-->

[ADS] Top Ads

Jawa Hokokai Pada Masa Pendudukan Jepang

Jepang menduduki Indonesia kurang lebih selama 3,5 tahun. Selam itu juga, negara yang dijuluki Negeri Sakura tersebut mencoba berbagai cara untuk mengambil hari rakyat Indonesia. Pada awalnya beberapa cara yang digunakan berhasil, namun setelah para tokoh Nasionalis berusaha menanamkan jiwa kebangsaan Indonesia kepada rakyat, cara-cara tersebut tidak berhasil lagi.

Kedatangan Jepang ke Indonesia untuk pertama kalinya pada tanggal 11 Januari 1942, bertepatan dengan berlangsungnya Perang Dunia 2 dan Perang Asia Pasifik. Pada saat itu, Indonesia masih dikuasai oleh pemerintahan Hindia Belanda, sehingga Jepang harus berperang melawan Belanda dan sekutunya terlebih dahulu. Hanya dalam tempo beberapa bulan saja Jepang berhasil merebut Indonesia dari tangan pemerintah Hindia Belanda yaitu pada 8 Maret 1942.

Organisasi Bentukan jepang

Setelah berhasil menduduki Indonesia secara total, Jepang merencanakan propaganda untuk mengambil hati rakyat. Cara yang dianggap paling efektif oleh Pendudukan Jepang pada saat itu adalah dengan membentuk organisasi pergerakan atau perkumpulan yang sering disebut Organisasi Bentukan Jepang. Organisasi pergerakan pada masa pendudukan Jepang cukup banyak, diantaranya Gerakan 3A, Keibodan, dan Seinendan. Dan yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah organisasi Jawa Hokokai.

Jawa Hokokai


Pada tahun 1944, situasi Perang Pasifik atau Asia Timur Raya mulai berbalik, tentara Sekutu dapat mengalahkan tentara Jepang di Berbagai wilayah. Situasi ini menyebabkan kedudukan Jepang di Indonesia semakin terancam. Oleh sebab itu, Panglima Tentara Jepang, Jenderal Kumaikici Harada membentuk organisasi yang diberi nama Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa).

Jawa Hokokai adalah organisasi bentukan Jepang yang berdiri pada tanggal 1 Maret 1944 di Indonesia. Organisasi ini merupakan organisasi resmi pemerintah Jepang dan langsung di bawah pengawasan pejabat Jepang. Pimpinan tertinggi dipegang oleh Gunseikan yaitu, kepala atau pemerintahan militer yang dijabat kepada staf tentara.

Jawa Hokokai adalah organisasi resmi pemerintah yang diawasi oleh para pejabat militer Jepang yang dipersiapkan sebagai gerakan total dalam menghadapi serangan Sekutu.

Anggota Jawa Hokokai adalah para pemuda yang minimal berusia antara 14 tahun. Tujuan berdirinya Jawa Hokokai adalah untuk menghimpun tenaga rakyat, baik secara lahir maupun batin sesuai dengan semangat kebaktian (dalam bahasa Jepang di sebut hokosisyin). Semangat kebaktian yang dimaksud di antaranya, mengorbankan diri, mempertebal persaudaraan, dan melaksanakan tugas untuk Jepang.

Kegiatan Jawa Hokokai meliputi hal-hal sebagai berikut;

  1. Melaksanakan segala sesuatu dengan nyata dan ikhlas untuk menyumbangkan segenap tenaga kepada Jepang.
  2. Memimpin rakyat untuk menyumbangkan tenaga berdasarkan semangat persaudaraan antar sesama bangsa.
  3. Memperkokoh pembelaan terhadap tanah air.


Jawa Hokokai juga bertugas mengerahkan rakyat untuk mengumpulkan padi, permata, besi tua dan menanam pohon Jarak ( dijadikan pelumas) untuk diserahkan kepada Jepang. Semua itu hanya untuk kepentingan perang Jepang.

Organisasi ini dinyatakan sebagai organisasi resmi pemerintah. Berarti, organisasi ini diintegrasikan ke dalam tubuh pemerintah. Organisasi ini mempunyai berbagai macam hokokai profesi, di antaranya Izi hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Para Pendidik), dan Hokokai Perusahaan.

Jawa Hokokai juga mempunyai anggota istimewa, seperti Fujinkai (organisasi wanita), dan Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan). Di dalam membantu memenangkan perang, Jawa Hokokai telah berusaha antara lain dengan pengerahan tenaga dan memobilisasi potensi sosial ekonomi, misalnya dengan penarikan hasil bumi sesuai dengan target yang di tentukan.

Struktur kepemimpinan di dalam Jawa Hokokai ini langsung dipegang oleh Gunseikan, sedangkan di daerah dipimpin oleh Syucohan (Gubernur atau Residen). Pada masa ini, golongan nasionalis disisihkan, mereka diberi jabatan baru dalam pemerintahan, akan tetapi, segala kegiatannya memperoleh pengawasan yang ketat dan segala bentuk komunikasi dengan rakyat dibatasi.

Pimpinan pusat dipegang oleh Gunseikan, sedangkan penasihatnya adalah Ir. Sukarno dan Hasyim Asy’ari. Di tingkat daerah (syu/shu) dipimpin oleh Syucokan/Shucokan dan seterusnya sampai daerah ku (desa) oleh Kuco (kepala desa/lurah), bahkan sampai gumi di bawah pimpinan Gumico. Dengan demikian, Jawa Hokokai memiliki alat organisasi sampai ke desa-desa, dukuh, bahkan sampai tingkat rukun tetangga (Gumi atau Tonarigumi).

Organisasi Jawa Hokokai ini tidak berkembang di luar Jawa, sehingga Golongan nasionalis di luar Jawa kurang mendapatkan wadah. Penguasa di luar Jawa seperti di Sumatra berpendapat bahwa di Sumatra terdapat banyak suku, bahasa, dan adat istiadat, sehingga sulit dibentuk organisasi yang besar dan memusat, kalau ada hanya lokal di tingkat daerah saja. Dengan demikian, organisasi Jawa Hokokai ini juga dapat berkembang sesuai yang diinginkan Jepang.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah