-->

[ADS] Top Ads

Sejarah Peradaban Islam Dari Pra Islam Sampai Daulah Bani Umayyah

Sejarah Peradaban Islam - Mempelajari sejarah Islam merupakan topik pembahasan yang sangat menarik. Banyak sekali hal-hal yang unik yang dapat dijadikan pelajaran dan hikmahnya. Keteladanan Rasulullah SAW, Sahabatnya, dan para Tabi'in yang patut untuk dicontoh adalah pelajaran penting bagai kita semua. Sedangkan hikmah mempelajari sejarah peradaban Islam sangat banyak di antaranya, Kita dapat mengetahui dan memahami sejarah islam dari pra Islam sampai Islam datang ke Indonesia.

Peradaban Islam sendiri adalah merupakan terjemahan dari kata Arab Al-Hadharah al-Islamiyah (Rianawati, 2010; 3). Dalam bahasa Inonesia Kata peradaban juga sering disebut dengan kebudayaan. Padahal kata peradaban dan kebudayaan merupakan hal yang berbeda. istilah peradaban biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah. Kata peradaban dapat dipakai untuk bagian atau unsur-unsur dari kebudayaan. Jadi, kebudayaan sudah mencakup peradaban, sedangkan peradaban merupakan unsur dari kebudayaan.

Perkembangan peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan Islam. Dalam bidang politik, hanya dalam satu abad lebih sedikit, Islam sudah menguasai Spanyol. Afrika Utara, Syria, Palestine, Semenanjung Arabia, Irak, Sebagian Asia Kecil, Afghanistan, Uzbekistan dan Kirgis di Asia Tengah (Rianawati, 2010; 6). Puncak dari perkembangan budaya dan peradaban Islam itu terjadi pada abad ke 9 dan ke 10 M. Hingga pada akhirnya Islam mengalami kemunduran.

Sejarah Peradaban Islam

Sejarah peradaban Islam yang dimulai dari masyarakat pra Islam sampai dengan peradaban Islam pada masa Daulah Bani Umayyah merupakan sejarah yang sangat panjang. Cikal bakal peradaban Islam terdapat di daerah Arab. Maka dari itu, sejarah peradaban Islam selalu di dahului dengan peradaban pra Islam di bangsa Arab. Oleh sebab itu, artikel ini akan kami bagi menjadi beberapa bab. Untuk lebih jelasnya mengenai sejarah peradaban Islam, silahkan simak penjelasan di bawah ini.

A. Masyarakat Arab Pra Islam

Bangsa Arab adalah penduduk asli jazirah Arab semenanjung yang terletak di bagian barat daya Asia ini sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir (M. Yakub dkk, 1985; 1). Bangsa Arab bertempat tinggal dan mendiami semenanjung terbesar di dunia, yaitu Semenanjung Arabia. Terletak di Asia Barat Daya, luasnya 1.027.000 mil persegi, sebagian besar ditutupi padang pasir dan merupakan salah satu tempat terpanas di dunia (Syamsudin Nasution, 2013; 9).

Semenanjung Arabia terdiri atas dua bagian (Syamsudin Nasution, 2013; 9). Pertama, daerah pedalaman, merupakan daerah padang pasir yang kering karena kurang dituruni hujan dan sedikit penduduk karena daerahnya tandus. Kedua, daerah pantai di pinggir laut, di bagian tengah dan selatan, hujan turun teratur sehingga subur ditanami, yaitu daerah Hijaz, Yaman, Hadramaut, Oman dan Bahrain. 

1. Asal-Usul Bangsa Arab
Bangsa Arab berasal dari ras Samiyah dan terbagi kepada dua suku. Pertama, suku Arab al-Baidah , yaitu bangsa Arab yang sudah punah seperti kaum ‘Ad dan Tsamud. Kedua, suku Arab al-Baqiyah, yaitu bangsa Arab yang masih hidup sampai sekarang, terdiri dari keturunan Qahthan dan Adnan (Rianawati, 2010; .

Arab Baidah adalah bangsa Arab yang sudah punah jauh sebelum Islam lahir, riwayat tentang mereka tidak banyak diketahui selain yang termaktuk di dalam kitabkitab suci agama samawi dan terungkap dalam syair-syair Arab klasik semisal kaum ‘Ad dan kaum Tsamud (M. Yakub dkk, 2015; 1). Adapun Arab Baqiyah terbagi atas Arab ‘Aribah dan Arab Musta’riah atau Muta’ribah. Arab Aribah dinamakan pula Qaththiyaniyah dinisbahkan kepada Qahthan moyang mereka atau Yamaniyah dinisbahkan kepada Yaman tempat asal persebaran mereka. Adapun Arab Musta’ribah adalah keturunan Ismail ibnu Ibrahim.

2. Watak Bangsa Arab
Dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya Syamsudin Nasution (2013;13-15) menyebutkan; "Jazirah Arab yang gersang dan tandus memberi pengaruh terhadap bentuk fisik dan karakter mereka. Pada bentuk fisik mereka bertubuh kekar, kuat dan mempunyai daya tahan tubuh yang tangguh, sedangkan dalam karakter memberi watak khusus, baik yang positif atau baik maupun yang negatif atau buruk".

Watak positif bangsa Arab antara lain;
  • Kedermawanan karena di kalangan masyarakat kedermawanan adalah bukti kemuliaan
  • keberanian dan kepahlawanan menjadi syarat yang mutlak diperlukan agar dapat mempertahankan hidup di padang pasir yang tandus dan gersang itu. 

Watak negatif bangsa Arab secara umum ada tiga, yaitu;
  • Gemar berperang, hidup di Jazirah Arab yang gersang dan tandus memerlukan tambahan sumber menunjang kehidupan.
  • Angkuh dan sombong, darah di kalangan masyarakat Arab mempunyai harga yang sangat tinggi.
  • Pemabuk dan penjudi, di kalangan masyarakat Arab yang kaya, minuman keras dianggap sebagai barang mewah.

3. Agama dan Kepercayaan 
Mayoritas penduduk Jazirah Arab di masa Jahiliyah menyembah berhala, sedangkan minoritas di antara mereka ada orang Yahudi di Yatsrib, orang Kristen Najran di Arabia Selatan dan sedikit yang beragama Hanif di Makkah (Syamsudi Nasution, 2013; 15). Sumber lain juga menyatakan bahwa, Mayoritas bangsa Arab adalah penganut agama Watsani (penyembah berhala) (M. Yakub dkk, 2015; 2). Dikisahkan bahwa penyebar agama watsani pertama di tengah-tengah masyarakat Arab adalah ‘Amr bin Luhayy Al Khuza’i. Dialah orang yang pertama membawa patung dari Syam ke Ka’bah.

Agama asli bangsa Arab sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, khususnya Makkah dan sekitarnya adalah Pagan (penyembah berhala), disamping ada juga pengaruh agama dari wilayah lain seperti; Yahudi, Kristen, dan Zoroaster/ Majusi. Mereka para penyembah berhala akan membawa patung-patung kecil yang mereka anggap Tuhan ke mana pun mereka pergi. Hal itu dilakukan karena mereka berkeyakinan bahwa dengan cara itulah mereka dapat lebih dekat dengan Tuhan. Sehingga dalam berbagai hal Tuhannya dapat segera menolong mereka. Meskipun demikian, mereka tetap menganggap ka’bah adalah tempat yang paling suci dan menjadi sentral ibadah seluruh umat manusia.

4. Sistem politik dan Pemerintahan
Terdapat dua Negara adi kuasa di masa Jahiliyah, yaitu kerajaan Bizantium Romawi di barat dan kerajaan Persia di timur (Syamsudin Nasution, 2013; 17). Sistem polik pada masa sekitas abad VI M, juga sangat didominasi oleh dua kerajaan tersebut. Bizantium atau Romawi timur di belahan barat dunia berpusat di Konstatinopel (Turki) yang dikuasai oleh Kaisar Maurice keturunan Augustus I. Sedangkan Persia atau Sasaniah di belahan timur dunia, berpusat di Isfahan (Iran) di bawah kekuasaan Khusraw II. Agama Zionisme atau Majusi merupakan agama resmi di Persia. Sedangkan Kristen atau Nasrani adalah agama resmi di Bizantium.

Kerajaan Romawi yang sudah berabad-abad menguasai beberapa belahan dunia, terutama dunia bagian barat/sebagian Eropa, menjadi negara super power bersaing ketat dengan kerajaan Persia/ Sasania di belahan timur dunia/sebagian Asia dan Afrika. Selain kedua kerajaan tersebut terdapat lima kerajaan kecil di sekitar Hijaz yaitu; Hirah/Manazirah, Ghassan/Ghassaniyah, Kindah, Himyar I, Himyar II. Intinya, pada masa pra Islam masyarakat Arab memiliki sistem kepemerintahan berbentuk kerajaan. 

Artikel Terkait:
Peradaban Bangsa Arab Sebelum Islam Datang Lengkap

B. Peradaban Islam Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin 12 Rabi'ul Awal Tahun Gajah yang berketepatan pada 20 April 571 Masehi di Makkah. dikenal dengan tahun Gajah, karena pada tahun itu pasukan Abrahah dengan menunggang gajah menyerbu Mekkah ingin menghancurkan ka’bah. Sejarah peradaban Islam pada masa Nabi SAW terbagi menjadi dua periode. Periode pertama adalah periode Makkah selama 13 tahu. Kedua, periode Madinah yang berlangsung selama 10 tahun.

1. Periode Makkah
Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 611 M. Melaui malaikat Jibril wahyu pertama di turunkan kepada Nabi SAW. Wahyu pertama itu adalah surat al-Alaq ayat 1-5. Jadi, Secara simbolik Nabi Muhammad SAW telah diangkat menjadi Nabi dan rasul. Setelah dua tahun kemudian, wahyu yang kedua turun yaitu, surat al-Muddasir ayat 1-7.

Rasullah SAW berdakwah di Makkah melalui beberapa tahap. Tahap pertama, berdakwah secara diam-diam di lingkungan keluarga dan shahabat dekatnya. Tahap yang kedua berdakwah kepada keturunan Abdul Muthalib yaitu, setelah turun wahyu yang ketiga (surat as-Syu'ra' ayat 214). Tahap ketiga, Nabi SAW berdakwah secara terang-terangan setelah wahyu surat al-Hijr ayat 9. Pada tahap ini Beliau berdakwah kapada semua lapisan masyarakat dan tidak sebatas penduduk Makkah saja.

Setelah berdakwah secara terang-terangan, semakin hari semakin bertambah jumlah pengikut Nabi SAW. Para pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangidakwak Beliau, bahkan semakin gencar tantangan yang dihadapi beliau.

Dakwah Nabi SAW berperinsip kesederajatan dan keadilan yang mencakup semua aspek baik politik, ekonomi, maupun hukum. Selain itu, inti dari dakwah Nabi adalah untuk mengesakan Allah, mensucikan dan membersihkan jiwa dan hati, menguatkan barisan, dan melebut kepentingan diri di atas kepentingan umum.

Tantangan yang dilancarkan oleh kafir Quraisy semakain gencar, hingga pada akhirnya kaum kafir Quraisy berencana hendak membunuh Nabi, Abdul Jahal mengusulkan agar pembunuhan dilakukan oleh seluruh kabilah Arab melalui wakil masing-masing. Dengan cara begini, keluarga Nabi tidak akan mampu menuntut balas atas kematiannya. Berita tentang rencana pembunuhan Nabi itu diberitahukan Allah Swt. kepada Nabi dan diperintahkan agar segera meninggalkan kota Makkah.

Setelah megnalami berbagai rintangan dari kafir Quraisy akhirnya Nabi Muhammad SAW sampai di kota Yatsrip (Madinah). Di kota ini, Beliau disambut dengan sangat baik oleh pendidik Madinah. Berbeda dengan periode Makkah di mana umat Islam merupakan kelompok minoritas, pada periode Madinah mereka menjadi kelompok mayoritas. Di Makkah Rasulullah hanya berfungsi sebagai seorang Rasul, tetapi di Madinah beliau selain sebagai seorang Rasul dia juga sebagai Kepala Negara.

Guna membina masyarakat yang baru itu, Nabi meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat di kalangan internal umat Islam. Pertama, membangun masjid yang disebut masjid Nabawi. Masjid Nabawi merupakan masjid kedua yang dibangun oleh Nabi setelah masjid Quba. Selanjutnya Nabi mempersaudarakan antar golongan Muhajirin (orang Islam dari Makkah) dan kaum Anshar (Muslim Madinah).

Selanjutnya mengadakan perjanjian antara Muslim dengan Non Muslim yang disebut dengan Perjanjian Madinah. Karena di Madinah terdiri dari tiga kelompok yaitu, Arab Muslim, Arab non Muslim dan orang Yahudi. Dengan terbentuknya perjanjian itu, di Madinah Nabi telah membentuk negara Islam yang dikepalai oleh Nabi sendiri. Selama periode Makkah ini, telah terjadi peperangan antara kafir Quraisy Makkah dan penduduk Madinah.

Peperangan antara penduduk Madinah (Nabi dan pengikutnya) dan kafir Quraisy Makkah telah terjadi beberapa kali. Hingga pada suatu titik di mana kafir Quraisy telah terpojok dan berhasil ditaklukan. Masa ini disebut dengan Penaklukan Kota Makkah.

C. Peradaban Islam Masa Khulafatul Rasyidin

Sejarah peradaban Islam pada masa Khulafatur Rasyidin telah terjadi empat kali pergantian kepemimpinan. Empat orang tersebut adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan 'Ali. Jadi, ketika menyebut Khulafatur Rasyidin maka yang dimaksud adalah ke empat orang tersebut.

1. Pada Masa Abu Bakar
Abu Bakar yang ditunjuk menjadi khalifah pengganti Nabi berdasarkan musyawarah yang diadakan di Tsaqifah bani Sa’idah antara orang Anshar dengan orang Muhajirin mendapat bai’at dari mayoritas umat Islam, tetapi tidak dari Ali bin Abi Thalib kecuali enam bulan kemudian.

Penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah dapat menyelamatkan umat Islam dari krisis yang sangat genting karena munculnya orang murtad, Nabi palsu dan yang enggan
membayar zakat, Abu Bakar bertindak tepat memerangi mereka sampai kembali kepada kebenaran. Itu sebabnya Abu Bakar dikenal sebagai khalifah penyelamat Negara Islam.

2. Umar bin Khathab
Umar bin Khathab yang dipilih sebagai khalifah pengganti Abu Bakar melakukan pembenahan administrasi Negara, membentuk lembaga kehakiman, Baitul Mal, lembaga kepolisian, lembaga pertahanan Negara dan memperluas wilayah Islam ke fron timur dan barat. Sehingga dia dikenal sebagai khalifah yang sukses mebenahi administrasi pemerintahan Islam. Selain itu, kemajuan-kemajuan peradaban Islam pada masa Umar adalah pembukuan al-Qur'an yang disebut dengan mushaf ustmani dan di beberapa bidang Ilmu Qira'at, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Ilmu Nahwu, Ilmu Fikih, danIlmu arsitektur.

3. Utsman bin 'Affan
Utsman bin Affan yang dipilih sebagai khalifah pengganti Umar, mengganti para pejabat yang diangkat Umar kecuali Muawiyah di Syria, membubarkan Baitul Mal, memperjual belikan tanah Negara mengakibatkan munculnya kerusuhan-kerusuhan. Akibatnya, rakyat berjalan kaki dari Mesir, Kufah dan Bahsah menuju ibu kota Negara Madinah menunutut Utsman meletakkan jabatan, kalau tidak mampu memperbaiki keadaan. Akhirnya para pemberontak terlancur membunuh khalifah Utsman.

4. Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib yang ditunjuk para pemberontak sebagai khalifah, tidak mendapat bai’at dari tokoh-tokoh sahabat, seperti Thalhah, Zubeir dan Muawiyah, termasuk Aisyah. Mereka menuntut bela atas kematian Utsman yang tidak dapat dipenuhi khalifah Ali. Akibatnya terjadi perang Jamal dan perang Shiffin yang memakan banyak korban umat Islam.

Di masa Ali bin Abi Thalib telah banyak terjadi konflik yang mengakibatkan munculnya perpecahan golongan Islam yaitu; Munculnya kaum Khawarij, golongan yang mendukung Ali, dan golongan yang mendukung Muawiyah.

D. Sejarah Peradaban Islam Periode Daulah Umayyah

Daulah yang didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan, disebut dengan daulah Umayyah yang diambil dari nama Umayyah. Berkuasa selama kurang lebih 90 tahun (40-132 H/661-750 M) diperintahkan oleh 14 orang khalifah. Empat belas khilafah tersebut adalah;

1. Muawiyah bin Abu Sofyan (661 – 680 M/40-60 H)
2. Yazid bin Muawiyah (680 – 683 M/61-63 H)
3. Muawiyah bin Yazid (683 M/63 H)
4. Marwan bin Hakam (684 – 685 M/64-65H)
5. Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M)
6. Walid bin Abd. Malik (705 – 715 M)
7. Sulaiman bin Abd. Malik, (715 - 717 M)
8. Umar bin Abd. Aziz (717 – 720 M)
9. Yazid bin Abdil Malik (720-724 M)
10. Hisyam bin Abd. Malik (724 – 743 M)
11. Al-Walid bin Yazid (743 – 744 M)
12. Yazid bin AlWalid (744 M)
13. Ibrahim bin Sulaiman (744 M)
14. Marwan bin Muhammad (744 – 750 M)

Pada masa khilafah Muawiyah bin Abu Sofyan terjadi pemindahan ibu kota negara dari khufah (pusat kepemerintahan Ali) ke Damaskus. Pada masa Daulah Umayyah terjadi kemajuan yang sangat pesat di antara kemajuan Islam pada masa Daulah Umayyah adalah pada masa khilafah Abdul Malik bin Marwan dan Walid bin Abdul Malik. Masa kejayaan ini bekembang ilmu pengetahuan dan peradaban di antaranya; seperti ilmu qira’at, ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fiqh, ilmu bahasa, ilmu kalam, ilmu tasawuf dan ilmu arsitektur.

Itulah sejarah peradaban Islam yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat dan dapat menjadi referensi bagi Anda. Saran dari penulis, pelajarilah sejarah lebih mendalam agar kita tidak salah mengartikan sejarah itu. Karena artikel ini hanya ringkasan, maka bacalah sumber lain untuk melengkapinya.

Artikel Terkait:
Periodisasi Sejarah Peradaban Islam

Daftar Pustaka

Rianawati., 2010, Sejarah dan Peradaban Islam, Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Syamsudin Nasution., 2013, Sejarah Peradaban Islam, Cet. III, Riau: Yayasan Pustaka Riau.
M. Yakup., Muaz Tanjung., Siregar, Yusra Dewi. 2015, Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodisasi, Medan: Perdana Publishing.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah