-->

[ADS] Top Ads

Abu Bakar ash-Shidiq : Biografi dan Masa Kepemimpinannya

Abu Bakar ash-Shidiq ( أبو بكر الصديق‎ ) adalah salah satu sahabat istimewa, sekaligus sebagai mertua Nabi yang menyandang gelar Khulafaur Rasyidin. Beliau menjadi Khalifah yang pertama setelah Rasul wafat, dan tergolong pemeluk Islam awal pada masa dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin 'Amir bin 'Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim, bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib al-Quraisyi at-Taimi, sedangkan nama Abu Bakar merupakan nama kunniyyah beliau. Ash-Shidiq dan 'Atiq adalah nama laqb atau julukanya.

Biografi Abu Bakar
Abu Bakar ash-Shidiq
Abu Bakar lahir di Mekkah pada 27 Oktober 573 M (menurut Prof Mas'ud Hasan), dua tahun beberapa bulan setelah Nabi Muhammad di lahirkan. Berarti beliau lebih muda dua tahun dari Rasulullah. Dia juga terkenal sebagai seorang yang berprilaku terpuji, tidak pernah minum minuman yang memabukkan ( khamr )  dan selalu menjaga kehormatannya. Selain itu, beliau juga seseorang yang selalu pertama kali yakin dan membenarkan perkataan Nabi, disaat orang-orang sedang ragu.

Masa Kecil Abu Bakar Hingga Memeluk Agama Islam


Kisah Abu Bakar ash-Shidiq, pada masa kecilnya sama seperti anak-anak bangsa Arab suku Badui pada masa itu. Mereka, orang Arab menyebutnya dengan Ahlul Ba'ir atau Rakyat Unta. Pada masa kecilnya, ia sering bermain dengan unta dan kambing. Abu Bakar kecil juga menyayangi hewan peliharaan unta, karena kecintaannya itu lah ia diberi nama julukan Abu Bakar, yang artinya bapak unta. Namun, nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika ia lahir adalah Abdul Ka'bah.

Ketika berumur sepuluh tahun, Abu Bakar pergi ke Suriah untuk mengikuti ayahnya bersama-sama dengan rombongan dagang lainnya. Pada saat itu Nabi yang berusia 12 tahun juga ikut serta dalam rombongan tersebut. Sekitar tahun 591, Abu Bakar yang menginjak umur 18 tahun pergi untuk berdagang meneruskan bisnis orang tuanya yakni, menjual kain. Dalam tahun-tahun berikutnya, ia sering pergi untuk berdagang bersama dengan kafilah di berbagai wilayah, seperti di Yaman. Perjalanan bisnis inilah yang membuatnya menjadi kaya.

Abu Bakar pada masa mudanya adalah seorang saudagar kaya, karena perkembangan bisnisnya yang sangat pesat. Hal tersebut mempengaruhi status sosialnya. Meski ayahnya masih hidup, beliau diakui sebagai kepala suku. Seperti anak-anak saudagar kaya lainnya, Abu Bakar adalah orang yang terpelajar, bisa menulis dan membaca serta membuat syair-syair arab yang indah.

Ketika Abu Bakar sedang dalam perjalanan dari Yaman kembali menuju Mekkah, ia memperoleh kabar dari teman-temannya bahwa, Muhammad menyatakan dirinya sebagai seorang utusan Allah. Sejak jaman jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah. Pada suatu hari, ia bertanya kepada Rasul, "Wahai Abul Qosim (panggilan nabi), ada apa denganmu sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu?".

Mendengar pertanyaan itu, Nabi menjawab "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan aku mengajak kamu kepada Allah". Setelah itu, Abu Bakar menyatakan bahwa dirinya masuk Islam. Mendengar pernyataan itu, Nabi Muhammad SAW merasa sangat gembira.

Dia tergolong orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan lelaki dewasa. Setelah menjadi seorang muslim, dia lebih memusatkan diri dalam kegiatan dakwah Islamiyah bersama Rasul. Banyak orang Arab memeluk agama Islam melalui Abu Bakar, di antaranya Utsman bin 'Affan, Zubeir bin Awwam, Abdurrahman bi Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Abu Bakar Bersama Nabi Muhammad SAW


Banyak sekali peristiwa penting dalam sejarah Islam tentang perjuangannya, berdakwah bersama Nabi Muhammad SAW. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain, ketika Nabi Muhammad kembali dari perjalanan Isra' Mi'raj, hijrah dari Mekkah ke madinah, dan peristiwa bagaimana sikap Abu bakar ketika Nabi Muhammad SAW wafat. Berikut ini sekilas perjuangan Abu Bakar bersama Nabi untuk berdakwah.

Abu Bakar Ketika Peristiwa Isra' Mi'raj


Isra' Mi'raj merupakan peristiwa sejarah umat Islam yang sangat luar biasa dan telah diabadikan oleh Allah SWT dalam al-Qur'an Surat al-Isra' ayat 1. Ketika itu, atas ijin Allah SWT, Nabi bersama malaikat Jibril melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, kemudian dilanjutkan naik ke langit yang disebut Sidratul Muntaha. Dalam peristiwa tersebut Rasulullah telah mendapat perintah shalat lima waktu.

Setelah kejadian tersebut, Nabi Muhammad mengumpulkan penduduk Mekkah baik yang sudah masuk Islam maupun yang belum. Setelah penduduk Mekkah sudah berkumpul, maka beliau menceritakan kejadian Isra' Mi'raj yang baru saja ia alami.

Peristiwa ini ternyata menjadi sebuah ujian iman bagi umat Muslim. Bagi Muslim yang percaya dan yakin atas peristiwa tersebut, maka Iman yang ada di dalam hati akan semakin kuat, namun jika mereka meragukan peristiwa tersebut, maka keimanan akan memudar, bahkan kemungkinan terburuk akan menjadi murtad.

Setelah Nabi menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, maka banyak dari golongan kafir Quraisy yang menganggap bahwa Nabi adalah pendusta, bahkan mereka juga menyebut Nabi telah menjadi gila. Umat Islam juga banyak yang meragukan peristiwa itu, akan tetapi Abu Bakar tampil dihadapan semua orang dan berkata dengan lantang "Engkau Benar Nabi". Artinya, Abu Bakar telah mempercayai dan membenarkan bahwa apa yang telah dialami Nabi benar-benar nyata.

Dalam sejarah Isra' Mi'raj, orang yang pertama kali membenarkan dan mempercayai bahwa Nabi telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha adalah Abu Bakar. Oleh sebab itu, kemudian Nabi Muhammad SAW memberikan julukan ash-Shidiq kepada Abu Bakar.

Hijrah Nabi Muhamad ke Madinah Bersama Abu Bakar


Atas perintah Nabi, Satu demi satu kaum Muslimin berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah (Yatsrib), sehingga umat Islam yang berada di Mekkah hanya sedikit sekali. Abu Bakar ash-Shidiq dan Ali bin Abi Thalib masih setia menemani Nabi di Mekkah. Nabi belum hijrah ke Madinah karena masih menunggu perintah dari Allah SWT.

Kamu Musyrikin Mekkah mengetahui bahwa Rasulullah SAW akan meninggalkan Mekkah dan menuju Madinah, sehingga ingin menghentikan upaya hijrah Nabi. Para pemuka Quraisy mengadakan perkumpulan ( rapat ) untuk membahas dan merencanakan tindakan apa yang akan diambil terhadap Nabi Muhammad. Setelah rapat usai, mereka memutuskan untuk membubuh Nabi.

Upaya dan rencana kaum kafir Quraisy telah diketahui oleh Rasulullah. Melalui Malaikat Jibril, Allah SWT memerintahkan Nabi untuk hijrah pada malam itu juga. Malaikat Jibril berkata "Muhammad malam ini kamu jangan tidur di tempat tidurmu, karena sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanmu untuk hijrah ke Madinah".

Malam itu juga, kediaman Nabi dijaga ketat oleh kaum Quraisy agar dapat memantau dan memastikan bahwa Nabi tidak meninggalkan rumah. Keluarlah Nabi dari rumahnya pada malam hari setelah lewat dua pertiga malam, kemudian mengambil pasir dan melemparkannya kepada orang-orang Quraisy yang ingin membunuh Nabi. Dengan ijin Allah SWT, orang-orang yang mengepung rumah Nabi tertidur sejenak, sehingga beliau dapat pergi dari rumah tanpa diketahui oleh mereka.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 622 M ( 2 Rabi'ul Awwal tahun ke 13 dari kenabian. Malam itu Nabi meninggalkan rumah menuju rumahnya Abu Bakar untuk mengajaknya. Setelah Sahabat Abu Bakar menyelesaikan persiapannya, ia bersama Nabi menuju Gua Tsur untuk bersembunyi selama tiga hari kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Sebelum Nabi meninggalkan kediamannya, sahabat Ali bin Abi Thalib ditugaskan untuk tidur ditempat yang biasanya Nabi tidur. Oleh sebab itu, ketika kaum Quraisy mengintip ke dalam kamar, mereka menganggap bahwa Nabi masih tidur di dalam rumah, padahal yang sedang tidur di dalam rumah adalah Ali.

Setelah tiga hari berlalu, Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah. Mereka ditemani oleh dua orang sahabat sebagai petunjuk jalan, karena menggunakan jalur yang tidak biasa dilalui oleh kebanyakan orang dan untuk menghindari kejaran kafir Quraisy.

Perjalanan yang dilalui Nabi dan sahabatnya sangat berat, namun dengan keyakinan dan keikhlasan akhirnya sampai di Madinah dengan selamat. Dua sahabat istimewa yang mencintai nabi sangat berjasa, yaitu Abu Bakar yang setia menemani Nabi hijrah dan Ali yang rela mengorbankan jiwa demi baginda Nabi.

Sesampainya di Madinah, Abu Bakar ash-Shidiq dan sahabat lainnya berjuang untuk membesarkan agama Islam. Dan di Madinahlah Islam dapat berkembang dengan pesat. Selama 10 tahun Nabi Muhammad SAW berdakwah di Madinah, hingga pada suatu hari Beliau menderita sakit.

Masa Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq


Menjelang wafat, Nabi Muhammad SAW mengalami sakit yang sangat parah, sehingga kesusahan untuk mengimami sholat di masjid. Abu Bakar sebagai salah satu sahabat Nabi yang istimewa diperintah Nabi untuk mengimami sholat berjama'ah. Ada yang berpendapat bahwa peristiwa ini merupakan isyarat, bahwa Nabi memilih Abu Bakar sebagai khalifah.

Ketika Rasulullah meninggal dunia, umat Islam berselisih pendapat. Sebagian sahabat berpandangan bahwa Nabi telah wafat, sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa Nabi tidak meninggal atau tidak percaya bahwa Nabi tercinta telah wafat.

Berita tentang meninggalnya Rasulullah SAW telah sampai kepada Abu Bakar, sehingga ia langsung menuju ke rumah Nabi untuk membuktikan berita tersebut. Beliau masuk ke dalam kamar Nabi lalu membuka penutup wajah Rasul lalu mencium keningnya. Abu Bakar membenarkan berita tersebut, kemudian keluar dari rumah untuk menemui sahabat.

Lalu Abu Bakar berkata dengan suara yang sangat lantang, "siapa saja yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal. Dan siapa saja yang menyembah Allah, maka ketahuilah bahwa hanya Allah yang maha hidup". Setelah itu Abu Bakar membaca QS. Ali-Imron ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Dan tidaklah Muhammad itu melainkan seorang Rasul. Telah wafat sebelum ini para Rasul. Apakah jika Rasuk wafat atau terbunuh, kalian akan berpaling dari ajaranya?

Setelah kaum muslimin mendengar ayat tersebut, mereka menjadi tenang. Kemudian beberapa kamu muslimin dari golongan Muhajirin dan Anshor berkumpul untuk bermusyawarah menentukan pemimpin umat Islam. Setelah terjadi perdebatan yang alot di antara mereka, akhirnya mereka sepakat bahwa Abu Bakar yang akan menjadi Khilafah. Umar bin 'Afan lalu membaiat Abu Bakar dan seluruh umat Islam tidak ada yang menolaknya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 632 M.

Peristiwa Penting Saat Abu Bakar Menjadi Khalifah


Abu Bakar memiliki sifat yang berani, tegas, dan selalu menjunjung tinggi kebenaran. Ia memiliki sifat yang adil, tidak membeda-bedakan antara yang miskin dan kaya. Meski telah diangkat menjadi khalifah, beliau tidak berubah sama sekali, kerendahan hati masih tetap melekat dalam dirinya.

Lalu apa saja peristiwa penting pada masa pemerintahan Abu Bakar saat menjadi khalifah?

Di antaranya adalah telah terjadi Perang Riddah yang disebabkan oleh kemunculan nabi palsu yang bernama Musailamah al-Kadzab, banyak kaum muslimin yang enggan membayar zakat, dan juga ada yang kembali menyembah berhala. Perang tersebut mengakibatkan Musailamah terbunuh sehuingga berhasil dimenangkan oleh Abu Bakar dan pasukannya.

Ekspedisi ke utara setelah menstabilkan keadaan internal kaum muslimin dan menguasai jazirah Arab. Dalam ekspedisi tersebut, Khalifah Abu Bakar memerintahkan beberapa jenderal Islam untuk melawan kekaisaran Bizantium dan Sassanid. Seorang jenderal pasukan Khalid bin Walid berhasil menaklukan Iraq sementara ekspedisi ke Suriah juga berhasil meraih kemenangan.

Selain peristiwa di atas, pada masa pemerintahannya, Abu Bakar ash-Shidiq juga berperan dalam melestarikan dan mengumpulkan teks-teks al-Quran. Peristiwa penting ini dikarenakan bayak para sahabat penghafal al-Quran yang gugur dalam perang Riddah, sehingga Umar mengusulan agar membuat tim untuk mengumpulkan teks-teks al-Quran.

Dalam mengumpulkan teks-teks tersebut tidaklah mudah, sehingga setelah Abu Bakar wafat teks-teks yang terkumpul di lanjutkan oleh Khalifah Umar dan selesai pada masa Khalifah Utsman. Maka terbentuklah Mushhaf Utsmani yang kita pakai sampai sekarang ini. Ketua panitia tim untuk membuat mushhaf ini adalah Zaid bin Tsabit.

Peristiwa-peristiwa penting di atas juga merupakan sebagian dari prestasi Abu Bakar saat menjadi khalifah. Jika dirangkum secara singkat, prestasi Abu Bakar adalah sebagai berikut

  1. Berhasil menumpas nabi palsu dan pengikutnya.
  2. Membereskan masalah internal dalam masyarakat Islam dan memperluas wilayah kekuasaan Islam.
  3. Mengumpulkan teks-teks al-Qur'an, walaupun tidak usai namun pada masa Khalifah Utsman berhasil diselesaikan.


Wafatnya Abu Bakar ash-Shidiq


Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq wafat pada tanggal 23 Agustus 634 M, di Madinah karena sakit yang diderita pada usia 61 tahun. Abu Bakar dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad, di rumah putrinya Aisyah ( istri Nabi ) dekat masjid Nabawi.

Keluarga Abu Bakar ash-Shidiq


Ayah Abu Bakar bernama Utsman bin 'Amir dikenal dengan sebutan Abu Quhafa. Beliau berasal dari Bani Tamim. Ibu Abu Bakar bernama Salma binti Shakhar dikenal dengan sebutan Ummul Khair. Pasangan Abu Bakar adalah Qutailah binti Abbdul Uzza, Zainab binti Amir, Asma binti Umays, dan Habibah binti Kharijah.

Abu Bakar dikaruniai putra yang bernama Abdullah, Abdurrahman, dan Muhammad. Sedangkan ptir Abu Bakar adalah Asma, Awwam, Aisyah (istri Nabi) dan Ummu Kultsum.

Kisah singkat Abu Bakar ash-Shidiq ini semoga memberi hikmah bagi kita semua. Meski menjadi khalifah ia masih tetap rendah hati dan berprilaku terpuji. Ia juga selalu tenang dalam berbagai hal, bijaksana saat mengambil keputusan dan yang paling utama adalah selalu menjunjung tinggi ajaran Islam walau bagaimanapun keadaannya.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah