-->

[ADS] Top Ads

Organisasi Pergergerakan Pada Masa Pendudukan Jepang di indonesia

Banyak organisasi yang telah didirikan pada zaman pendudukan Jepang. Ada organisasi yang bersifat sosial kemasyarakatan, ada pula organisasi yang bersifat semi militer dan bersifat militer. Berikut ini akan kami jelaskan tentang perkembangan organisasi pergerakan di masa kependudukan Jepang.

Terdapat beberapa perbedaan apabila kita memahami perkembangan organisasi pergerakan antara zaman Belanda dengan era pendudukan Jepang. Pada masa kolonial Belanda, umumnya organisasi pergerakan yang muncul dan berkembang di Indonesia didirikan oleh para Pejuang Rakyat Indonesia, tetapi pada era Jepang banyak organisasi yang dibentuk oleh Jepang, sementara itu para pejuang memanfaatkan organisasi bentukan Jepang untuk kepentingan perjuangan.

Sebagai contoh, Ir. Soekarno pada masa pendudukan Jepang bersedia bekerja sama dengan Jepang. Faktor penyababnya adalah kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905. Sementara itu, Drs. Moh. Hatta dan Sultan Syahrir yang dikenal anti dengan fasisme, seharusnya menentang Jepang. Namun, keduanya menyusun strategi yang saling melengkapi. Moh. Hatta mengambil sikap kooperatif dengan Jepang, sedangkan Sultan Syahrir menyusun pergerakan bawah tanah (gerakan rahasia).
Organisasi Pergerakan Pada Masa Pendudukan Jepang

Organisasi Pada Masa Pendudukan Jepang


Berikut ini adalah organisasi-organisasi yang dibentuk dan berkembang pada masa pendudukan Jepang di Inonesia. Perkumpulan atau organisasi tersebut dibagi menjadi 3 kelompok yaitu, organisasi yang bersifat kemasyarakatan, organisasi bersifat semi militer, dan organisasi bersifat militer.

1. Organisasi yang Bersifat Sosial Kemasyarakatan Masa Pendudukan Jepang


Pada masa pendudukan Jepang terdapat organisasi yang bersifat sosial atau kemasyarakatan. Organisasi tersebut adalah Gerakan Tiga A, Putera, MIAI, Masyumi, dan Jawa Hkokai. Berikut penjelasan organisasi-organisasi tersebut:

a. Gerakan Tiga A
Gerakan Tiga A
Gerakan Tiga A

Perkumpulan ini dibentuk oleh Jepang pada 29 Maret 1942 dan bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia. Sesuai dengan namanya yaitu Tiga A, organisasi ini memiliki semboyan. Berikut semboyan organisasi 3A:
  • Nippon Cahaya Asia
  • Nippon Pelindung Asia
  • Nippon Pemimpin Asia
Pemimpin gerakan organisasi Tiga A bagian propaganda adalah Sedenbu. Ia menunjuk mantan tokoh Parindra Jawa Barat yakni Mr. Syamsudin sebagai ketua dengan dibantu beberapa tokoh lain seperti K. Sutan Pamuncak dan Moh. Saleh.

Sejak bulan Mei 1942, organisasi Tiga A mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui media masa. Dalam gerakan Tiga A juga dibentuk subseksi Islam yang disebut Persiapan Persatuan Umat Islam yang dipimpin oleh Abikusno Cokrosuyono. Ternyata oh ternyata, Jepang berusaha untuk menjadikan perkumpulan ini sebagai wadah propaganda yang efektif. Oleh sebab itu, di berbagai daerah dibentuk komite-komite.

Namun, berbagai upaya yang telah Jepang lakukan melalui gerakan 3A kurang memdapat simpati dari rakyat. Gerakan Tiga A hanya berumur beberapa bulan saja. Jepang menilai perhimpunana itu tidak efektif dan pada bulan Desember 1942 Gerakan Tiga A dinyatakan gagal.

b. Putera (Pusat Tenaga Rakyat)

Pada bulan Desember 1942 dibentuk sebuah panitia persiapan untuk membentuk sebuah organisasi masa. Kemudian Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara dipercaya oleh Jepang untuk membentuk gerakan baru. Gerakan itu bernama Pusat tenaga Rakyat (disingkat PUTERA), dibentuk pada 16 April 1943. Nama-nama tersebut yang kemudian disebut dengan Empat Serangkai. Ketua organisasi Putera adalah Ir. Soekarno.

Tujuan Putera adalah membangun dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang dihancurkan oleh Belanda. Menurut Jepang, Putera bertugas untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia untuk membantu Jepang dalam perang. Di samping tugas di bidang propaganda, perkumpulan atau organisasi tersebut juga bertugas untuk memperbaiki bidang sosial dan ekonomi.

Struktur organisasi Putra yaitu, memiliki empat pimpinan pusat dan pimpinan daerah. Pimpinan pusat disebut dengan Empat Serangkai yaitu, Soekarno, Moh Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur. Kemudian pimpinan daerah dibagi sesuai dengan tingkat daerah, yakni tingkat Syu, Ken, dan Gun. Putera juga memiliki beberapa penasehat yang berasal dari orang Jepang. Meraka adalah G. Taniguci, Iciro Yamasaki, S. Miyoshi, dan Akiyama.

Pada awalnya, Putera mendapat sambutan dari organisasi lain yang sudah ada. Misalnya dari Persatuan Guru Indonesia, Perkumpulan Pos Menengah, Pegawai Pos telegraf Telefon dan radio, serta Pengurus Besar Istri Indonesia. Dari golongan muda mendapat sambutan dari organisasi Barisan Banteng dan dari kelompok pelajar mendapat sambutan dari organisasi Badan Perantara pelajar Indonesia serta Iklan Sport Indonesia. Mereka semua bergabung ke dalam PUTERA.

Organisasi Putera berkembang dan bertambah kuat. Walaupun di tingkat daerah tidak berkembang dengan baik, namun Putera telah berhasil mempersiapkan rakyat secara mental bagi kemerdekaan Indonesia. Melalui rapat-rapat dan media massa, pengaruh Putera semakin kuat dan luas.

Perkembangan organisasi Putera akhirnya menimbulkan kekhawatiran pihak Jepang. Oleh karena, Putera telah dimanfaatkan oleh pemimpin-pemimpin nasionalis untuk mempersiapkan ke arah kemerdekaan, tidak digunakan sebagai usaha menggerakkan massa untuk membantu Jepang.

Ternyata sikap dan tindakan para pemimpin nasionalis ini tercium juga oleh penguasa Jepang, maka pada tahun 1944 Putera dinyatakan bubar oleh Jepang. Melalui badan propaganda Jepang ini Bahasa Indonesia mulai tersebar di kalangan masyarakat Indonesia sekaligus pula membuat nasionalisme Indonesia semakin kuat.

c. Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI)
organisasi MIAI
Gedung MIAI

Berbeda dengan pemerintahan Hindia Belanda yang cenderung anti terhadap umat Islam, Jepang lebih ingin bersahabat dengan umat Islam di Indonesia. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, maka Jepang sangat membutuhkan kekuatan Islam untuk membantu melawan Sekutu. Oleh karenanya, sebuah organisasi Islam yaitu MIAI yang berpengaruh pada masa pemerintahan kolonial Belanda mulai dihidupkan kembali.

Pada tanggal 4 September 1942, organisasi MIAI diizinkan untuk aktif kembali. Dengan demikian, MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia) diharapkan segara dapat digerakkan, sehingga umat Islam di Indonesia dapat gerakkan untuk keperluan Jepang.

Degan aktifnya kembali MIAI, maka MIAI menjadi organisasi pergerakan yang cukup penting di zaman pendudukan Jepang. MIAI menjadi tampat bersilaturahmi, menjadi tempat wadah untuk berdialog, dan bermusyawarah untuk membahas berbagai hal yang menyangkut kehidupan Umat. MIAI senantiasa menjadi organisasi pergerakan yang diperhitungkan dalam membangun kesatuan dan kesejahteraan umat.

Semboyan dari organisasi MIAI adalah "berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah berpecah belah". Dengan demikian, pada masa pendudukan Jepang, MIAI berkembang baik. Kantor pusat awalnya berada di Surabaya, kemudian pindah ke Jakarta.

Taukah Anda, bahwa semboyan yang dipakai oleh organisasi MIAI diambil dari Alqur'an yaitu;

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (S.Q. Ali,ran Ayat 103)

Adapun tugas dan tujuan MIAI waktu itu adalah sebagai berikut;
  • Menempatkan umat Islam pada kedudukan yang layak dalam masyarakat Indonesia.
  • Mengharmoniskan Islam dengan tuntutan perkembangan zaman.
  • Ikut membantu Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.

Untuk mewujudkan tujuan dan melaksanakan tugas tersebut, MIAI membuat beberapa program yang yang menitik beratkan pada program yang bersifat sosio-ragilius. Secara khusus program-program itu diwujudkan melalui rencana sebagai berikut:
  • Mambangun masjid di Jakarta
  • Mendirikan Universitas
  • Membentuk baitulmal
Dari ketiga program tersebut yang mendapatkan izin dari Jepang hanya program yang terakhir, yaitu membentuk baitulmal.

Wikipedia Bahasa Indonesia menyebutkan: "Baitul Mal adalah suatu lembaga atau pihak (al jihat) yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara. Baitul Mal dapat juga diartikan secara fisik sebagai tempat (al-makan) untuk menyimpan dan mengelola segala macam harta yang menjadi pendapatan negara."

Mengapa Jepang hanya mengizinkan program baitulmal saja? karena program organisasi MIAI (membangun masjid dan mendirikan universitas) tidak dapat berkontribusi untuk membantu Jepang dalam memenangkan peperangan Asia Timur Raya.

MIAI terus berkembang di tengah-tengah ketidakcocokan dengan kebijakan Jepang. MIAI menjadi tempat pertukaran dan pembangunan kesadaran rakyat agar tidak terjebak pada perangkap kebijakan Jepang yang semata-mata untuk memenangkan perang Asia Timur Raya.

Pada bulan Mei 1943, MIAI berhasil membentuk Majelis Pemuda yang diketuai oleh Ir. Sofyan dan juga membentuk Majelis Keputrian yang dipimpin oleh Siti Nurjanah. Bahkan dalam mengembangkan aktivitasnya MIAI juga menerbitkan majalah yang disebut Suara MIAI.

Keberhasilan program baitulmal, semakin memperluas jangkauan perkembangan MIAI. Dana yang terkumpul dari program tersebut semat-amata untuk mengembangkan organisasi dan perjuangan di jalan Allah, bukan untuk membantu Jepang.

Arah perkembangan MIAI ini mulai dipahami oleh Jepang sebagai organisasi yang tidak memberi konstribusi terhadap Jepang. Hal tersebut tidak sesuai dengan harapan Jepang sehingga pada November 1943 MIAI dibubarkan.

d. Majelis Syura Muslim (Masyumi)
Masyumi
Logo Masyumi

Sebagai ganti dari MIAI, Jepang membentuk organisasi Masyumi (Majelis Syura Muslim). Harapan Jepang membentuk majelis ini adalah agar dapat mengumpulkan dana dan dapat menggerakkan umat Islam untuk menopang kegiatan perang Asia Timur Raya.

Ketua Masyumi adalah K.H. Hasyim As'ari dan wakil ketuanya adalah Mas Mansur dan Wahid Hasyim. Orang yang diangkat sebagai penasehat dalam organisasi ini adalah Ki Bagus Hadikusumo dan Abdul Wahab. Masyumi, sebagai organisasi Islam, anggotanya sebagian besar dari kalangan Ulama. Dengan kata lain, Ulama dilibatkan dalam kegiatan pergerakan politik.

Masyumi cepat berkembang, di setiap karesidenan ada cabang Masyumi. Oleh karena itu, Masyumi berhasil meningkatkan hasil bumi dan pengumpulan dana. Dalam perkembangannya, tampil tokoh-tokoh muda di dalam Masyumi antara lain Moh. Natsir, Harsono Cokroaminoto, dan Prawoto Mangunsasmito.

Perkembangan ini telah membawa Masyumi semakin maju dan warna politiknya semakin jelas. Masyumi berkembang menjadi wadah untuk bertukar pikiran antara tokoh-tokoh Islam dan sekaligus menjadi tempat penampungan keluh kesah rakyat.

Masyumi menjadi organisasi massa yang pro rakyat, sehingga menentang keras adanya romusa. Masyumi menolak perintah Jepang dalam pembentukannya sebagai penggerak romusa. Dengan demikian Masyumi telah menjadi organisasi pejuang yang membela rakyat.

e. Jawa Hokokai

Pada tahun 1944, situasi perang Asia Timur Raya muai berbalik. Tentara Sekutu dapat mengalahkan tentara Jepang di berbagai tempat. Hal tersebut membuat kedudukan Jepang semakin mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, Panglima Tentara Jepang ke-16, Jendral Kumaikici Harada membentuk organisasi baru yang diberi nama Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa).

Dengan dibentuknya organisasi tersebut, Rakyat Indonesia diharapkan memberi darma baktibaktinya terhadap pemerintah demi kemenangan perang. Kebaktian yang dimaksud ada tiga hal, yaitu;
  • mengorbankan diri
  • mempertebal persaudaraan,
  • dan melaksanakan suatu tindakan dengan bukti.

Susunan dan kepemimpinan organisasi Jawa Hokokai berbeda dengan Putera. Jawa Hokokai benar-benar organisasi resmi dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang. Oleh karena itu, pimpinan Jawa Hokokai sampai pimpinan daerah langsung dipegang oleh Jepang.

Pimpinan pusat Jawa Hokokai dipegang oleh Gunseikan, sedangkan penasehatnya adalah Ir. Soekarno dan KH. Hasyim As'ari. Di tingkat daerah (syu/shu) dipimpin oleh Syucokan/Shucokan dan seterusnya sampai daerah ku (desa) oleh Kuco (kepala desa/lurah), bahkan sampai gumi di bawah pimpinan Gumico. Dengan demikian, Jawa Hokokai memiliki alat organisasi sampai ke desa-desa, dukuh, bahkan sampai tingkat rukun tetangga (Gumi atau Tonarigumi).

Tonarigumi dibentuk untuk mengorganisasikan seluruh penduduk dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas 10-20 keluarga. Para kepala desa dan kepala dukuh serta ketua RT bertanggung jawab atas kelompok masing-masing.

Program-Program Kegiatan Organisasi Jawa Hokokai adalah;
  • Melaksanakan segala tindakan dengan nyata dan ikhlas demi pemerintah Jepang
  • Memimpinrakyat untuk mengembangkan tenaganya berdasarkan semangat persaudaraan,
  • memperkokoh pembelaan Tanah Air.

Jawa Hokokai adalah organisasi pusat yang anggota-anggotanya terdiri atas bermacam-macam hokokai (himpunan kebaktian) sesuai dengan bidang profesinya. Misalnya Kyoiku Hokokai (kebaktian para pendidik guru-guru) dan Isi Hokokai (wadah kebaktian para dokter).

Jawa Hokokai juga mempunyai anggota istimewa, seperti Fujinkai (organisasi wanita), dan Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan). Di dalam membantu memenangkan perang, Jawa Hokokai telah berusaha antara lain dengan pengerahan tenaga dan memobilisasi potensi sosial ekonomi, misalnya dengan penarikan hasil bumi sesuai dengan target yang di tentukan.

Organisasi Jawa Hokokai ini tidak berkembang di luar Jawa, sehingga Golongan nasionalis di luar Jawa kurang mendapatkan wadah. Penguasa di luar Jawa seperti di Sumatra berpendapat bahwa di Sumatra terdapat banyak suku, bahasa, dan adat istiadat, sehingga sulit dibentuk organisasi yang besar dan memusat, kalau ada hanya lokal di tingkat daerah saja. Dengan demikian, organisasi Jawa Hokokai ini juga dapat berkembang sesuai yang diinginkan Jepang.

2. Organisasi Semi Militer Pada Masa Pendudukan Jepang


Jepang berusaha mengembangkan organisasi militer yang sesuai dengan sifat pemerintahan militer. Namun, untuk memperkuat pemerintahannya, Jepang juga mengembangkan organisasi-organisasi semi militer dan pergerakan para pemuda yang kuat fisiknya.

Adapun organisasi semi militer pada masa pendudukan Jepang adalah
  • Organisasi Seinendan
  • Keibodan
  • Barisan Pelopor
  • Hizbullah dan
  • Pengerahan Tenaga Pemuda.

a. Pengerahan Tenaga Pemuda

Menurut Jepang, pemuda Indonesia yang tinggal di daerah pedesaan belum terpengaruh oleh alam pikiran Barat. Mereka secara fisik cukup kuat, semangat, dan pemberani. Oleh karena itu, perlu dikerahkan untuk membantu memperkuat posisi Jepang dalam menghadapi perang.

Sebelum secara resmi Jepang membentuk organisasi-organisasi semi militer, Jepang telah melatih para pemuda untuk menjadi pemuda yang disiplin, memiliki semangat juang tinggi (seishin) dan berjiwa ksatria (bushido) yang tinggi. Sesuai dengan sifat pemuda yang energik, maka yang ditekankan kepada para pemuda adalah seishin (semangat) dan bushido (jiwa satria).

Latihan-latihan yang diadakan Jepang, antara lain BPAR (Barisan Pemuda Asia Raya). Wadah ini digunakan untuk menanamkan semangat Jepang. BPAR diadakan dari tingkat pusat di Jakarta. Kemudian di daerah-daerah dibentuk Komite Penginsafan Pemuda, yang anggota-anggotanya terdiri atas unsur kepanduan. Bentuk komite seperti ini sifatnya lokal dan disesuaikan dengan situasi daerah masing-masing.

Barisan Pemuda Asia Raya tingkat pusat diresmikan pada tanggal 11 Juni 1942 dengan pimpinan dr. Slamet Sudibyo dan S.A. Saleh. Sebenarnya, BPAR bagian dari Gerakan Tiga A. Program latihan di BPAR diadakan dalam jangka waktu tiga bulan dan jumlah peserta tidak dibatasi. Semua pemuda boleh masuk mengikuti latihan. Di dalam latihan-latihan tersebut ditekankan pentingnya semangat dan keyakinan, mengingat mereka akan menjadi pimpinan para pemuda.

b. Organisasi Seinendan

Seinendan (Korps Pemuda) adalah organisasi para pemuda yang berusia 14-22 tahun. Pada awalnya, anggota Seinendan 3.500 orang pemuda dari seluruh Jawa. Tujuan dibentuknya Seinendan adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri.

Bagi Jepang, untuk mendapatkan tenaga cadangan guna memperkuat usaha mencapai kemenangan dalam perangAsia Timur Raya, perlu diadakannya pengerahan kekuatan pemuda. Oleh karena itu, Jepang melatih para pemuda atau para remaja melalui organisasi Seinendan. Dalam hal ini Seinendan difungsikan sebagai barisan cadangan yang mengamankan garis belakang.

c. Organisasi Keibodan

Organisasi Keibodan (Korps Kewaspadaan) merupakan organisasi semimiliter yang anggotanya para pemuda yang berusia antara 25-35 tahun. Ketentuan utama untuk dapat masuk Keibodan adalah mereka yang berbadan sehat dan berkelakuan baik. Apabila dilihat dari usianya, para anggota Keibodan sudah lebih matang dan siap untuk membantu Jepang dalam keamanan dan ketertiban.

Pembentukan Keibodan ini memang dimaksudkan untuk membantu tugas polisi, misalnya menjaga lalu lintas dan pengamanan desa. Untuk itu anggota Keibodan juga dilatih kemiliteran. Pembina keibodan adalah Departemen Kepolisian (Keimubu) dan di daerah syu (shu) dibina oleh Bagian Kepolisian (Keisatsubu). Di kalangan orang-orang Cina juga dibentuk Keibodan yang dinamakan Kakyo Keibotai.

d.  Barisan Pelopor

Pada pertengahan tahun 1944, diadakan rapat Chuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat). Salah satu keputusan rapat tersebut adalah merumuskan cara untuk menumbuhkan keinsyafan dan kesadaran yang mendalam di kalangan rakyat untuk memenuhi kewajiban dan membangun persaudaraan untuk seluruh rakyat dalam rangka mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh.

Sebagai wujud konkret dari kesimpulan rapat itu maka pada tanggal 1 November 1944, Jepang membentuk organisasi baru yang dinamakan “Barisan Pelopor”. Melalui organisasi ini diharapkan adanya kesadaran rakyat untuk berkembang, sehingga siap untuk membantu Jepang dalam mempertahankan Indonesia.

Organisasi semimiliter “Barisan Pelopor” ini tergolong unik karena pemimpinnya adalah seorang nasionalis, yakni Ir. Sukarno, yang dibantu oleh R.P. Suroso, Otto Iskandardinata, dan Buntaran Martoatmojo.

e. Hizbullah

Pada tanggal 15 Desember 1944 berdiri pasukan sukarelawan pemuda Islam yang dinamakan Hizbullah (Tentara Allah) yang dalam istilah bahasa Jepang disebut Kaikyo Seinen Teishinti.

Tugas pokok Hizbullah adalah sebagai berikut:
Sebagai tentara cadangan dengan tugas:
  • melatih diri jasmani maupun rohani dengan segiat-giatnya,
  • membantu tentara Dai Nippon,
  • menjaga bahaya udara dan mengintai mata-mata musuh, dan
  • menggiatkan dan menguatkan usaha-usaha untuk kepentingan perang
Sebagai pemuda Islam, dengan tugas:
  • menyiarkan agama Islam,
  • memimpin umat Islam agar taat menjalankan agama, dan
  • membela agama dan umat Islam Indonesia.

Untuk mengoordinasikan program dan kegiatan Hizbullah, maka dibentuk pengurus pusat Hizbullah. Ketua pengurus pusat Hizbullah adalah KH. Zainul Arifin, dan wakilnya adalah Moh. Roem. Anggota pengurusnya antara lain, Prawoto Mangunsasmito, Kiai Zarkasi, dan Anwar Cokroaminoto.

3. Organisasi Militer Pada Masa Pendudukan Jepang


Paling tidak terdapat 2 organisasi militer pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Organisasi tersebut adalah Heiho dan Peta. Berikut perinciannya.

a. Heiho

Heiho (Pasukan Pembantu) adalah prajurit Indonesia yang langsung ditempatkan di dalam organisasi militer Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut. Syarat-syarat untuk menjadi tentara Heiho antara lain:
  • umur 18-25 tahun
  • berbadan sehat
  • berkelakuan baik, dan
  • berpendidikan minimal sekolah dasar.

Tujuan pembentukan Heiho adalah membantu tentara Jepang. Kegiatannya antara lain, membangun kubu-kubu pertahanan, menjaga kamp tahanan, dan membantu perang tentara Jepang di medan perang. Sebagai contoh, banyak anggota Heiho yang ikut perang melawan tentara Amerika Serikat di Kalimantan, Irian, bahkan ada yang sampai ke Birma.

b. Peta
organisasi pada masa pendudukan jepang
Peta

Peta adalah organisasi militer yang pemimpinnya bangsa Indonesia yang mendapatkan latihan kemiliteran. Mula-mula yang ditugasi untuk melatih anggota Peta adalah seksi khusus dari bagian intelijen yang disebut Tokubetsu Han.

Bahkan sebelum ada perintah pembentukan Peta, bagian Tokuhetsu Han sudah melatih para pemuda Indonesia untuk tugas intelijen. Latihan tugas intelijen dipimpin oleh Yanagawa.

Latihan Peta itu kemudian berkembang secara sistematis dan terprogram. Penyelenggaraannya berada di dalam Seinen Dojo (Panti Latihan Pemuda) yang terletak di Tangerang. Mula-mula anggota yang dilatih hanya 40 orang dari seluruh Jawa.

Pada akhir latihan angkatan ke-2 di Seinen Dojo, keluar perintah dari Panglima tentara Jepang Letnan Jenderal Kumaikici Harada untuk membentuk Tentara “Pembela Tanah Air”(Peta). Berkaitan dengan itu, Gatot Mangkuprojo diminta untuk mengajukan rencana pembentukan organisasi Tentara Pembela Tanah Air.

Akhirnya, pada tanggal 3 Oktober 1943 secara resmi berdirilah Peta. Berdirinya Peta ini berdasarkan peraturan dari pemerintah Jepang yang disebut Osamu Seinendan, nomor 44.

Kesimpulan


Organisasi yang berdiri pada masa pendudukan Jepang adalah sebagai berikut;
  • Gerakan Tiga A
  • Putera (Pesat Tenaga Rakyat)
  • MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia)
  • Masyumi (Majelis Syura Muslim)
  • Jawa Hokokai

Organisasi tersebut bersifat kemasyarakatan sosial, sedangkan organisasi yang bersifat semi militer adalah:
  • Seinendan
  • Keibodan
  • Barisan Pelopor
  • Hizbullah
  • Pengerahan tenaga Pemuda

Organisasi yang bersifat militer pada masa pendudukan Jepang adalah Peta dan Heiho.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah