-->

[ADS] Top Ads

Peradaban Islam Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Peradaban Islam pada masa NabiPeradaban merupakan kebudayaan yang telah dinilai maju dan telah mengalahkan peradaban lainnya. Seperti peradaban pada zaman jahiliah yang digambarkan begitu banyak kekacauan baik dari segi Iman dan prilaku sehari-hari kemudian melalui Nabi Muhammad diubah menjadi peradaban yang sangat beradab dan luar biasa. Kekacauan yang paling kacau pada masyarakat jahiliah adalah penyembahan berhala dan adat-istiadat yang telah menjadi hukum, seperti istri diwariskan kepada anaknya.

Setelah sekian lama fakum dari masa kenabian, masyarakat di Jazirah Arab menjadi menyimpang dari ajaran Nabi terdahulu. Hingga pada suatu hari lahir Nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah Nabi dan Rasul yang terakhir yang membawa risalah dakwah Islam dan yang merubah peradaban jahiliah menjadi peradaban penuh dengan kebaikan dan keselamatan.

Dilihat dari segi pengertiannya, peradaban adalah suatu kebudayaan yang dinilai maju dan berkembang mengalahkan kebudayaan lainnya. Lalu apa saja peradaban Islam yang telah maju dan berkembang pada masa Nabi Muhammad SAW ?. Hal inilah yang akan kita bahas dalam artikel ini. Lalu apa yang dimaksud dengan peradaban islam?. Peradaban Islam adalah kebudayaan-kebudayaan islam yang telah dinilai maju dan berkembang yang muncul dari kalangan muslim. 

Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT  kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman. Semua yang diajarkan dalam Islam banyak sekali unsur-unsur kebaikan, bahkan banyak sekali ajaran-ajaran Islam yang telah dibuktikan secara ilmiah. Selain itu, peradaban yang telah terbentuk juga telah mengalami perjalanan yang begitu lama. Namun pada pembahasan ini hanya akan menuliskan peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW.

Peradaban Islam Pada Masa Nabi Muhammad

Dari latar bekang tersebut, maka dalam tulisan ini akan membahas hal-hal sebagai berikut;

1. Apakah yang dimaksud dengan Peradaban Islam pada masa Nabi?
2. Sekilas tentang Nabi Muhammad SAW.
3. Bagaimana peradaban Islam pada Masa Nabi Muhammad SAW?

Pengertian Peradaban Islam Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Sebelum membahas tentang peradaban, alangkah baiknya jika membahas sedikit mengenai kebudayaan. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Jadi, kebudayaan merupakan hasil karya, rasa, dan cipta manusia yang halus berbentuk ide atau gagasan lalu diwujudkan berupa norma, sistem, dan dapat pula berbentuk benda.

Selanjutnya peradaban adalah suatu kebudayaan yang telah maju dan berkembang hingga dapat mengalahkan kebudayaan lain. Seperti contoh yang akan kita bahas ini yaitu, kebudayaan Islam yang mengalahkan kebudayaan bangsa Arab Jahiliah. Kebudayaan yang sebelum datangnya islam mengalami akhlak dan moral rendah, kini setelah datangnya Islam menjadi memiliki nilai yang mulia dan luhur.

Seperti yang disebutkan di atas, bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk sebagai pedoman hidup seluruh manusia. Bahkan ada yang berpendapat bahwa, agama Islam bukan hanya untuk pedoman manusia, akan tetapi untuk seluruh makhluk di alam semesta ini. Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Artinya, setelah kenabian nabi Muhammad SAW, tidak akan nabi lagi, karena Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir.

Dari beberapa penjelasan di atas, pengertian Peradaban Sejarah Islam Pada Nabi Muhammad SAW adalah kebudayaan yang telah maju dan berkembang di kalangan umuat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Jadi pada pembahasan tulisan ini akan terfokuskan peradaban Islam di masa Nabi Muhammad di angkat menjadi Nabi dan Rasul pada usia 25 tahun. Namun agar runtut dan jelas, alangkah baiknya kita sedikit membahas mengenai peradaban sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Sekilas Tentang Nabi Muhammad SAW Sebelum Kenabian dan Kerasulan

Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal yang bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 M di Makkah. Pada tahun tersebut terkenal dengan sebutan tahun Gajah, karena pada saat itu pasukan gajah yang dipimmpin raja Abrahah menyerbu kota Mekkah. Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim dan ibunya bernama Aminah binti Wahab.

Keluarga Nabi Muhammad SAW tergolong keluarga yang kurang mampu secara materi, namun termasuk keturunan ningrat terhormat. Kakek Nabi Muhammad adalah seorang penjaga Ka'bah yang diturunkan secara turun temurun. Di kalangan orang-orang arab pada saat itu orang yang dermawan akan sangat dihormati. Dikisahkan, bahwa anak keturunan bani Hasyim adalah keluarga yang berkedudukan sebagai penyedia dan pemberi air minum bagi pada peziarah Ka'bah.

Nabi Muhammad lahir dengan keadaan yatim karena ayahnya meninggal pada saat Muhammad masih dalam kandungan. Karena sudah menjadi kebiasaan bangsa Mekkah, akhirnya Muhammad diserahkan kepada Halimah untuk diasuh. Dia adalah seorang wanita yang tinggal di desa dengan tatanan yang masih kondusif untuk belajar bahasa yang masih asli (bahasa kromo inggil untuk istilah jawanya). Setelah umur empat tahun, Muhammad kecil di serahkan kembali kepada ibunya. Ketika berumur enam tahun, Ibu Muhammad meninggal dunia sehingga beliau menjadi yatim piatu. Akhirnya, Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib selama dua tahun. Setelah Kakeknya meninggal Muhammad dirawat oleh pamannya Abu Thalib yang sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Makkah.

Muhammad yang masih remaja bekerja sebagai pengembala kambing baik keluarganya dan kambing penduduk Mekkah. Muhammad yang ketika itu dijuluki al-Amin (orang yang dapat dipercaya) lebih banyak merenung ketika ia mengembala. Pada usia 25 tahun Muhammad ikut berdagang ke negeri Syam untuk menjual barang milik Khadijah, seorang saudagar wanita yang kaya raya.

Ketika Khadijah mendengar bahwa barang dagangannya habis terjual dan mendapat keuntungan banyak, ia menjadi heran. Lalu secara mengejutkan, Khadijah mendengar kabar bahwa rahasia dari berdagangnya Muhammad adalah kejujuran, hingga Khadijah pun tertarik untuk menikahinya.

Sebelum menjadi Nabi, Muhammad SAW yang sering berkhalwat di goa Hirah untuk merenungi alam dengan ciptaannya. Ketika usianya 40 tahun, pada tanggal 17 Ramadhan 611 M, malaikat Jibril mendatanginya menyampaikan wahyu Allah yang pertama surat al-Alaq (ayat 1-5).

Goa Hira
Berarti secara simbolis Muhammad telah dilantik sebagai Nabi akhir zaman. Dan setelah mendapat wahyu yang kedua Surah al-Mudatsir (ayat 1-7), barulah Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah di Mekkah secara sembunyi-sembunyi. Dari dakwah secara sembunyi-sembunyi inilah embrio atau bibit peradaban Islam terlahir.

Perkembangan Islam Setelah Kenabian dan Kerasulan Nabi Muhammad

Peradaban Islam pada masa Nabi Muhammad Terbagi menjadi dua fase yaitu, fase Mekkah dan fase Madinah. Hal ini disebabkan oleh awal atau embrio agama Islam bertempat di Mekkah, selanjutnya karena misi dakwah, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yasrib (Madinah). Di Madinah Islam berkembang pesat dan mulai membentuk kebudayaan yang maju hingga menjadi peradaban yang sangat luar biasa.

Penting: Peradaban Islam pada masa Nabi Muhammad SAW terbagi menjadi dua fase yaitu, fase Mekkah dan Fase Madinah

A. Perkembangan Dakwah Islam Periode Mekkah

1. Tahap-Tahap Dakwah Nabi Muhammad SAW
Rasulullah berdakwah melalui beberapa tahap. Pertama, secara diam-diam di lingkungan keluarga dan sahabat dekatnya. Diterima oleh istrinya Khadijah, anak pamannya Ali, anak angkatnya Zaid bin Hãritsah, serta sahabat dekatnya Abu Bakar. Melalui Abu Bakar, masuk Islam pula Utsman bin Affan, Zubeir bin Awwam, Saad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan beberapa budak dan fakir miskin. Dakwah ini berlangsung selama tiga tahun. 

Dakwah secara diam-diam dilakukan setelah turun wahyu yang kedua yaitu S.Q. al-Mudatsir 74: 1-7.

Kedua, dakwah kepada keturunan Abdul Muthalib. Hal ini dilakukan setelah turunnya wahyu ketiga, sûrah al-Syu’ara’ (ayat 214). Nabi mengumpulkan dan mengajak mereka supaya beriman.

Ketiga, dakwah kepada semua orang setelah wahyu Allah sûrah al-Hijir (ayat 94). Pada tahap ini dakwah ditujukan kepada semua lapisan masyarakat, tidak terbatas hanya kepada penduduk Mekkah saja, tetapi juga termasuk orang-orang yang mengunjungi kota Mekkah.

2. Tantangan Dakwah Nabi Muhammad SAW
Dakwah Nabi Muhamad banyak mengalami tantangan yang begitu berat. Kaum Quraisy banyak yang tidak terima bahkan dakwah Nabi Muhammad dianggap sesat. Berikut ini adalah tantangan dakwah Islam Nabi Muhammad SAW. Adapun tantangan yang dihadapi Rasul Muhammad adalah sebagai berikut:

Membujuk, karena kekuatan Nabi terletak pada perlindungan Abu Thalib yang amat disegani itu. mereka meminta Abu Thalib memilih satu di antara dua: yaitu memerintahkan Muhammad agar berhenti dari dakwahnya atau menyerahkannya kepada mereka untuk dibunuh. Namun Abu Thalib menolaknya, sehingga kaum Quraisy gagal untuk menghentikan dakwah Nabi.

Mengintimidasi atau mendesak dengan berbagai cara. Karena gagal dengan cara
membujuk, para pemimpin Quraisy melakukan tindakan-tindakan kekerasan lebih intensif dari sebelumnya. Budak-budak yang masuk Islam disiksa tuannya dengan sangat kejam. Para pemimpin Quraisy menyuruh setiap keluarga untuk menyiksa anggota keluarganya yang masuk Islam sampai dia murtad kembali.

Memboikot seluruh keluarga Bani Hasyim. Untuk melumpuhkan kekuatan kaum muslimin, pemimpin Quraisy melakukan pemboikotan terhadap seluruh keluarga
Bani Hasyim. Karena menurut mereka kekuatan Nabi terletak pada keluarganya yang melindunginya, baik yang belum maupun yang sudah masuk Islam.

Menurut Ahmad Syalabi ada lima faktor yang mendorong orang Quraisy menantang dakwah Islam yang disampaikan Nabi itu.
  • Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.
  • Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad s.a.w. berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib.
  • Takut kehilangan mata pencaharian karena pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki mereka.
  • Nabi Muhammad s.a.w. menyerukan persamaan hak antara hamba sahaya dan bangsawan. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.
  • Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa Arab.

Walaupun banyak sekali hambatan dan rintangan, Rasul Muhammad tetap gigih memperjuangkan dakwahnya. Strategi yang digunakan pun sangat tepat, yaitu dakwah dengan sembunyi-sembunyi baru kemudian dakwah secara terang-terangan. Dengan strategi yang tepat dan semangat juang yang luar biasa, perkembangan dakwah Islam mengalami kemajuan.

Berikut ini yang termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun).

  • Khadijah binti Khuwailid
  • Zaid bin Haritsah
  • Ali bin Abi Thalib
  • Abu Bakar Al-Shiddiq
  • Bilal bin Rabah
  • Ummu Aiman
  • Hamzah bin Abdul Muthalib
  • Abbas bin Abdul Muthalib
  • Abdullah bin Abdul-Asad
  • Ubay bin Ka'ab
  • Abdullah bin Rawahah
  • Abdullah bin Mas'ud
  • Mus'ab bin Umair
  • Mua'dz bin Jabal
  • Aisyah
  • Umar bin Khattab
  • Utsman bin Affan
  • Arwa' binti Kuraiz
  • Zubair bin Awwam bin Khuwailid
  • Abdurrahman bin Auf
  • Sa'ad bin Abi Waqqas
  • Thalhah bin Ubaidillah
  • Abdullah bin Zubair
  • Miqdad bin Aswad
  • Utsman bin Mazh'un
  • Sa'id bin Zaid
  • Abu Ubaidah bin al-Jarrah
  • Waraqah bin Naufal
  • Abu Dzar Al-Ghiffari
  • Umar bin Anbasah
  • Sa’id bin Al-Ash
  • Abu Salamah bin Abdul Asad
  • Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam
  • Yasir bin Amir
  • Ammar bin Yasir
  • Sumayyah binti Khayyat
  • Amir bin Abdullah
  • Ja'far bin Abi Thalib
  • Khabbab bin 'Art
  • Ubaidah bin Harits
  • Ummu al-Fadl Lubaba
  • Shafiyyah binti Abdul Muthalib
  • Asma' binti Abu Bakar
  • Fatimah bin Khattab
  • Suhayb Ar-Rummi


3. Hijrah ke Habsyi (Ethiopia)
Untuk menghindarkan kaum muslim dari tindakan kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy, Nabi memerintahkan mereka hijrah ke Habsyi (Ethiopia).

Rombongan pertama, pada tahun kelima dari kerasulannya, di bawah pimpinan Usman bin Affan diikuti 15 orang (10 pria dan 5 wanita) berangkat ke Habsyi, termasuk isteri Usman, Rukayah binti Muhammad.

Rombongan kedua, di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib diikuti 81 orang (80 pria dan 1 wanita, yaitu Ummu Habibah, puteri Abu Sofyan). Mereka diterima raja Ethiopia, Nejus. Mengetahui hal itu Pimpinan Quraisy mengirim Amr bin Ash dan Abdullah bni Abi Rabi’ untuk membujuk raja Nejus agar menolak kehadiran umat Islam di sana, tetapi Raja menolak permintaan mereka.

Pada saat kaum Muslim hijrah ke Habsyi, Rasul Muhammad masih menetap di Mekkah dan terus berusaha untuk berdakwah.

4. Peristiwa Isra' Mi'raj
Ujian dan cobaan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad begitu berat. Dikisahkan bahwa ujian atau cobaan Nabi Muhammad yang paling berat adalah pada tahun 10 kenabian. Bahkan banyak para sejarawan menyebut peristiwa pada tahun 10 kenabian adalah peristiwa "tahun duka cita".  Pada tahun duka cita, paling tidak Nabi Muhammad mengalami tiga peristiwa yang menyedikan.

Adapun tiga peristiwa tersebut; Pertama, pamannya, Abu Thalib, pelindung utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun.

Kedua, tiga hari setelah itu, meninggal dunia pula istrinya, Khadijah, dalam usia 65 tahun. Sepeninggal dua pendukung utamanya itu, kafir Quraisy tidak segan-segan lagi melampiaskan nafsu amarah mereka terhadap Nabi. Melihat reaksi penduduk Makkah yang semakin brutal itu, terutama pamannya Abu Lahab dan istrinya. Nabi kemudian berusaha menyebar luaskan Islam keluar kota Makkah, yaitu ke negeri Thaif.

Ketiga, ketika Nabi berdakwah di Thaif, beliau diejek, disoraki, dan dilempari batu, bahkan sampai terluka di bagian kepala dan badannya.

Dalam situasi berduka cita di tahun duka cita yang dialami Nabi secara beruntun tahun ke-10 dari kenabian tersebut di atas Allah mengisra’ mi’rajkan Nabi Muhammad SAW, pada tahun ke-10 itu juga.

Ternyata setelah peristiwa Isra’ mi’raj, muncul perkembangan besar bagi dakwah Islam. Karena sejumlah penduduk Yatsrib yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj yang berhaji ke Makkah, mereka menemui Nabi dan masuk Islam dalam tiga gelombang.

Pertama, pada tahun ke-11 kenabian, 6 orang dari suku Khazraj menemui Nabi dan menyatakan diri masuk Islam. Mereka mengharapkan Nabi agar bersedia mempersatukan kaum mereka yang saling bermusuhan di Yatsrib.

Kedua, pada tahun ke-12 kenabian, terdiri dari 10 orang suku Khazraj, 2 orang suku Aus dan seorang wanita menemui Nabi dan menyatakan ikrar kesetiaan kepada Nabi. Ikrar tersebut adalah;
  • Kami tidak akan mencuri
  • Tidak berbuat zina, 
  • Tidak akan membunuh anak-anak kami, 
  • Tidak akan fitnah memfitnah
  • Dan tidak akan mendurhakai Nabi Muhammad SAW.
  • Rombongan ini kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah Nabi
  • di Yatsrib.

Ketiga, pada tahun ke-13 kenabian, sebayak 73 orang dari Yatsrib meminta kepada Nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib. Saat ini Nabi ditemani pamannya Abbas yang belum lagi masuk Islam. Abbas meminta kepada mereka agar benar-benar membela Nabi, baru dia izinkan hijrah ke Madinah.

Selanjutnya Nabi minta perjanjian dari mereka; “Saya ingin mengambil perjanjian dari kamu semua, bahwa kamu akan menjaga saya sebagaimana kamu menjaga keluarga dan anakanak kamu sendiri”. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala macam ancaman. Nabi menyetujui usul yang mereka ajukan.

5. Hijrah Ke Madinah (Yatsrib)
Setelah kaum Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Nabi dan orang-orang Yatsrib itu, mereka semakin gila melancarkan intimidasi terhadap kaum
muslimin. Hal ini membuat Nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam waktu dua bulan, lebih kurang 150 orang kaum muslimin telah meninggalkan kota Mekkah.

Pada saat kaum muslim hijrah se Madinah, Nabi masih berada di Makkah bersama Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar ash-Shidiq. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kaum Quraisy. Mereka berencana untuk membunuh Nabi karena kaum muslimin hijrah ke Madinah sedangkan Nabi masih di Mekkah dan berencana hijrah ke Madinah juga.

Akhirnya, untuk perkembangan dakwah dan untuk menghindari perlakuan kaum Quraisy yang semakin brutal, Nabi hijrah ke Madinah bersama kedua sahabatnya itu.

Peristiwa besar pada saat Nabi hijrah menuju Madinah adalah membangun masjid Quba. Masjid tersebut adalah masjid yang pertama kali didirikan oleh Nabi Muhammad yang terletak sekitar jarak 10 km dari Yatsrib desa Quba.

Setelah sesampainya Beliau di Madinah, sambutan hangat dan meriah dari para penduduk telah menghampiri Nabi.

B. Perkembangan Islam Periode Madinah
Selam kurang lebih 13 tahun dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah. Hingga pada akhirnya Beliau memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Di Madinah, Nabi bukan hanya sebagai Rasul tetapi juga menjadi Kepala Negara. Adapun peristiwa penting pada saat periode Madinah adalah;

1. Membangun Masyarakat Islam
Guna membina masyarakat yang baru itu, Nabi meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat di kalangan internal umat Islam. Pertama, pembangunan masjid.

Setiap kabilah sebelum Islam datang, mereka memiliki tempat pertemuan sendiri-sendiri. Nabi menginginkan agar seluruh umat Islam hanya memiliki satu tempat pertemuan yaitu Masjid.

Maka beliau membangun sebuah masjid yang diberi nama “Baitullah”. Di masjid ini, selain dijadikan tempat shalat, juga belajar, tempat bermusyawarah merundingkan masalah-masalah yang dihadapi, bahkan juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.

Kedua, Nabi mempersaudarakan antara golongan Muhajirin (muslim asal Mekkah) dan kaum Ansar (muslim Madinah). Dengan demikian, setiap muslim terikat dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Abu Bakar, misalnya, dipersaudarakan Nabi dengan Kharijah bin Zaid, Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’az bin Jabal. Hal ini berarti Rasulullah menciptakan suatu bentuk persaudaraan yang baru, berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan kesukuan, di zaman jahiliah.

2. Perjanjian Madinah
Penduduk Madinah di awal kedatangan Rasulullah terdiri dari tiga kelompok, yaitu bangsa Arab muslim, bangsa Arab non-muslim dan orang Yahudi. Untuk menyelaraskan hubungan antara tiga kelompok itu, Nabi mengadakan perjanjian dalam piagam yang disebut Konstitusi Madinah, yang isinya antara lain: 
  • Semua kelompok yang menandatangani piagam merupakan suatu bangsa.
  • Bila salah satu kelompok diserang musuh, maka kelompok lain wajib untuk membelanya. Ketiga, Masing-masing kelompok tidak dibenarkan membuat perjanjian dalam bentuk apapun dengan orang Quraisy.
  • Masing-masing kelompok bebas menjalankan ajaran agamanya tanpa campur tangan kelompok lain.
  • Kewajiban penduduk Madinah, baik kaum Muslimin, non-Muslim, ataupun bangsa Yahudi, saling bantu membantu moril dan materiil.
  • Nabi Muhammad adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah dan dia menyelesaikan masalah yang timbul antar kelompok.

Berdasarkan konstitusi di atas, dapat diketahui bahwa Nabi telah membentuk negara Islam di Madinah dan Rasulullah menjadi kepala pemerintahannya yang mempunyai otoritas untuk menyelesaikan segala masalah yang timbul berdasarkan konsitusi.

3. Peperangan Dengan Kaum Quraisy
Islam berkembang pesat ketika Nabi hijrah ke Madinah, akan tetapi kaum Quraisy masih saja ingin menghentikan dakwa Nabi. Umat Islam pun pada tahun ke-2 Hijriah telah diizinkan berperang dengan dua alasan:
  • Untuk mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya
  • Menjaga keselamatan dalam penyebaran Islam dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.

Perang pun terjdi antara kaum Quraisy dan penduduk Madinah. Selama periode Madinah peperangan yang terjadi di antaranya adalah sebagai berikut;

a. Perang Badar
Perang Badar, terjadi pada bulan Ramadhan 2 H (624 M), di dekat sebuah sumur milik Badr. Sebab utamanya adalah untuk memenuhi tekad kafir Quraisy membunuh Nabi yang berhasil meloloskan diri ke Madinah dan menghukum orang yang melindunginya.

Dalam perang ini kaum muslimin keluar sebagai pemenang. Di pihak Islam gugur 14 orang dan di pihak musuh gugur pula 70 orang, termasuk Abu Jahl sebagai pemimpin perang, dan beberapa orang lainnya tertawan.

a. Perang Uhud
Perang Uhud, terjadi pada tahun 3 H (625 M). Penyebabnya karena kekalahan kaum Quraisy dalam perang Badr merupakan pukulan berat. Mereka bersumpah akan melakukan pembalasan. Untuk itu pemimpin Abu Sofyan memobilisasi 3000 prajurit. Beberapa orang pembesar disertai istrinya berperang termasuk istri Abu Sofyan sendiri, Hindun. Mereka berangkat menuju Madinah.

Mendengar berita itu, Nabi bermusyawarah dengan para sahabat dan disepakati menyongsong musuh ke luar kota. Nabi Muhammad dengan pasukan 1000 orang meninggalkan kota Madinah.

Tetapi baru saja melewati batas kota, Abdullah bin Ubay seorang munafiq dengan 300 orang Yahudi membelot dan kembali ke Madinah. Meski pun dengan 700 pasukan, Nabi tetap melanjutkan perjalanan.

Dalam peperangan ini, pasukan Islam mengalami kekalahan. Di pihak Islam lebih dari 70 orang gugur, termasuk paman Nabi Hamzah yang dadanya dibelah dan hatinya dimakan istri Abu Sofyan, Hindun karena dendam melihat Hamzah yang membunuh saudaranya dalam perang tanding badar sebelumnya.

b. Perang Ahzab atau Khandaq
Perang Ahzab, terjadi pada bulan Syawal 5 H (627 M). di pihak musuh membentuk pasukan gabungan yang terdiri dari orang-orang Quraisy, suku Yahudi yang mengungsi ke Khaibar, dan beberapa suku Arab lainnya. Mereka berjumlah 10.000 tentara di bawah pimpinan Abu Sofyan.

Sedangkan di pihak Islam terdapat 3000 orang prajurit. Menghadapi jumlah yang tak seimbang Nabi memutuskan mengunakan strategi bertahan, setelah mendengar usul Salman Al-Farisi, agar umat Islam bertahan dengan menggali parit (Khandaq), terutama di bagian utara kota. Sisi lain dikelilingi bukit yang dapat dijadikan sebagai benteng pertahanan. Itulah sebabnya perang ini selain disebut perang Ahzab (pasukan sekutu) juga perang Khandaq (parit). Taktik
Nabi itu membawa hasil. Pasukan musuh tidak dapat menyeberangi parit.

4. Fathu Makkah
Fathul Makkah (pembebasan Mekkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, di mana Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, butuh rujukan sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.

Penyebab dari pembebasan Mekkah adalah Kaum Musrikin Quraisy merusak perjanjian. Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy. Isi dari perjanjian tersebut kurang lebih sebagai berikut:
  • Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah tahun ini, tetapi ditunda sampai tahun depan.
  • Orang kafir Makkah yang ingin masuk Islam tanpa izin walinya harus ditolak umat Islam.
  • Orang Islam yang ingin kembali ke Makkah (murtad) tidak boleh ditolak orang Quraisy.
  • Gencatan senjata antara kedua belah pihak selama 10 tahun. 

Masa gencatan senjata ini digunakan oleh Nabi Muhammad untuk berbagai hal, di antaranya;
  • Mengirim utusan dan surat kepada kepala-kepala negara dan pemerintahan ke berbagai negeri lain yang ada saat itu untuk mengajak mereka memeluk Islam.
  • Masa gencatan senjata juga memberi kesempatan kepada Nabi untuk mengadakan perhitungan dengan orang-orang Yahudi yang sudah tiga kali melakukan penghianatan.
  • Masa gencatan senjata juga memberikan kesempatan kepada orang-orang Arab memikirkan hakikat Islam. Sehingga dalam dua tahun perjanjian Hudaibiyah,
  • dakwah Islam sudah menjangkau seluruh Jazirah Arab dan mendapat tanggapan yang positif.

Dua tahun setelah terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ternyata dilanggar oleh kaum Quraisy. Pada tahun 8 Hijrah mereka membantu sekutunya Bani Bakr yang berperang dengan Bani Khuza’ah sekutu umat Islam. Nabi menegur Abu Sofyan tentang bantuan yang mereka berikan kepada Bani Bakr. Dijawab Abu Sofyan bahwa perjanjian Hudaibiyah telah mereka batalkan.

Oleh karena mereka telah membatalkan perjanjian Hudaibiyah secara sepihak. Maka Nabi bersama 10.000 pasukan bertolak ke Makkah untuk melawan mereka. Menjelang sampai di Mekkah pasukan Islam berkemah di pinggiran kota Makkah. Abu Sofyan, pemimpin Quraisy dan anaknya Muawiyah dan juga paman Nabi, Abbas menemui Nabi untuk menyatakan diri masuk Islam.

Dengan demikian pemimpin-pemimpin Quraisy sudah semuanya masuk Islam menjelang penaklukan Kota Makkah, maka pasukan Islam memasuki kota Makkah tanpa perlawanan sama sekali. Berhala-berhala yang selama ini ada di Ka’bah berjumlah 360 mereka hancurkan.

5. Haji Wada'
Pada tahun 10 H Nabi menunaikan ibadah Haji yang dikenal dengan Haji Wada’. Didepan kurang lebih 100.000 orang kaum muslimin Nabi berkhutbah yang isinya antara lain:
  • Pertama, jangan menumpahkan darah kecuali dengan hak.
  • Kedua, jangan mengambil harta orang lain dengan bathil.
  • Ketiga, jangan riba dan menganiaya.
  • Keempat, jangan balas dendam dengan tebusan dosa.
  • Kelima, memperlalukuan para istri dengan baik dan lemah lembut.
  • Keenam, perintah menjauhi dosa.
  • Ketujuh, perintah saling memaafkan atas semua pertengkaran antara mereka di zaman jahiliyah,
  • Kedelapan, tegakkan persaudaraan dan persamaan antara manusia.
  • Kesembilan, perintah memperlakukan hamba sahaya dengan baik.
  • Kesepuluh, perintah harus berpegang teguh kepada dua sumber yang ditinggalkan Nabi, yaitu al-Qur’an dan Sunnah.

6. Wafatnya Nabi Muhammad
Tiga bulan setelah Nabi kembali dari Mekkah ke Madinah, beliau menderita sakit. Abu Bakar disuruh Nabi SAW mengimami kaum muslimin dalam sholat sebanyak tiga kali, bila beliau tidak sanggup melakukannya. Sakit Nabi itu berlangsung selama 14 hari. Akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal tahun 11 H, dalam usia 63 tahun di rumah istrinya ‘Aisyah.

Kesimpulan

Pada masa periode Mekkah, peradaban islam masih belum muncul karena beberapa faktor, di antaranya islam belum bisa berkembang dengan pesat, banyak kaum musyrikin Quraisy yang menghalangi dakwah Nabi, dan kebudayaan Arab pra Islam belum bisa dikendalikan.

Pada periode Madinah, peradaban Islam sudah mulai muncul, karena agama Islam disambut dengan baik oleh penduduk Madinah. Sehingga Nabi Muhammad mengadakan Perjanjian Madinah. Dengan adanya perjanjian tersebut, berarti Nabi selain sebagai Rasul juga sebagai kepala Negara. Pada saat inilah peradaban Islam mulai tumbuh dan berkembang. 

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah