saat berusia enam tahun.

Kehadiran Ali di tengah-tengah keluarga Nabi menjadi kebahagiaan tersendiri, bahkan ia dianggap sebagai anak oleh Nabi. Bergabungnya Ali dalam keluarga Nabi juga memberikan kesempatan untuk membalas budi kepada pamannya, karena Nabi juga pernah diasuh oleh Ayahnya Ali.

Maka akan menjadi masuk akal, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda "Aku (Nabi) adalah kotanya ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya", karena sejak kecil hingga remaja Ali sudah bersama Nabi. Ditambah lagi ia telah menjadi menantu Nabi ketika telah menikah dengan salah satu putrinya yang bernama Fatimah binti Muhammad. Maka Ali lebih banyak memiliki kesempatan untuk selalu dekat dengan Nabi dan menerima pelajaran-pelajaran lebih dari sahabat-sahabat lainnya.

Pada usianya yang remaja, Nabi Muhammad SAW telah menerima wahyu, Ibnu Ishaq berpendapat bahwa, Ali adalah laki-laki yang pertama kali mempercayai wahyu tersebut atau bisa dikatakan bahwa Ali adalah orang kedua yang percaya setelah Khadijah, istri Nabi. Diceritakan bahwa, pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Masa remaja Ali bin Abi Thalib, setelah Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul, ia banyak belajar langsung dari Nabi, karena sebagai anak asuh ia berkesempatan untuk selalu dekat dengan Beliau. Didikan langsung dari Nabi dalam semua aspek, menjadikan Ali sebagai pemuda yang sangat cerdas, berani, dan bijak.

Baca Juga: Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah

Berjuang Membantu Nabi Untuk Hijrah Ke Madinah

Setelah beberapa lama masuk Islam, perintah untuk hijrah ke Madinah pun turun. Kaum Muslimin kemudian berbondong-bondong hijrah ke Madinah dan dibagi menjadi tiga ronde. Sebagian besar para sahabat Nabi akhirnya sudah hijrah dan kini tinggal Nabi Muhammad dan beberapa sahabat yang masih di Mekkah, termasuk Ali bin Abi Thalib.

Hal ini dilakukan karena jika Nabi berangkat ke Madinah bersama dengan kaum Muslimin yang lainnya, maka kaum kafir Quraisy akan menghalangi kaum Muslim lainnya. Oleh sebab itu, selain menunggu perintah dari Allah SWT, Nabi tetap tinggal di Mekkah agar kaum Muslimin tidak dihalang-halangi oleh pembesar Quraisy untuk hijrah ke Madinah.

Kini hanya Nabi, Abu Bakar ash-Shidiq, dan Ali bin Abi Thalib yang berada di Mekkah. Perintah untuk segara hijrah ke Madinah khusus bagi Nabi Muhammad akhirnya turun.

Ali saat itu masih menemani Nabi di kediamannya, sementara itu Abu Bakar berada di rumahnya sendiri. Setelah malam tiba, Nabi menuju rumah Abu Bakar secara diam-diam agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy, karena rumahnya sedang dikepung.

Ali yang malam itu menemani Nabi tetap berada di kediaman Nabi dan tidur di dalam kamarnya. Hal ini dilakukan untuk mengecoh orang-orang yang sedang mengepung rumah Nabi Muhammad. Maka ketika para kaum Quraisy mengintip ke dalam kamar Nabi, ia masih melihat bahwa Nabi masih tidur di dalam rumahnya, padahal yang mereka lihat adalah Ali bin Abi Thalib.

Seolah-olah Nabi mengorbankan Ali demi keselamatannya sendiri, akan tetapi sebenarnya Ali yang menawarkan diri untuk melindungi Nabi dengan cara seperti itu. Ia rela mengorbankan jiwanya demi Nabi Muhammad karena cintanya yang amat luar biasa.

Menjelang pagi orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Ali yang sedang tidur di dalam rumah Nabi. Mereka terkecoh, karena selama ini mereka mengira bahwa Nabi yang sedang tidur di dalam rumah. Padahal Nabi sudah berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar dan bersembunyi di Gua Tsur untuk sementara waktu.

Itulah mengapa Ali menjadi salah satu sahabat utama Nabi, karena ia rela mengorbankan jiwanya demi tegaknya Islam. Iman yang kuat dan saking cintanya terhadap Nabi, membuat Ai rela mengorbankan jiwa tanpa rasa takut. Sejarah tersebut merupakan salah satu peristiwa yang amat penting, karena dapat dijadikan suri tauladan yang baik bagi kaum Muslimin.

Baca Juga: Fathul Mekkah dan Faktor Kemenangan Pembebasan Kota Mekkah

Menetap di Madinah

Setelah hijrah ke Madinah Ali bin Abi Thalib berjuang bersama Nabi Muhammad SAW dan sahabat yang lainnya untuk menegakkan Agama Islam. Selanjutnya, ia menikah dengan salah satu putri Nabi yang bernama Fatimah az-Zahra. Tertulis dalam sejarah, bahwa Ali tidak menikah dengan wanita lain ketika Fatimah masih hidup. Sebagian besar peperangan melawan orang-orang yang memusuhi Nabi telah juga telah ia ikuti.

Peperangan yang telah diikuti Ali bin Abi Thalib antara lain, Perang Badar, Perang Khandak, dan Perang Khaibar.

Beberapa saat setelah menikah dengan salah satu putri Nabi terjadilah perang yang pertama dalam sejarah Islam yaitu, Perang Badar. Selain Hamzah (paman Nabi), Ali juga menjadi pahlawan, karena banyak Quraisy Mekkah yang tumbang oleh Ali. Dalam Perang Khandaq Ali juga telah menjadi sosok yang pemberani. Ia dapat menewaskan Amar bi Abdi Wud dalam satu tebasan.

Perjanjian Hudaibyah yang telah disepakati oleh Kaum Muslimin dan Kaum Yahudi telah dikhianati oleh orang-orang Yahudi, maka terjadilah Perang Khaibar. Kaum Yahudi yang bertahan di dalam Benteng Khaibar yang sangat kokoh. Para sahabat kesulitan untuk menembus benteng tersebut. Namun, Ali bin Abi Thalib dengan gagah berani mampu merangsak dan menembus benteng tersebut, serta dapat membunuh pasukan Yahudi yang dikenal pemberani dalam sekali tebas.

Sekian lama Ali berjuang bersama Nabi, tentu banyak sekali waktu yang telah ia lewatkan bersama Nabi Muhammad SAW. Apa lagi selain menjadi sepupu Nabi, ia juga menjadi menantunya. Hingga pada suatu hari Nabi Muhammad SAW wafat.

Khalifah Ali bin Abi Thalib

Menjadi Khalifah

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada tanggal 20 Juni 656 sampai 29 Januari 661 kurang lebih selama 4 tahun 223 hari. Menjelang pengangkatan Ali menjadi khalifah, situasi politik sangat genting karena terbunuhnya khalifah sebelumnya, yaitu Utsman bin Affan. Dalam kekacauan tersebut, Abn Harb memegang kendali terhadap keamanan di Madinah sampai terpilihnya khalifah yang baru.

Setelah terbunuhnya Utman, maka segeralah kaum Muslimin meminta Ali untuk menggantikan khalifah sebelumnya. Mereka beranggapan, bahwa tidak ada orang yang patut untuk menjadi khalifah kecuali Ali.

Beliau sempat menolak untuk menjadi khalifah, namun akhirnya ia menerima tanggungjawab tersebut. Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah dengan cara tidak seperti khalifah Abu Bakar dan Umar, sebab hanya orang-orang yang pro terhadap Ali saja yang melakukan bai'at. Ali diangkat menjadi khalifah pada hari Jumat, 13 Zulhijjah tahun 35 Hijriah.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah yang ke empat setelah Utsman bin Affan. tindakan Ali setelah resmi diangkat menjadi khalifah adalah memecat semua gubernur yang telah diangkat oleh khalifah Utsman dan mengangkat pejabat-pejabat baru. Lahan pertanian yang telah dibagikan pada masa Utsman ditarik kembali. Ia juga menerapkan pengawasan yang sangat ketat terhadap para pejabat agar tidak terjadi penyelewengan.

Akan tetapi kebijakan atas pemecatan dan pengangkatan para pejabat menimbulkan pro dan kontra di kalangan rakyat. Ada yang menolak dan ada yang menerima serta ada pula yang netral. Pada masa pemerintahan Ali juga telah berhasil melakukan perluasan wilayah setelah pemberontakan di Kabu dan Sistan ditumpas. Mendirikan benteng-benteng yang kuat di daerah utara perbatasan Paris juga telah berhasil dibangun.

Dalam pengendalian uang beliau mengikuti prinsip-prinsip yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar. Harta yang diambil dari rakyat termasuk pajak dikembalikan ke rakyat dan untuk keperluan rakyat. Sikap jujur dan adil yang telah diterapkan oleh Ali ternyata malah menimbulkan amarah bagi sebagian orang dan kemudian membuat berpihak kepada Muawiyyah.

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib kebijakan-kebijakan untuk memulihkan kestabilan politik dan situasi umat Islam tidaklah mudah, mengingat Muawiyah dan Thalhah menuntut agar kasus pembunuhan terhadap Utsman untuk segera diusut dan diselesaikan.

Akan tetapi tuntutan tersebut belum sempat untuk diselesaikan karena beberapa hal. Pertama, karena situasi yang tidak menguntungkan yaitu kondisi umat Islam yang sedang kacau dan tidak stabil. Hal ini membuat Ali harus mengembalikan kondisi panasnya politik menjadi stabil kembali. Kedua, Menghukum para pembunuh Utsman tidak lah mudah, mengingat bahwa orang yang membunuhnya tidak hanya satu orang saja.

Perang Jamal pun tidak dapat dihindari karena pihak Thalhah dan sekutunya sulit untuk diajak damai, sehingga membuat Thalhah dan Zuabair terbunuh, sedangkan Aisyah (istri Nabi) dikembalikan ke Madinah.

Muawiyah yang telah dipecat dari jabatannya tidak terima akan hal itu. Akibatnya terjadilah Perang Siffin antara pihak Ali dan Muawiyah. Ali sebenarnya tidak menginginkan terjadinya perang, namun Muawiyah sulit untuk diajak damai. Akibatnya terjadilah peperangan yang menelan banyak korban.

Dalam Perang Siffin di pihak Ali menunjukan tanda-tanda kemenangan, sedangkan di pihak Muawiyah berada di ujung tanduk akan mengalami kekalahan. Tiba-tiba dari pihak Muawiyah ada seseorang yang mengangkat al-Qur'an di atas tombak, menunjukan ingin mengadakan gencatan senjata (arbitrase/tahkim)

Banyak dari pihak Ali yang tidak setuju untuk melakukan gencatan senjata, karena hampir dapat dipastikan bahwa kemenangan ada di pihak Ali. Namun gencatan senjata tetap disetujui oleh Khalifah Ali sehingga dilakukan perundingan.

Ali bin Abi Thalib mengutus Abu Musa al-Asy'ari sebagai wakil, sedangkan dari pihak Muawiyah mengutus Amr bin Ash untuk melakukan perundingan. Sungguh disayangkan perundingan politik yang telah dilakukan ternyata merugikan pihak Ali dan boleh dikatakan bahwa dalam perundingan tersebut pihak Ali yang kalah.

Peristiwa itu membuat sebagian orang keluar dari barisan Ali. Orang-orang yang keluar dari barisan Ali disebut dengan golongan Khawarij yang kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Ali.

Akhir Hayat Ali bin Abi Thalib

Akhir Hayat

Ali bin Abi Thalib wafat pada tanggal 29 januari tahun 661 M (21 Ramadhan tahun 40 H). Pada tanggal 27 Ramadhan Ali diserang oleh seseorang dari golongan Khawarij. Ia ditikam dengan pedang yang telah dilumiri racun, sehingga dua hari kemudian Ali meninggal dunia. Pembunuhan Ali bin Abi Thalib dilakukan pada saat sujud dalam shalat subuh, hari Jumat.

Pembunuh Ali bernama Abdurrahman bin Muljam. Menjelang wafatnya Ali bin Abi Tahlib, ia berwasiat agar tidak menyerang orang Khawarij, apa bila Ali selamat dari tikaman itu, Abdrrahman akan diampuni, dan bila Ia meninggal maka Abdurrahman akan dihukum dengan tikaman yang sama.

Takdir yang tidak bisa terelakkan, pada 29 Januari tepatnya pada 21 Ramadhan Ali meninggal dunia. Hasan, putra Ali sekaligus cucu Nabi memenuhi wasiat ayahnya dengan memberikan hukuman yang sama atas wasiat tersebut.

Kesimpulan

Ali bin Abi Thalib merupakan sosok dan salah satu sahabat yang luar biasa. Ia mampu melaksanakan misi yang penuh dengan risiko tanpa rasa takut ketika Nabi berangkat ke Madinah. Ali diperintahkan untuk tidur di rumah Nabi untuk memperdaya kaum Quraisy yang ingin menghalangi Nabi untuk Hijrah.

Abi bin Abi Thalib menghabiskan masa kecilnya bersama dengan Rasulullah, karena sejak umur enam tahun ia telah diasuh oleh Nabi sehingga terbentuklah kecerdasan dan kebijaksanaan yang luhur. Tidak sampai disitu saja, ketika berada di Madinah, Ali menjadi menantu Nabi setelah menikahi Fatimah, salah satu putri Nabi.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pada saat kondisi umat Islam sedang genting. Banyak pemberontakan dari kalangan Muslim untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Maka terjadilah peperangan yang disebut dengan perang Jamal dan perang Siffin. Walaupun Ali lebih memilih menghindari perang saudara, namun pertikaian tidak dapat dihindari.

Perang Siffin mengakibatkan terpecahnya umat Islam menjadi tiga golongan, yaitu orang yang setia terhadap Ali, orang yang membela Muawiyah, dan orang yang keluar dari barisan Ali.


Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah