-->

[ADS] Top Ads

12 Peninggalan Kerajaan Kediri Beserta Gambarnya

Peninggalan Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri atau Panjalu adalah sebuah kerajaan yang berdiri pada tahun 1042-1222 di Jawa Timur dan berpusat di kota Daha. Peninggalan kerajaan kediri yang terkenal adalah Candi Penataran dan Candi Tondowaongso. Candi Panataran terletak di lereng Gunung Kelut, sebelah utara kota Blitar, Jawa Timur, sedangkan candi Tondowongso berada di kecamatan Gurah, Kediri, Jawa Timur.

Pada masa pemerintahan Raja Sri Jayabaya, Kerajaan Kediri atau Panjau mengalami masa kejayaan. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Pulau Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra telah dikalahkan.

Peninggalan Kerajaan Kediri dan Gambarnya

Peninggalan sejarah merupakan suatu hal yang paling penting untuk membuktikan kebenaran peristiwa sejarah. Begitu pula dengan peninggalan-peninggalan yang menjadi sumber informasi tentang sejarah Kerajaan Kediri. Peninggalan sejarah Kerajaan Kediri diteliti dan diselidiki oleh para ahli untuk mendapatkan bukti  keberadaannya.

Berikut ini peninggalan Kerajaan Kediri berupa candi, prasasti, dan kitab kuno beserta gambarnya.

Candi Penataran

Peninggalan Kerajaan Kediri
Candi Penataran atau Candi Palah adalah sebuah candi peninggalan kerajaan kediri yang bersifat keagamaan Hindu Siwaitis yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Candi termegah dan terluas di Jawa Timur ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar, pada ketinggian 450 meter di atas permukaan laut. Pada tahun 1995 candi ini diajukan sebagai calon Situs Warisan Dunia UNESCO dalam daftar tentatifnya.

Dari prasasti yang tersimpan di bagian candi diperkirakan candi ini dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri/Kediri sekitar tahun 1200 Masehi dan berlanjut digunakan sampai masa pemerintahan Wikramawardhana, Raja Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1415.

Dalam kitab Desawarnana atau Nagarakretagama yang ditulis pada tahun 1365, Candi ini disebut sebagai bangunan suci "Palah" yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk dalam perjalanan kerajaan bertamasya keliling Jawa Timur.

Candi Tondowongso

Peninggalan Kerajaan Kediri
Merupakan candi peninggalan Kerajaan Kediri yang di temukan pada tahun 2007. Lokasi candi Tondowongso Kerajaan Kediri ini berada di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kediri, Kediri, Jawa Timur.

Dilihat berdasarkan bentuk dan tatahan arca, situs ini diperkirakan sebagai peninggalan pada masa Kerajaan Kediri abad ke-9, yaitu pada masa awal perpindahan pusat politik dari Jawa tengah ke Jawa Timur.

Luas situs ini diperkirakan mencapai lebih dari satu hektar dan dianggap sebagai penemuan terbesar untuk periode klasik sejarah Indonesia dalam 30 tahun terakhir. Penemuan candi Tondowaongso karena ditemukan sejumlah arca oleh pengrajin bata setempat. Memang selama ini, Kerajaan Kediri dikenal dengan sejumlah karya sastra dan tidak banyak diketahui peninggalan dalam bentuk bangunan.

Candi Gurah

Peninggalan Kerajaan Kediri
Candi Gurah merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan pada tahun 1957. Lokasi candi ini berada pada jarak 2 kilo meter dari candi Tondowongso, tepatnya di kecamatan Gurah, Kediri, Jawa Timur. Dilihat dari ukuran pondasinya memiliki luas 81 meter persegi.

Hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Sentul telah menghasilkan bahwa ada sebuah candi induk dan tiga candi pewara yang terletak di depannya. Menurut Tim Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta, terdapat indikasi bahwa antara candi Gurah dan candi Tondowongso merupakan satu komplek percandian yang sangat luas.

Candi Mirigambar

Peninggalan Kerajaan Kediri
Merupakan candi peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di sebuah lapangan di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur. Diperkirakan candi ini dibangun pada tahun 1214 hingga 1340. Material yang dipergunakan terbuat dari bata merah seperti candi-candi lain yang berada di daerah Jawa Timur.

Candi Mirigambar Kerajaan Keriri ini memiliki dinding yang terukir relief patung. Bagina kanan depan terdapat terukir relief seorang lelaki bertubuh besar dan seorang laki-laki bertubuh kecil. Di antara kedua relief tersebut terdapat dua tokoh laki-laki yang mengapit dua orang patung perempuan.

Prasasti peninggalan Kerajaan Kediri adalah sebagai berikut.

Prasasti Galunggung

peninggalan Kerajaan Kediri
Merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di Rejotangan, Tulungagung, Jawa Timur. Prasasti Galunggung Kerajaan Kediri ini berukuran 160 x 80 x 75 cm dan terdapat 20 baris kalimat yang menggunakan huruf jawa kuno. Tulisan yang terdapat pada prasasti tersebut belum bisa dibaca dan diterjemahkan karena sebagian tulisan telah rusak. Pada prasasti terdapat tulisan angka tahun yang jelas yaitu 1123 Saka.

Prasasti Kamulan

Peniggalan Kerajaan Kediri
Salah satu peninggalan kerajaan kediri adalah Prasasti Kamulah. Sesuai dengan namanya, prasasti peninggalan kerajaan Kediri ini ditemukan di Desa Kamulan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Diperkirakan prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Kertajaya yaitu pada tahun 1194 Masehi atau 1116 Saka.

Prasasti ini terdapat tulisan yang menceritakan tentang sebuah kabupaten Trenggalek yang berdiri pada Rabu Kliwon, tanggal 31 Agustus 1194 dan penyerangan terhadap Kediri oleh Raja Kerajaan di sebelah timur.

Prasasti Talan

Peniggalan Kerajaan Kediri
Lokasi penemuan prasasti peninggalan kerajaan Kediri ini di Desa Gurit, Blitar, Jawa Timur. Dibuat pada tahun 1058 Saka atau 1136 Masehi. Isi dari Prasasti Talan menceritakan tentang penetapan masuknya Desa Talan ke wilayah Panumbang yang sudah terbebas dari pajak. Pada prasasti Talan terdapat ukiran Garudamukalanca (tubuh manusia yang berkepala burung garuda).

Prasasti Ngantang

Peniggalan Kerajaan Kediri
Prasasti peninggalan Kerajaan Kediri ini berisi tentang pemberian tanah bebas pajak oleh Jayabaya untuk Desa Nantang berkat jasanya mengabdi pada Kerajaan. Prasasti ini ditemukan di Desa Ngantang, Malang dan tertulis dengan jelas angka tahun 1057 Saka atau 1135. Namun sekarang prasasti itu telah berada di Museum Nasional.

Prasasti Padlegan I

Peninggalan Kerajaan Kediri
Merupakan prasasti yang berisi tentang bakti penduduk Desa Padiegan pada Raja Kameshwara. Bentuk prasasti ini mirip stella dan berukuran; tinggi 145 cm, lebar atas 81 cm, lebar bawah 70 cm dan tebal 18 cm. Walaupun aksara kuno yang terdapat pada prasasti sudah banyak yang aus, namun telah berhasil dibaca oleh Oud Javansche Oorkonde. Pada prasasti ini terdapat angka tahun 1038 Saka atau 11 Januari 1117 Masehi.

Kitab kuno peninggalan kerajaan kediri antara lain;

Kitab Kakawin Bharatayudha

peninggalan Kerajaan Kediri
Kitab ini dikarang oleh dua orang empu yang bernama Empu Seda dan Empu Panuluh. Isi Kitab menceritakan tentang perjuangan Raja Jenggala, Jayabaya yang berhasil menaklukan Panjalu. Penaklukan tersebut kemudian dianalogikan dengan perang antara Pandawa dan Kurawa dalam kisah Bharatayuda.

Diperkirakan kitab Kakawin Bharatayudha peninggalan kerajaan Kediri ini dibuat pada tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi pada masa pemerintahan Jayabaya dan selesai ditulis pada 6 November 1157.

Kitab Kresnayana

peninggalan Kerajaan Kediri
Pengarang kitab ini adalah Empu Triguna yang menceritakan tentang riwayat hidup seorang anak yang memiliki kekuatan besar namun ai senang menolong orang lain, anak tersebut bernama Kresna. Ia disukai oleh rakyat dan menikah dengan dengan Dewi Rukmini, putri dari Prabu Bismaka.

Kitab Smaradhana

peninggalan Kerajaan Kediri
Penulis kitab Smaradhana adalah Mpu Dharmaja. Salah satu Peninggalan kitab kerajaan kediri ini menceritakan tentang sepasang suami-istri yang bernama Dewa Kama dan Dewi Ratih. Spasang dewa tersebut lenyap karena terkena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.

Itulah penjelasan tentang peninggalan-peninggalan kerajaan kediri. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Penulis: KhoiruAddien
Sumber:
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kadiri
  • https://sejarahlengkap.com/indonesia/kerajaan/peninggalan-kerajaan-kediri

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah