-->

[ADS] Top Ads

11 Peninggalan Sejarah Hindu Budha di Indonesia

Peninggalan Hindu Budha di Indonesia
Peninggalan Sejarah Hindu Budha di Indonesia
Di Indonesia banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah Hindu Budha yang masih terawat dan dapat dijadikan referensi untuk penelitian. Bahkan ada juga yang menjadi tempat pariwisata dan telah terkenal di seluruh jagat. Ini membuktikan bahwa, dahulu pengaruh Hindu Budha di Indonesia sangat luas dan telah merubah sebagian besar budaya yang ada di Indonesia, walau tidak menghilangkan budaya asli Indonesia.

Peninggalan sejarah Hindu Budha di Indonesia umumnya berasal dari India. Dari penemuan-penemuan budaya tersebut, menunjukan bahwa persebaran Hindu Budha hampir meluas ke seluruh Indonesia. Peninggalan bercorak Hindu Budha banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Jika Anda ingin mengetahui tentang peninggalan-peninggalan Hindu Budha di Indonesia, silahkan simak penjelasan di bawah ini.

1. Candi Borobudur

Peninggalan Hindu Budha Candi Borobudur
Candi Borobudur
Gambar di atas adalah candi Borobudur yang telah terkenal di seluruh mancanegara. Apabila dilihat dari jauh, bangunan itu akan tampak tegak menjulang, megah, indah, dan penuh dengan karya seni. Jika dilihat dari dekat, bangunan itu tertata rapi dan semuanya berbahan dasar batu. Dinding-dinding yang dipahat bagai sedang mengisahkan masa lampau, arca-arca yang terdapat di beberapa sudut juga menambah keelokan.

Candi Borobudur dibangun pada tahun 824 Masehi, pada masa Raja Samaratungga dari Kerajaan Mataram Kuno. Menurut Poerbatjaraka, nama Borobudur berasal dari kata biara (wihara) dan bidur (tampat yang menonjol di atas bukit. Jadi, Borobudur berarti kecil atau wihara pendeta yang terletak di atas bukit.

Reruntuhan candi Borobudur mulai di selidiki pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Thomas Stamfrod Raffless. Ia menugaskan H.C. Cornelius untuk mengadakan penyelidikan kebudayaan pribumi pada tahun 1815. Tahun 1835, bentuk susunan candi mulai terungkap oleh A. Shaefer, seniman dari Jerman. Dikatakan, bahwa bentuk candi yang meruncing ke atas menunjukan sifat otoriter pemerintahan.

Candi Borobudur dibangun pada masa Dinasti Syailendra pada pemerintahan Samaratunnga. Candi ini merupakan monumen Budha termegah di dunia. Tidak heran, karena kemegahan dan keagungannya candi Borobudur oleh UNESCO ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia.

Jika kalian ingin mengunjungi candi Borobudur yang merupakan peninggalan sejarah di masa Hindu Budha, silahkan datang ke alamat Jalan Badrawati, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

2. Candi Prambanan

Candi Prambanan
Candi Prambanan
Candi Prambanan terletak di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Dibangun pada abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Hindu. Candi tersebut dibangun oleh Raja Pitakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Dewa Siwa.

Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar se Asia Tenggara. Candi ini merupakan karya monumental dari Dinasti Sanjaya setelah berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Candi Prambanan dapat dikatakan sebagai tandingan candi Borobudur. Kelebihan candi tersebut adalah gayanya yang lebih demokratis, jumlah candi lebih banyak, terlebih candi Perwara yang berjumlah 224 candi.

Candi Prambanan terdiri atas tiga halaman. Candi induk pada halaman pertama adalah candi Dewa Siwa yang menghadap ke arah Timur. Pada halaman ke-2 terdapat candi Perwara, yaitu candi kecil yang tersusu menjadi empat deret. Di halaman luar belum ditemukan peninggalan candi atau bangunan lainnya. Pada dinding candi Siwa terdapat relief cerita ramayana.

3. Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun merupakan benda arkeologi peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Pada prasasti tersebut terdapat lukusan laba-laba dan telapak kaki yang dipercaya sebagai telapak raja Purnawarman. Prasasti tersebut tertulis syair indah yang terdiri atas empat baris. Isinya tentang keperkasaan dan kebijaksanaan pemerintahan seorang raja.
Baca Juga: Kerajaan Bercorak Hindu-Budha di Indonesia
Prasasti Ciaruteun ditemukan di tepi sungai Ciaruteun yang tidak jauh dari sungai Sadane, Bogor. Prasasti Ciaruteun terletak di Desa Ciaruteun Ilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pada tahun 1863 di Hindia Belanda, sebuah batu besar dengan ukiran aksara purba dilaporkan ditemukan di dekat Tjampea (Ciampea), tak jauh dari Buitenzorg (kini Bogor). Batu berukir itu ditemukan di Kampung Muara, di aliran sungai Ciaruteun, salah satu anak sungai Cisadane.

4. Prasasti Yupa

Prasasti Yupa
Prasasti Yupa
Yupa merupakan tugu atau tiang terbuat dari batu dan biasanya digunakan untuk menempatkan hewan untuk persembahan. Tiang batu tersebut bertuliskan syair bahasa Sansekerta dengan tulisan huruf Pallawa yang ditujukan kepada Raja Mulawarman. Prasasti Yupa merupakan catatan tertulis Indonesia yang paling tua yang masih ada, berasal dari tahun 400 Masehi.

Prasasti Yupa juga disebut dengan Prasasti Tarumanegara atau Prasasti Kutai, karena peninggalan Kerajaan Kutai. Prasasti ini terdapat tujuh buah dan buru empat buah prasasti yang dapat diterjemahkan. Isinya menceritakan Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan kepada para kaum Brahmana berupa sapi yang banyak. Mulawarman disebutkan sebagai cucu dari Kudungga, dan anak dari Aswawarman.

5. Gua Gajah di Bali

Gua Gajah di Bali
Gua Gajah di Bali
Gua Gajah merupakan salah satu situs peninggalan Bali Kuno. Bagian depan gua dipenuhi ukiran yang menggambarkan pegunungan dengan berbagai binatang, dalam susunan seperti beberapa adegan di Borobudur. Bagian dalam gua berisi benda-benda peninggalan pemujaan Siwa. Namun, adanya arca-arca Buddha dan pecahan reruntuhan stupa batu menunjukkan bahwa orang-orang Buddha pernah memuja di tempat ini.
Baca Juga: Jenis-Jenis Peninggalan Sejarah Hindu Budha di Indonesia

6. Patung Adityawarman

Patung Adityawarman
Patung Adityawarman

Patung/arca Adityawarman merupakan patung raksasa yang ditemukan di dekat perbatasan Sumatra Barat dan Jambi. Patung tersebut melukiskan Bhairawa, sosok yang mewujudkan dorongan-dorongan negatif manusia. Patung yang berwujud seorang lelaki memegang mangkuk tengkorak dan pisau serta berdiri di atas setumpuk tengkorak. Hal tersebut menceritakan pemandangan yang dialami Adityawarman ketika menghirup bau pembakaran mayat.

7. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Prasasti ini menerangkan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra). Dapunta Hyang melakukan perjalanan dengan perahu dari Minangatamwan bersama tentara 20.000 personel. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah.

8. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti ini berangka tahun 608 Saka (686 M). Isinya adalah permintaan kepada para dewa untuk menjaga kedatuan Sriwijaya dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat. Selain itu, prasasti ini juga menceritakan keberangkatan pasukan Sriwijaya untuk menundukkan Pulau Jawa.

9. Candi Ijo

Candi Ijo
Candi Ijo
Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu, berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kira-kira 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini diperkirakan dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram.

Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko.

Secara keseluruhan, kompleks candi merupakan teras-teras berundak, dengan bagian terbawah di sisi barat dan bagian tertinggi berada pada sisi timur, mengikuti kontur bukit. Kompleks percandian utama berada pada ujung timur. Di bagian barat terdapat reruntuhan bangunan candi yang masih dalam proses ekskavasi dan belum dipugar.
Baca Juga: 20 Tempat Wisata Bersejarah Di Indonesia

10. Candi Sambisari

Candi Sambisari
Candi Sambisari
Candi Sambisari adalah candi Hindu (Siwa) yang berada di Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, kira-kira 12 km di sebelah timur kota Yogyakarta ke arah kota Solo atau kira-kira 4 km sebelum kompleks Candi Prambanan. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di Desa Sambisari dan dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala. Nama desa ini kemudian diabadikan menjadi nama candi tersebut. Dengan dikelilingi oleh pagar batu dengan ukuran 50 m x 48 m, kompleks ini mempunyai candi utama didampingi oleh tiga candi perwara (pendamping).

11. Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko
Candi Ratu Boko
Dalam bahasa Indonesia disebut Ratu Baka, merupakan sebuah situs bersejarah yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Situs Ratu Baka terletak di sebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan kompleks adalah sekitar 25 ha.

Berbeda dengan peninggalan sejarah lainnya dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.
Baca Juga: Pengertian Sejarah Secara Bahasa, Umum dan Menurut Para Ahli

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah