-->

[ADS] Top Ads

Sejarah Sebagai Kisah: Pengertian, Contoh, dan Faktor Subjetivitas

Sejarah sebagai kisah

Belajar sejarah tidak dapat terlepas dari empat ruang lingkup sejarah. Salah satu ruang dan lingkup sejarah adalah sejarah sebagai kisah. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah “kisah”.

Kisah biasanya berupa penuturan atau cerita seseorang tentang suatu peristiwa baik yang ia alami sendiri atau yang dialami orang lain. Namun, sejarah sebagai kisah bukan hanya berupa penuturan saja (lisan), akan tetapi sejarah sebagai kisah juga dapat berbentuk tulisan.

Keterangan menunjukkan bahwa sejarah sebagai kisah terdapat dua bentuk atau jenis. Pertama adalah sejarah sebagai kisah dalam bentuk lisan atau penuturan langsung seseorang melalui lisan terhadap suatu peristiwa.

Artinya seseorang bercerita sebuah peristiwa dengan menggunakan ungkapan lisan. Kedua, sejarah sebagai kisah dalam bentuk tulisan, yaitu seseorang menceritakan sebuah peristiwa atau sejarah menggunakan tulisan. Biasanya kisah dalam bentuk tulisan ini berwujud buku.

Pengertian Sejarah Sebagai Kisah

Banyak sekali definisi atau pengertian sejarah sebagai kisah. Hal ini disebabkan oleh Para Sejarawan yang ikut andil dalam memberikan perhatian terhadap sejarah. Sejarah sebagai kisah adalah hal yang sangat penting, karena semua hasil karya cipta manusia merupakan suatu bukti dari kisah manusia yang hidup dan dinamis. Berikut ini adalah pengertian sejarah sebagai kisah yang diambil dari beberapa sumber.
  1. Sejarah sebagai kisah adalah hasil karya, cipta, dan penelitian berbagai ahli yang kemudian menulisnya. (Sumber: Wardaya, Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta; PT. Widya Duta Grafika, 2009, hlm. 5).
  2. Sejarah sebagai kisah adalah kejadian masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran dan interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan. (Sumber: Ibid., Hlm. 5).
  3. Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang menyangkut penulisan peristiwa tersebut oleh seseorang sesuai dengan konteks zamannya dan latar belakangnya. (Sumber: Dwi Ari Listiani, Sejarah 1: Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta:  Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2009, Hlm. 5)
  4. Sejarah sebagai kisah adalah sejarah yang dapat terjadi berulang kali, karena kisah dari suatu peristiwa tersebut dapat ditulis oleh siapa saja dan kapan saja. (Sumber: Ibid., Hlm. 5).
  5. Sejarah sebagai kisah ialah cerita berupa narasi yang disusun dari memori, kesan atau tafsiran manusia terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi atau berlangsung pada waktu lampau atau sejarah serba subjek. (Sumber; Marwan Supriyadi, Sejarah 1: Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta: PT. Perca, 2009, Hlm. 12).
  6. R. Moh. Ali dalam Ismaun menyatakan sejarah sebagai kisah ialah cerita berupa narasi yang disusun dari memori, kesan atau tafsiran manusia terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi atau berlangsung pada waktu yang lampau. (Sumber; Ibid.,).

Sejarah sebagai kisah dapat diulang-ulang, ditulis oleh siapa saja, dan kapan saja. Untuk mewujudkan sejarah sebagai kisah, diperlukan suatu proses rekonstruksi dengan metode sejarah. Hal ini terkait dengan sejarah sebagai ilmu. Sejarah sebagai ilmu sudah tentu memiliki objek, tujuan dan memiliki metode. Sebagai ilmu sejarah juga bersifat empiris dan tetap berupaya menjaga objektivitasnya, sekalipun tidak dapat sepenuhnya menghilangkan subjektivitasnya.

Contoh Sejarah Sebagai Kisah

Banyak sekali contoh-contoh sejarah sebagai kisah. Bahkan sejarah atau peristiwa yang saat ini masih diabadikan dan diingat masyarakat Indonesia juga dapat dijadikan contoh sejarah sebagai kisah. Yang perlu dipahami kembali adalah sejarah sebagai kisah adalah  kejadian masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran dan interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, berarti ketika seseorang bercerita kembali tentang sejarah masa silam maka itu dapat disebut dengan sejarah sebagai kisah. Atau jika ada seseorang yang menulis kembali sejarah proklamasi maka tulisan itu juga dapat disebut dengan sejarah sebagai kisah.

Jadi contoh sejarah sebagai kisah antara lain:
  1. Dalam bentuk tulisan berarti setiap tulisan yang menceritakan suatu sejarah seperti, Kisah Perjuangan Pangeran Dipoegoro, Kisah detik-detik proklamasi dan kisah atau cerita lainnya yang mengandung sejarah dalam bentuk tulisan.
  2. Jika seseorang bercerita tentang kehebatan para pahlawan dalam menghadapi penjajah dengan ungkapan atau lisan, maka itu juga dapat dijadikan contoh sejarah sebagai kisah. Misalnya seseorang menceriakan kembali perjuangan Pangeran Dipodegoro, maka itu dapat dijadikan sejarah sebagai kisah.

Sejarah Sebagai Kisah

Intinya, jika seseorang menceritakan kembali mengenai sejarah masa silam, baik menggunakan lisan atau tulisan, maka itu disebut dengan sejarah sebagai kisah. Bahkan jika kamu bercerita tentang Ayahmu yang berjuang untuk menafkahi keluarga, baik dengan tulisan atau lisan, itu juga dapat dijadikan contoh sejarah sebagai kisah.

Faktor Subjektivitas Sejarah Sebagai Kisah

Sebagaimana telah dikemukan di atas, sejarah sebagai kisah akan bersifat subjektif. Interpretasi atau penafsiran yang dilakukan oleh penulis sejarah akan subjektif. Subjektivitas tersebut terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor kepribadian si penulis atau penutur sejarah. Faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut.

Kepentingan atau interes dan nilai-nilai

Kepentingan dalam penulisan sejarah sangat ditentukan oleh tujuan dari penulisan sejarah tersebut. Dalam penulisan sejarah tersebut, berbagai kepentingan muncul, baik yang bersifat pribadi, kelompok, maupun secara formal negara. Misalnya dalam penulisan sejarah sebagai mata pelajaran di sekolah, maka sangat menonjol kepentingan negara.

Pengajaran sejarah di sekolah memiliki misi untuk membangun semangat kebangsaan. Oleh karena itu, penulisan sejarah buku ajar harus mengandung nilai-nilai kebangsaan. Peristiwa-peristiwa yang ditulis diseleksi dan dipilih untuk kepentingan penanaman nilai-nilai kebangsaan.

Subjektivitas ditentukan pula oleh nilai-nilai yang dimiliki penulis sejarah. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, keyakinan, moral, etika, dan lain-lain. Agama yang dianut oleh seorang penulis dapat menjadi sumber nilai dalam penulisan sejarah.

Misalnya seorang penulis sejarah yang memiliki kegiatan aktif dalam kegiatan dakwah sebuah organisasi Islam, dia akan menulis sejarah organisasi yang ia masuki dengan penuh penilaian yang positif terhadap organisasi tersebut.

Kelompok sosialnya

Profesi yang dimiliki oleh penulis sejarah akan mewarnai hasil penulisannya. Sejarawan, wartawan, guru, penulis bebas dan lain-lain, merupakan bentuk profesi. Profesi-profesi tersebut bisa disebut dengan kelompok sosial. Dalam kelompok sosial, biasanya individu bergaul atau berhubungan dengan sesama pekerjaannya atau statusnya.

Tidak sedikit dari profesi yang bukan sejarawan menulis sejarah. Misalnya, wartawan menulis peristiwa sejarah dalam surat  kabar atau majalahnya. Begitu pula, ada guru yang menulis sejarah untuk kepentingan pengajaran sekolahnya.

Setiap kelompok sosial tersebut kemungkinan akan berbeda dalam memberikan interpretasi terhadap sejarah yang ditulisnya. Seorang sejarawan, akan menulis sejarah dengan menggunakan kaidah-kaidah akademik dari ilmu sejarah. Langkah-langkah penelitian sejarah sebagai salah satu dari disiplin ilmu pengetahuan akan digunakan oleh sejarawan dalam menulis sejarah.

Dalam hal ini, sejarah menjadi suatu tulisan ilmiah. Kepentingannya adalah untuk lingkungan akademik, misalnya di perguruan tinggi.

Profesi guru sebagai pendidik akan menampilkan penulisan sejarah untuk kepentingan nilai-nilai kependidikan. Hal ini dapat kita lihat dalam bukubuku pelajaran sejarah yang ada di sekolah. Peristiwa sejarah yang ditampilkan bukan untuk kepentingan akademik yang bersifat ilmiah, tetapi ditujukan untuk kepentingan nilai-nilai kependidikan yang bersifat praktis.

Walaupun buku sejarah di sekolah ditujukan untuk kepentingan nilainilai kependidikan, tidaklah berarti mengabaikan aspek ilmiah dari buku tersebut. Hanya kadar ilmiah yang ditampilkan tidak sederajat dengan di perguruan tinggi.

 Perbendaharaan pengetahuan

Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan berpengaruh terhadap hasil karya tulis sejarah yang ditulisnya. Profesi yang dimiliki oleh seseorang dapat menjadi ukuran seberapa jauh pengetahuan yang dimilikinya.

Pengetahuan tersebut dapat berupa pengetahuan fakta maupun pengetahuan dari ilmu pengetahuan. Penulis yang memiliki pengetahuan fakta yang banyak, maka cerita sejarahnya akan lebih lengkap, mendetail, dan memberikan informasi yang lebih banyak.

Penutur lisan pun akan dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya ketika ia menuturkan kisah sejarah. Kisah sejarah akan memiliki perbedaan  antara seorang penutur yang mengalami langsung peristiwa tersebut dengan yang tidak langsung menyaksikannya.

Seorang saksi yang melihat suatu peristiwa sejarah akan memiliki pengetahuan fakta yang lebih banyak dibanding dengan orang yang tidak terlibat langsung, walaupun orang tersebut mengetahuinya. Misalnya, apabila kita menanyakan kepada seorang mantan prajurit pada masa perang dengan Belanda, maka ceritanya akan lebih lengkap.

Kemampuan berbahasa

Pengkisahan dalam bentuk tulisan pada dasarnya merupakan kemampuan berbahasa yang ditampilkan dalam bentuk tulisan. Interpretasi terhadap sumbersumber sejarah akan menggunakan kaidah-kaidah bahasa penulisan. Dalam bahasa, seseorang yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik akan berbeda dengan yang tidak terampil dalam bahasa tulisan.

Seorang penulis yang kurang terampil berbahasa tulisan, mungkin saja cerita sejarah yang ditampilkannya sulit dipahami karena bahasa yang digunakan kurang baik. Walaupun pemaparan faktanya cukup banyak.

Itulah penjelasan mengenai pengertian sejarah sebagai kisah, contoh sejarah sebagai kisah dan faktor subjetivitas sejarah sebagai kisah. Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan dapat memudahkan pemahaman Anda.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah