-->

[ADS] Top Ads

5 Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia

Indonesia di jajah Jepang selama 3,5 tahun, dimulai sejak tahun 1942 hingga 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang kumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pada bulan Januari 1942 Jepang menduduki Malaysia, Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Pada tanggal 24 Januari 1942, Jepang berhasil menduduki Tarakan, Balikpapan, dan Kendari. Kemudian Jepang menduduki Samarinda pada 3 Februari 1942.

Kedatangan Jepang ke Indonesia bertepatan saat Perang Dunia 2 sedang berlangsung yaitu antara tahun 1939-1945. Serangan negeri Sakura ini dalam Perang Dunia yang ke 2 disebut dengan Perang Asia Pasifik atau Perang Asia Timur Raya.

Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Berbagai Bidang

Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia


Setelah Jepang merebut kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda dan Sekutu, dampak Pendudukan Jepang di berbagai bidang mulai timbul seperti di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan lain-lain. Dampak tersebut berangsur-angsur dirasakan oleh Bangsa Indonesia. Ada beberapa dampak yang ditimbulkan oleh Jepang ketika menjajah Indonesia di antaranya, dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya, serta bidang militer.

Dampak Pendudukan Jepang di Bidang Pendidikan


Dampak pendudukan jepang di Indonesia dalam bidang pendidikan, yaitu Jepang sengaja menghilangkan diskriminasi di sekolah-sekolah. Pendidikan tingkat dasar dijadikan satu macam, yaitu Sekolah Dasar (SD) Enam Tahun. Ini bertujuan untuk menyamakan dan memudahkan pengawasan isi dan penyelenggaraan sekolah-sekolah. Pada tanggal 29 April 1942, pemerintah pendudukan Jepang mengeluarkan maklumat yang berisi antara lain;

  • Bahasa Jepang digunakan sebagai bahasa wajib
  • Larangan terhadap penggunaan bahasa Belanda dan Inggris baik dalam maupun di luar sekolah
  • Pembukaan kembali sekolah-sekolah bahasa Melayu sebagai pengantar di sekolah
  • Para pelajar diharuskan menghormati adat istiadat Jepang seperti, bersemangat ala Jepang (Nippon Seishin), dapat menyanyikan lagu kebangsaan Kimigayo, melakukan garakan badan (Taigo) dan latihan kemiliteran, mengadakan penghormatan ke arah timur untuk menyembah kaisar.
  • Penutupan Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia


Dampak positif yang dirasakan oleh Bangsa Indonesia akibat Pendudukan Jepang di Indonesia antara lain, digunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah, sehingga lahir kader-kader generasi intelektual yang berjiwa nasionalis. Jepang juga menyelenggarakan kursus-kursus yang berjujuan untuk menanamkan semangat pro Jepang (Barisan Pemuda Asia Raya, San A Seinen Kunrensyoi yang diadakan oleh Gerakan Tiga A.

Dampak Pendudukan Jepang di Bidang Politik


Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam bidang Politik yaitu, semua kegiatan politik dilarang keras untuk berkumpul dan berserikat. Semua organisasi Pergerakan Nasional yang didirikan oleh rakyat dibubarkan kecuali golongan Islam Nasionalis yang masih diberikan kelonggaran.

Upaya Jepang dalam memperkuat kedudukannya di Indonesia selain merubah sistem pemerintahan dengan sistem militer juga dengan cara mendekati kaum nasionalis Islam, kaum nasionalis sekuler dan golongan pemuda. Itulah alasan mengapa organisasi golongan Islam Nasionalis tidak dibubarkan dan masih diberi kelonggaran.

Terhadap golongan Nasionalis Islam, Jepang tetap mengijinkan berdirinya organisasi Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) yang didirikan oleh K.H. Mas Mansur dan kawan-kawan di Surabaya pada tahun 1937 saat pemerintahan Hindia Belanda. Organisasi ini tetap diberi ijin untuk berdiri agar umat Islam tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat politik.

Usaha Jepang untuk memperkuat kedudukannya di Indonesia juga melakukan pendekatan terhadap nasionalis sekuler dengan melakukan kerja sama yakni, membentuk Gerakan Tiga A yang merupakan semboyan Jepang.  Semboyan tersebut adalah Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia.

Golongan muda Rakyat Indonesia juga mendapat perhatian pada masa Pendudukan Jepang. Karena golongan ini masih dianggap belum sempat dipengaruhi pemikiran Barat.

Dampak Pendudukan Jepang di Bidang Ekonomi


Pada masa Pendudukan Jepang kehidupan ekonomi rakyat sangat menderita karena kebijakan ekonomi pemerintahan pendudukan Jepang diprioritaskan untuk kepentingan perang. Lemahnya ekonomi rakyat Indonesia berawal dari kekalahan pemerintahan Hindia Belanda pada bulan Maret 1942. Sejak itulah sistem ekonomi menjadi lumpuh dan dipaksa untuk beralih dari ekonomi rakyat berubah menjadi ekonomi perang.

Perkebunan teh, kopi, dan tembakau dianggap kurang bermanfaat bagi kepentingan perang, sehingga diganti dengan tanaman penghasil bahan makanan dan tanaman jarak untuk dijadikan pelumas. Oleh sebab itu, dampak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam bidang ekonomi adalah perubahan sistem ekonomi dari ekonomi rakyat menjadi ekonomi perang.

Langkah pertama yang dilakukan Jepang untuk mengganti sistem ekonomi rakyat Indonesia adalah merehabilitasi prasarana ekonomi ekonomi seperti jembatan, alat-alat transportasi dan komunikasi. Selanjutnya Jepang menyita seluruh kekayaan musuh untuk dijadikan hak miliknya seperti, pabrik-pabrik, perusahaan, perkebunan, telekomunikasi, dan lain-lain.

Seluruh kekayaan alam Indonesia dimanfaatkan Jepang untuk biaya perang. Bahan makanan dihimpun dari rakyat untuk persediaan prajurit Jepang, bahkan untuk keperluan perang jangka panjang. Beberapa tindakan Jepang untuk memeras sumber ekonomi rakyat dengan cara;

  • Petani wajib menyetorkan hasil penen untuk keperluan militer
  • Penebangan hutan secara besar-besaran untuk keperluan industri perang
  • Perkebunan yang tidak ada kaitannya dengan keperluan perang dimusnahkan
  • dan penyerahan ternak seperti sapi, kambing dan kerbau bagi pemilik ternak.


Dengan tugas-tugas itulah kekayaan Indonesia menjadi korban dari sistem ekonomi perang pendudukan Jepang.

Dampak Pendudukan Jepang di Bidang Budaya


Akibat pendudukan Jepang yang telah menjajah Tanah Air Indonesia berdampak di bidang budaya juga. Dampak pendudukan Jepang dalam bidang budaya di Indonesia antara lain, tulisan sastra dipergunakan untuk penguasa dan didirikannya pusat kebudayaan di Jakarta serta nama-nama tempat yang berbau kebarat-baratan diindonesiakan. Nama yang berbau Barat yang diindonesiakan antara lain, Java menjadi Jawa, Batavia menjadi Betawi, Meester Cornelis menjadi Jatinegara, Buitezorg menjadi Bogor, dan Preanger menjadi Priangan.

Pada masa pendudukan Jepang, seluruh media komunikasi dikendalikan oleh pemerintah militer, sehingga sebagian besar tulisan sastra digunakan untuk kepentingan penguasa. Walaupun mengundang unsur-unsur semangat patriotisme dan semangat kerja keras, tetapi semuanya diperuntukan bagi pemujaan terhadap Dai Nippon.

Pusat kebudayaan yang bernama Keimin Bunka Shidosho didirikan di Jakarta pada tanggal 1 April 1943. Melalui pusat kebudayaan ini, pemerintah Jepang hendak menanamkan dan menyebarluaskan seni budaya Jepang.

Media masa yang tidak memiliki ijin istimewa akan selalu diawasi oleh badan-badan senior. Walaupun demikian surat kabar dan radio ikut berfungsi menyebar luaskan perkembangan bahasa Indonesia. Larangan memakai bahasa Belanda di semua papan iklan dan papan nama yang kemudian diganti dengan bahasa Indonesia dan Jepang. Sehingga bahasa Belanda menjadi lenyap dari pergaulan sehari-hari dan pertumbuhan bahasa Indonesia tidak dapat dibendung.

Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia Bidang Militer


Dalam bidang militer, dampak yang ditimbulkan oleh pendudukan Jepang sangat luar biasa. Jepang membentuk organisasi-organisasi militer dan semi militer. Hal ini cukup wajar, mengingat Perang Asia Pasifik sudah meluas baik di Asia, Asia Timur, dan Pasifik. Untuk keperluan peperangan tersebut, Jepang memerlukan tenaga bantuan dari Bangsa Indonesia. Inilah organisasi pada masa pendudukan Jepang;

Organisasi Seinendan


Organisasi semi militer yang bernama Seinendan (Barisan Pemuda) secara resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Tujuan pembentukan organisasi tersebut sebenarnya adalah agar Jepang memperoleh tenaga cadangan dan memperkuat pasukan dalam Peran Asia Pasifik.

Organisasi Keibodan (Barisan Pembantu Polisi)


Keibodan adalah organisasi semi militer bentukan Jepang yang dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Uniknya, anggotanya terdiri atas pemuda yang berusia antara 23-25 tahun. Tugas Keibodan adalah membantu polisi untuk menjaga lalulintas, pengamanan desa, sebagai mata-mata, dan lain-lain.

Tujuan organisasi ini adalah untuk memperkuat kewaspadaan dan disiplin masyarakat, serta untuk politik pecah belah. Oleh sebab itu, Keibodan mendapat pengawasan ketat dari tentara Jepang karena menghindari pengaruh kaum nasionalis dalam badan ini.

Organisasi Heiho (Pembantu Tentara Jepang)


Heiho adalah organisasi militer resmi yang dibentuk oleh Jepang pada bulan April 1945. Anggotanya adalah para pemuda yang berusia 18-25 tahun. Heiho merupakan barisan pembantu kesatuan angkatan perang dan dimasukkan sebagai dari ketentaraan Jepang. Heiho dijadikan sebagai tenaga kasar yang dibutuhkan dalam peprangan, misalnya memindahkan senjata dan peluru dari gudang ke atas mobil. Anggota Heiho mencapai 42.000 orang dan ada juga yang dikirim ke luar negeri untuk menghadapi pasukan Sekutu.

Masih banyak organisasi-organisasi militer dan semi militer lain yang dibentuk oleh Jepang yang bertujuan untuk peperangan, seperti Syuisyintai (Barisan Pelopor), Jawa Hokokai (Perhimpunan Kebaktian Rakyat Jawa, dan PETA (Pembela Tanah Air).

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah