-->

[ADS] Top Ads

Periodisasi Sejarah Peradaban Islam Menurut Harun Nasution

Islam memiliki budaya yang sangat maju pada masa itu. Pekembangan dan kemajuan di berbagai bidang baik pengetahuan, seni, teknologi, ekonomi telah mencapai keemasan. Bahkan perluasan wilayah kekuasaan Islam juga mencapai hasil yang sangat luar biasa. Pada masa Khalifah Umar bin Khathab ekspansi Islam telah meliputi Arabia, juga Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir. Itu baru di masa Khalifah Umar r.a. belum di masa-masa kepemerintahan selanjutnya.

Masa disintegrasi atau masa kemunduran Islam juga ikut mewarnai perkembangan peradaban Islam. Seperti pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang telah terjadi kemunduran peradaban Islam. Masa kemunduran ini terjadi karena terdapat faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap peradaban Islam. Dan Pengaruh yang sangat mempengaruhinya adalah faktor internal.

Sejarah paradaban Islam dapat di artikan sebagai sejarah yang menceritakan kemajuan dan perkembangan kebudayaan dalam Islam sesuai dengan perspektifnya. Kebudayaan yang telah maju dan berkembang yang mengalahkan kebudayaan lainya, disebut dengan peradaban. Akan tetapi, peradaban Islam telah berjalan melalui masa yang sangat panjang dan telah begitu banyak terjadi peristiwa di dalamnya. Maka dari itu, untuk memudahkan dalam mempelajari sejarah peradaban Islam perlu diadakan periodisasi.

Peradaban islam yang begitu panjang akan sulit untuk dipelajari tanpa adanya periodisasi. Maka dari itu, sosok Harun Nasution ikut Andil dalam memberikan sumbangsihnya berupa pemikiran. Periodisasi peradaban Islam yang digagasnya adalah pembagian peradaban Islam menjadi tiga periode.

Periodisasi Peradaban Islam Menurut Harun Nasution

A. Pengertian Periodisasi Peradaban Islam

Sejarah telah mengalami perjalanan yang begitu panjang. Waktu yang dibutuhkan pun begitu panjang dan sangat lama. Menurut Para Sejarawan, sejarah dimulai sejak manusia pertama kali ada di bumi. Adapun sebelum manusia ada di bumi disebut dengan zaman prasejarah dan zaman setelah manusia berada di bumi disebut dengan zaman sejarah.

Sejarah yang berjalan begitu panjang, juga terjadi pada sejarah peradaban Islam. Peradaban Islam yang telah memakan waktu yang begitu lama telah terjadi begitu banyak peristiwa yang penting di dalamnya. Oleh sebab itu, agar dalam penulisan sejarah peradaban Islam dapat sistematis, maka diperlukan periodisasi.

Periodisasi dapat diartikan membagi menjadi beberapa periode. Ketika yang diperiodisasi adalah peradaban Islam, maka dapat diartikan sebagai membagi peradaban Islam menjadi beberapa periode.

Peradaban adalah kemajuan atau perkembangan suatu kebudayaan. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai hasil daya cipta akal manusia yang telah diikuti oleh suatu masyarakat. Ketika suatu hasil daya cipta akal manusia mengalami perkembangan atau kemajuan maka dapat disebut peradaban.

Jadi pengertian dari periodisasi peradaban Islam adalah membagi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kebudayaan islam yang telah maju sesuai dengan urutan waktu terjadinya. Atau pengertian dari periodisasi peradaban Islam adalah membagi menjadi beberapa periode kemajuan kebudayaan Islam yang telah dialami dari masa ke masa.

B. Tujuan Periodisasi Sejarah Peradaban islam

Tujuan dari diadakanya periodisasi peradaban islam adalah;
  1. Untuk membuat sistematis suatu sejarah dari awal peristiwa-peristiwa yang terjadi, atau dalam hal ini adalah agar peradaban Islam dapat ditulis sesuai dengan urutan terjadinya.
  2. Untuk mempermudah mempelajari peradaban Islam dari masa ke masa
  3. Dapat membantu pembuatan karya Ilmiah.


C. Biografi Singkat Harun Nasution

Sebelum ke pembahasan periodisasi peradaban Islam menurut Harun Nasution, alangkah lebih baik jika kita mengetahui sedikit tentang Prof. Dr. Harun Nasution. Berikut adalah Biografi singkatnya;

Prof. Dr. Harun Nasution
Prof. Dr. Harun Nasution

Nama Lengkap: Prof. Dr. Harun Nasution

Lahir: Selasa, 23 September 1919 di Pematang Siantar, Sumatera Utara
Wafat:

Nama Orang Tua:
Ayah; Abdul Jabber Ahmad
Ibu; Maimunah

Pendidikan:
HIS (Hollandsche Indlansche School) dan lulus pada tahun 1934
Moderne Islamietische Kweekschool (MIK) di Bukittinggi 1934-1937
Ahliyah Universitas Al-Azhar pada tahun 1940

Karya Berupa Buku:
Akal dan Wahyu Dalam Islam (1981)
Filsafat Agama (1973)
Islam Rasional (1995)
Sejarah Pemikiran dan Gerakan (1975)
Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya
Teologi Islam
Filsafat dan Mistisme Dalam Islam

C. Periodisasi Sejarah Peradaban islam Menurut Harun Nasution

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, periodesasi peradaban Islam dibagi menjadi tiga periode yaitu;
1. Periode Klasik (650-1250 M)
2. Periode Pertengahan (1250-1800 M)
3. Periode Modern (1800 M-Sekarang)

Periode pertama adalah periode klasik yang meliputi masa kemajuan Islam dan masa kemunduran. Kedua, periode pertengahan, yaitu mencakup masa kemunduran Islam I dan masa Tiga Kerajaan Besar. Dan yang terakhir adalah periode modern sampai sekarang.

1. Periode Klasik (650-1250 M)
Dalam analisis Prof. Dr. Harun Nasution, periode klasik ini dapat pula dibagi ke dalam dua masa, Masa Kemajuan I dan masa disintegrasi (Kemunduran Islam). Masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi, dan keemasan Islam. Masa ekspansi sebenarnya sudah ada sejak masa Rasulullah SAW. Pada tahun 632 M sebelum Nabi Muhammad SAW wafat, Islam sudah menaklukan seluruh semenanjung Arabiya. Pada tahun yang sama pula, Nabi Muhammad Wafat dan pemimpin pemerintahan digantikan oleh Abu Bakar ash-Shidiq. 

a. Masa Kemajuan Islam I (650-1000 M)

Mulai dari masa Abu Bakar sampai kepada Ali dinamakan periode Khilafah Rasyidah. Para khalifahnya disebut al-Khulafah ar-Rasyidun, (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk). Abu Bakar ash-Shidiq menjadi Khalifah kurang lebih selama dua tahun (632-634 M). Masa yang singkat ini Beliau gunakan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri. Banyak dari suku-suku bangsa Arab yang tidak tunduk kepada pemerintah Madinah setelah wafatnya Nabi. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad, dengan sendirinya batal setelah nabi wafat.

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid bin Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai wilayah al-Hirah pada tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat panglima yaitu Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Amr ibnul 'Ash, Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah bin Zaid yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid bin Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria.

Selama dua tahun masa kepemimpinan Abu Bakar, masyarakat Arab di bawah Islam mengalami kemajuan pesat dalam bidang sosial, budaya dan penegakan hukum.

Setelah wafatnya Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq, kepala pemerintah diserahkan kepada Umar bin Khatthab. Pengangkatan umar bukan berdasarkan konsensus tetapi berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar. Khalifah Umar menjadi Khalifah kurang lebih selama sepuluh tahun (634-644 M). Pada kepemerintahan Khalifah Umar, gelombang ekspansi mengalami kemajuan yang pesat. Pada masa kepemimpinan Beliau wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.

Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Khalifah Umar segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah provinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan membuat tahun hijiah.

Masa jabatan Khalifah Umar berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak Persia yang bernama Abu Lulu'ah yang beragama Majusi. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin 'Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah, melalui proses yang agak ketat dengan Ali bin Abi Thalib.

Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun (644-655 M). Pada masa Khalifah Utsman, Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini.

Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Pada masa Khalifah Ali, gelombang ekspansi tidak berlanjut karena banyak persoalan dalam negeri yang sulit untuk diselesaikan. Masa kepemerintahan Khalifah Ali kurang lebih berlangsung selam enam tahun (655-660 M).

Kedudukan sebagai khalifah kemudian dijabat oleh putra Ali yaitu, Hasan selama beberapa bulan. Namun, karena Hasan menginginkan perdamaian dan menghindari pertumpahan darah, maka Hasan menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan.

Pada masa kekukasaan Muawiyah bin Abu Sofyan, sistem kepemerintahan berbentuk kerajaan, yaitu kepala pemerintahan diwariskan turun temurun kepada keturunannya. Masa ini disebut dengan Dinasti Umayyah atau disebut juga dengan Bani Umayyah yang berkuasa selama kurang lebih 90 tahun (661-750 M). Pada masa Bani Umayyah telah terjadi perpindahan Ibu Kota dari Damaskus (661-750 M) ke Cordofa, Spanyol (756-1031 M). 

Perluasan wilayah pada masa bani Umayyah mengalami perkembangan yang luar biasa yaitu; dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul,. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Sedangkan ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan.

Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.

Di zaman Umar bin Abdul-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Pirenia. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeaux, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini.

Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah.

Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.

Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M) meningkatkan pembangunan, di antaranya membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap. Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.

Slain itu, pada masa kekuasaan Bani Umaiyyah di masa khilafah Abdul Malik bin Marwan dan Walid bin Abdul Malik. Masa kejayaan ini bekembang ilmu pengetahuan dan peradaban di antaranya; seperti ilmu qira’at, ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fiqh, ilmu bahasa, ilmu kalam, ilmu tasawuf dan ilmu arsitektur.

b. Masa Kemunduran/Disintegrasi (1000-1250 M)

Masa kemunduran Islam pada periode ini adalah masih dalam kekuasaan Bani Umayyah yang beribu kota di Cordoba. Di masa ini, keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah, keuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dapat dirampas dan dihancurka oleh Hulagu pada tahun 1258 M. Khalifah, sebagai lambang kesatuan politik umat Islam, hilang.

2. Periode Pertengahan (1250-1800 M)
Periode pertengahan ini juga dibagi oleh Prof. Dr. Harun Nasution ke dalam dua fase, yaitu fase kemunduran dan fase tiga kerajaan besar.

a. Masa Kemunduran I (1250-1500 M)

Dalam fase ini, disentralisasi dan disintegrasi meningkat. Perbedam antara Sunni dan Syi’ah dan demikian juga antara Arab an Persia semakin nyata terlihat. Dunia Islam terbagi dua, yaitu bagian Arab dan bagian Persia. Bagian Arab yang terdiri atas Arabia, Irak, Suria, Palestina Mesir dan Afrika Utara, dengan Mesir sebagai pusat, Bagian Persia yang terdiri atas Balkan, Asia kecil, Persia dan Asia Tengah, dengan Iran Sebagai Pusat.

Kebudayaan Persia mengambil bentuk Internasional dan dengan demikian mendesak lapangan kebudayaan kebudayaan Arab. Pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup makin meluas di kalangan umat Islam. Demikian juga tarekat dengan pengaruh negatifnya, perhatian terhadap ilmu pengetahuan menjadi sangat kurang. Umat Islam di Spanyol dipaksa masuk Kristen atau keluar dari daerah trsebut.

b. Masa Tiga Kerajaan Besar (1500-1800 M)

Tiga kerajaan besar yang dimaksud dalam fase ini ialah Kerajaan Utsmani (Ottoman Empire) di Turki, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India. Fase tiga kerajaan besar ini, oleh Prof. Dr. Harun Nasution dibagi kembali dalam dua periode lagi, yaitu dimulai dengan aman kemajuan (1500 M-1700 M) dan zaman kemunduran (1700 M-1800 M).

Di masa kemajuan, ketiga kerajaan besar ini mempunyai kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literatur dan arsitek. Mesjid-mesjid dan gedung-gedung indah yang didirikan di zaman ini masih dapat dilihat di Istambul, Tibriz, Isfahan serta kota-kota lian di Iran dan di Delhi. Kemajuan umat Islam di zaman ini lebih banyak merupakan kemajuan di periode klasik. Perhatian terhadap ilmu pengetahuan masih kurang sekali.

Di masa kemunduran, Kerajaan Utsmani terpukul oleh Eropa. Kerajaan Safawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku bangsa Afghan, sedangkan daerah kekuasaan Kerajaan Mughal diperkecil oleh pukulan-pukulan raja-raja India. Kekuatan militer dan kekuatan politik umat Islam menurun. Umat Islam dalam keadaan mundur dan statis. Dalam pada itu, Eropa dengan kekayaan-kekayaannya yang diangkut dari Amerika dam Timur Jauh, bertambah kay dan maju. Penetrasi Barat yang kekuasaannya meningkat ke dunia Islam yang kekuatanya menurun, kian mendalam dan kian meluas. Akhirnya Napoleon pada ahun 1798 M menduduki Mesir, sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.

3. Periode Modern (1800 M-Sekarang)
Periode modern ialah zaman kebangkitan kembali umat Islam. Jatunya Mesir ke tangan Barat menyadarkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa Barat telah mempunyai peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Pada periode modern inilah timbul ide-ide pembaharuan dalam Islam

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, terdapat beberapa kesimpulan yaitu;

Peradaban Islam adalah kebudayaan Islam yang telah maju dan berkembang. Peradaban Islam yang digagas oleh Harun Nasution cukup sederhana yaitu dibagi menjadi tiga periode saja; periode klasik, pertengahan, dan periode modern. Di setiap periode terdapat ciri khasnya masing-masing. Selain itu, peradaban Islam juga mengalami masa kemajuan dan masa kemunduran. terutama pada masa Abasyiah dan Umayyah.

Artikel Berkaitan:
Periodisasi Sejarah Peradaban Islam Menurut Beberapa Para Ahli

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah