-->

[ADS] Top Ads

Jenis-Jenis Peninggalan Sejarah Hindu Budha di Indonesia

Peninggalan Sejarah Hindu Budha di Indonesia
Peninggalan Sejarah Hindu Budha di Indonesia

Kalian pasti sudah tahu bahwa candi merupakan salah satu peninggalan sejarah yang bercorak Hindu Budha di Indonesia. Namun, tahukah kalian bahwa peninggalan sejarah Hindu Budha bukan hanya berupa candi. Karena di masa kerajaan Hindu Budha ternyata banyak sekali meninggalkan berbagai peninggalan yang bersejarah. Apa sajakah peninggalan-peninggalan bersejarah yang bercorak Hindu Budha itu? Mari kita pelajari bersama-sama tentang beberapa jenis peninggalan sejarah Hindu Budha yang ada di Indonesia.


A. Candi


Dasar bangunan candi sebenarnya adalah punden berundak-undak yang pernah berkembang pada masa bercocok tanam. Bangunan ini dianggap suci sebagai tempat untuk memuja roh-roh nenek moyang pada masa itu. Adapun candi yang ditemukan di Indonesia adalah sebagai berikut;

1. Candi Prambanan

Terletak di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dibangun pada abad ke IX, di masa Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Hindu. Candi tersebut dibangun oleh Raja Pikatan sebagai rasa syukur kepada Dewa Siwa. Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Asia Tenggara. Candi ini merupakan karya monumental dari Dinasti Sanjaya setelah kembali berkuasa di Mataram.

2. Candi Borobudur

Candi ini terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan di bangun pada masa Raja Samaratungga pada 824 M. Walaupun candi ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan Mataram Kuno juga (sama seperti Prambanan), namun candi ini adalah peninggalan yang bercorak Budha. Dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno terpecah menjadi dua, yang satu bercorak Hindu dan yang lain bercorak Budha. Ingin tahu lebih jelas, silahkan baca Kerajaan Bercorak Hindu Budha di Indonesia pada Bab Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Borobudur merupakan candi yang sangat terkenal di seluruh jagat. Bagaimana tidak, jika kalian memandang candi Borobudur dari kejauhan, maka akan tampak megah, indah, dan berdiri kokoh di atas permukaan tanah. Sebuah maha karya yang tidak ternilai harganya dari masa lampau. Dan tidak mengherankan jika Candi Borobudur termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

3. Candi Mendut

Candi Mendut merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan yang bercorak Budha yang didirikan oleh Raja Indra pada 824 M. Di dalam candi terdapat tiga patung, yaitu Budha Cahyamuni, dengan posisi duduk bersila, Maitrya, dan Avalokitewara. Uniknya, antara candi Mendut, Borobudur, dan candi Pawon terdapat hubungan khas, yaitu ketiganya terletak pada garis lurus. Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km ke arah barat laut dari Yogyakarta. 

4. Candi Terletak di Dataran Tinggi Dieng

Candi yang terletak di daerah Dieng lebih banyak menggunakan nama tokoh pewayangan, seperti candi Gatotkaca, Candi Arjuna, dan candi Semar. Letak candi tersebar di beberapa tempat di Dieng dan bangunannya kecil-kecil. Hal itu menunjukan sifat demokratis yang dianut oleh dinasti Sanjaya. Candi yang berada di Dieng merupakan candi yang bercorak Hindu.

5. Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko sebenarnya bukan candi yang digunakan untuk upacara keagamaan, melainkan sebuah istana. Peninggalan itu terletak di perbukitan dan dikelilingi oleh tembok dan selokan. Oleh sebab itu, bangunan itu diduga sebagai istana keluarga dari raja-raja dinasti Syailendra. Karana candi ini milik raja-raja dari dinasti Syailendra, maka candi ini bercorak Budha.

6. Candi Sewu

Candi Sewu merupakan peninggalan sejarah yang bercorak Budha, tetapi menggunakan arsitek dalam bentuk candi Hindu Prambanan (semacam akulturasi). Candi Sewu terdiri dari satu candi Induk dan dikelilingi oleh 550 candi kecil-kecil yang tersusun dalam empat baris. Semua dikelilingi oleh tembok benteng yang berbentuk persegi empat. Disebut dengan Candi Sewu karena jumlahna yang sangat banyak. Candi ini dibangun pada abad ke-9 M, pada masa pemerintahan Pramodhawardani.

7. Candi-Candi Lainnya

Selain candi-candi di atas juga terdapat candi-candi lainnya yang merupakan peninggalan sejarah kerajaan Hindu Budha yaitu;

a. Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno
Ada dua jenis, yaitu candi bercorak Hindu dan candi bercorak Budha
Candi Hindu

  • Kelompok Candi Dieng, terletak di Kabupaten Wonosobo. Di sini terdapat beberapa candi yang oleh penduduk setempat diberi nama tokoh wayang, seperti Semar, Puntadewa, Bima, Arjuna, Gatutkaca, dan lain-lain.
  • Candi Sambisari, terletak di dekat Yogyakarta. Dibangun pada masa Raja Garung.
  • Kelompok Candi Loro Jonggrang (Prambanan), terletak di perbatasan Klaten-Sleman. Di kelompok ini ada 3 candi induk, yakni Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu.
  • Kelompok Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran.

Candi Budha

  • Candi Borobudur, terletak di Kabupaten Magelang. Dibangun pada masa Raja Samaratungga.
  • Candi Pawon (Brajanalan), terletak di Kabupaten Magelang. Dibangun oleh Pramodyawardani.
  • Candi Mendut, terletak di Kabupaten Magelang. Di dalamnya terdapat patung Padmapani dan Wajrapani.
  • Candi Kalasan, terletak di Kabupaten Sleman. Dibangun oleh Raja Panangkarang.
  • Candi Ngawen, terletak di Kabupaten Muntilan. Candi ini dibuat oleh Raja yang beragama Hindu, dan diperuntukkan bagi umat yang beragama Buddha.

b. Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

  • Kelompok Candi Muara Takus, terletak di Bangkinang, Kampar, Riau.
  • Kelompok Candi Gunung Tua, terletak di Padangsidempuan, Tapanuli, Sumatra Utara. Di kelompok ini ada satu candi yang bentuknya khas, yaitu Candi Biaro Barhal.
  • Candi Portibi.
  • Percandian Muara Jambi.


B. Prasasti


Ada banyak peninggalan sejarah bercorak Hindu Budha di Indonesia yang berupa prasasti, diantaranya;

  1. Prasasti Yupa. Merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Kutai yang berada di Kalimantan. Tedapat 7 buah prasasti yang ditemukan di daerah Muarakaman. Prasasti Yupa adalah tugu batu yang bertuliskan syair-syair pujian kepada Raja Mulawarman, dengan huruf pallawa dan bahasa sansekerta.
  2. Prasasti Kedukan Bukit. Isinya antara lain menerangkan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu. Ia berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara 20.000 personel.
  3. Prasasti Canggal (Kerajaan Mataram Kuno). Isinya memuat pendirian Kerajaan Mataram Lama oleh Raja Sanjaya.
  4. Prasasti Ratu Boko (dinasti Syailendra). Isinya memuat pelarian Raja Balaputra Dewa ke Sriwijaya setelah kalah perang menghadapi kakaknya Pramodhawardani.
  5. Prasasti Ciaruteun ( Raja Tarumanegara). Isinya memuat keperkasaan dan kebijaksanaan pemerintahan seorang raja.
  6. Prasasti Kalasan (778), isinya Raja Panangkaran telah memberikan hadiah tanah dan memerintahkan membangun sebuah candi untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk pendeta agama Buddha.
  7. Prasasti Kelurak (782), isinya tentang pembuatan arca Manjusri yang terletak sebelah utara Prambanan.
  8. Prasasti Ciaureuteun (Ciampea)
  9. Prasasti Jambu (Pasir Koleangkak)
  10. Prasasti Pasir Awi (leuwiliang)
  11. Prasasti Lebak (Cidang Hiang)
Dan masih banyak lagi prasasti-prasasti yang menjadi peninggalan sejarah pada masa kerajaan Hindu Budha di Indonesia.


C. Karya Sastra


Pada masa kuno, di Indonesia, budaya Hindu Budha juga mempengaruhi di bidang karya sastra dan terdapat banyak peninggalan sejarah yang telah ditemukan. Karya sastra yang terkenal antara lain;

1. Kitab Sutasoma

Sutasoma juga merupakan karya sastra yang terkenal dari Kerajaan Majapahit. Kitab ini disusun oleh Empu Tantular. Kitab Sutasoma memuat kata­kata yang sekarang menjadi semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

2. Kitab Baratayuda

Kitab Baratayuda digubah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada zaman Jayabaya untuk memberikan gambaran terjadinya perang saudara antara Panjalu melawan Jenggala. Perang saudara itu digambarkan sebagai perang antara Kurawa dengan Pandawa yang masing­masing merupakan keturunan Barata.

3. Kitab Negarakertagama

Negarakertagama merupakan karya sastra paling terkenal pada zaman Majapahit. Kitab ini ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 M. Di samping menunjukkan kemajuan Majapahit di bidang sastra, Negarakertagama juga menjadi sumber sejarah Majapahit.

4. Kitab Lubdaka

Kitab Lubdaka ditulis oleh Empu Tanakung. Isinya tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Ia sudah banyak membunuh. Pada suatu ketika, ia mengadakan pemujaan istimewa terhadap Syiwa sehingga roh yang semestinya masuk neraka akhirnya masuk surga.

6. Kitab Smaradahana

Kitab Smaradahana ditulis oleh Empu Darmaja. Isinya menceritakan sepasang suami istri, Smara dan Rati yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rati kena kutuk dan mati terbakar oleh api (dahana) karena kesaktian Dewa Syiwa. Akan tetapi, kedua suami istri itu dihidupkan lagi dan menjelma sebagai Kameswara dan permaisurinya.

7. Kitab Kresnayana

Kitab Kresnayana ditulis oleh Empu Triguna pada zaman Raja Jayaswara. Isinya mengenai perkawinan antara Kresna dengan Dewi Rukmini.


D. Relief (Seni Ukir)


Relief adalah seni pahat dengan gambar timbul dan umumnya terdapat pada dinding candi. Biasanya terdapat pada lorong candi dan gambar timbul itu adalah cerita yang diambil dari karya sastra Hindu Budha. Oleh sebab itu karena relief merupakan peninggalan sejarah yang berupa seni, maka sering dalam ruang lingkup sejarah sering disebut sebagai contoh sejarah sebagai seni.

Adapun ralief atau seni ukir yang merupakan peninggalan sejarah Hindu Budha adalah sebagai berikut;

1. Relief Candi Borobudur, terdapat 3 cerita;
  • Latitawistara: cerita rakyat Buddha Gautama dari lahir hingga mendapat bidhi. Relief ini terdapat pada dinding pertama.
  • Ganda Wyuha: menceritakan usaha Sudhana mencari ilmu tertinggi. Relief ini terdapat pada lorong dinding kedua.
  • Karmawibhangga: menggambarkan perbuatan manusia dan hukuman atas perbuatan itu.
2. Candi Jago; terdapat 3 relief yang menceritakan tentang 
  • Kresnayana, 
  • Parthayajna, 
  • dan Kunjara Karna.
3. Relief Candi Loro Joggrang (Prambanan), terdapat 2 relief cerita;
  • Ramayana: terdapat pada lorong Candi Syiwa diteruskan pada lorong Candi Brahma.
  • Kresnayana: terdapat pada lorong Candi Wisnu.
4. Relief Candi Penataran, terdapat 2 relief cerita, yakni;
  • Ramayana 
  • dan Kresyana.
5. Relief Candi Surowono, Reliefnya berupa ceria Arjuna Wiwaha.


E. Arca (Patung)


Jenis peninggalan sejarah Hindu Budha di Indonesia juga ada yang berupa arca. Arca merupakan hasil pahatan yang berbahan dasar kayu, batu, atau bahan lain yang berbentuk tiruan manusia, hewan dan lainnya. Para penganut hindu, biasanya raja yang sudah meninggal kemudian dibuatkan arca yang mirip dengannya. Sementara para penganut Budha, arca sering digunakan untuk menggambarkan Budha Gautama.

Berikut adalah peninggalan-peninggalan bersejarah yang berupa arca
1. Arca peninggalan agama Hindu
  • Syiwa (Mahadewa, Mahaguru, Bhairawa, Mahakala)
  • Wisnu
  • Brahma
  • Durga (Mahisa Sura Mardini, Kali, Parwati),
  • Ganesha
  • Dwarapala
  • dan Linggayomi.
2. Patung Agama Budha
  • Dhyani Buddha, ada lima bentuk: Wairocana (dewa penguasa zenith), Amithaba (dewa penguasa barat), Amogasidhi (dewa penguasa utara), Ratna Sambhawa (dewa penguasa selatan), dan Aksobhnya (dewa penguasa timur).
  • Dhyani Bodhisatwa, ada tiga bentuk: Awalokiteswara, Padmapani, Maitreya
  • Dewi Tara
Itulah jenis-jenis peninggalan sejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.

Kesimpulan

Banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah Hindu Budha di Indonesia. Paling tidak terdapat lima jenis peninggalan yang telah disebutkan, yaitu;
  1. Peninggalan sejarah berupa candi.
  2. Peninggalan sejarah berupa prasasti.
  3. Peninggalan sejarah berupa karya sastra.
  4. Peninggalan sejarah berupa relief.
  5. Peninggalan sejarah berupa arca.
Sekian dan terimakasih, semoga mendapatkan pengetahuan baru dan menambah informasi kalian.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah