-->

[ADS] Top Ads

Persebaran Peradaban Awal Masyarakat di Dunia Part I

Peradaban awal masyarakat di dunia - Peradaban merupakan istilah yang sering dipakai untuk menunjukan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Dimana ketika suatu masyarakat kebudayaannya berkembang dan mencapai puncak serta terwujud dalam unsur-unsur budaya yang halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya, maka masyarakat tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi. Lalu apa yang dimaksud dengan "Peradaban Dunia"?. Peradaban dunia adalah suatu bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah dan maju yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Melihat dari penjelasan di atas, jika kita membahas mengenai peradaban awal masyarakat di dunia, maka tidak akan lepas dari suatu kebudayaan yang dinilai cukup berpengaruh dalam menghiasi dunia ini. Intinya, peradaban dunia adalah kebudayaan di berbagai belahan dunia yang telah mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi meliputi fisik dan non fisik. Peradaban fisik merupakan benda-benda yang dibuat pada masa itu seperti, bangunan, alat-alat bertani atau berburu, dan lain-lain. Sedangkan peradaban non fisik meliputi kepercayaan, nilai-nilai, seni, ilmu pengetahuan, dan lain-lain.

Peradaban Awal Masyarakat di Dunia Part I

Baik langsung saja ke inti pembahasan yaitu, peradaban pada masa awal masyarakat di berbagai belahan dunia. Namun sebelum itu, perlu diingat bahwa peradaban merupakan kumpulan seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik fisik seperti, bangunan dan patung-patung maupun non fisik seperti, kepercayaan dan ilmu pengetahuan.




A. Peradaban Lembah Sungai Nil (Mesir)
Sungai Nil merupakan nama sebuah sungai yang terbentang dari pegunungan Kilimanjaro (Sudan) hingga Laut Tengah dengan panjang kira-kira 5000 kilo meter (Hendrayana, 2009; 167). Sumber lain menyebutkan bahwa Sungai Nil adalah sungai yang terpanjang di dunia yaitu mencapai 6400 kilometer (Tarunasena, 2009; 156). Sungai ini membentang melewati empat negara yaitu, Uganda, Sudan, Ethiopia, dan Mesir. Akan tetapi, peradaban Lembah Sungai Nil lebih condong kepada peradaban yang ada di Mesir.

Peradaban merupakan kumpulan seluruh hasil budi daya, pemikiran, dan karya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Peradaban Lembah Sungai Nil disebut juga dengan peradaban Mesir Kuno. Sungai Nil merupakan suatu berkah bagi bangsa Mesir. Bagaimana tidak, Mesir merupakan daerah yang sekelilingnya berupa gurun pasir yang luas. Akan tetapi, sungai Nil setiap tahun apabila turun hujan yang mengakibatkan banjir, akan membawa lumpur yang mengandung mineral ke daratan. Di sepanjang lembah sungai Nil inilah masyarakat Mesir dapat bercocok tanam.

1. Mata Pencaharian
Pada masa awal peradaban Lembah Sungai Nil, hidup suatu bangsa yang mata pencahariannya bertani dan berternak (Marwan, 2009;111). Hal ini dikarenakan tidak setiap saat lembah sungai Nil mengandung tanah yang subur, sehingga berternak adalah salah satu solusinya. Namun, karena pekerjaan bercocok tanam dapat bertahan lama dan populasi penduduk semakin bertambah, maka bangsa Mesir dapat mengembangkan sistem air yang baik dan bisa digunakan setiap saat.

2. Sistem Kepercayaan
Secara umum Bangsa Mesir Kuno memiliki dua jenis kepercayaan yaitu, menyembah beberapa dewa dan mempercayai bahwa roh orang yang meninggal tidak akan tetap hidup. Dalam bukunya Tarunasena menyebutkan;
Masyarakat Mesir Kuno sudah mempercayai tentang kehidupan sesudah mati. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya mumi. Di balik mumi terkandung kepercayaan bangsa Mesir Kuno tentang kehidupan setelah mati. Masyarakat Mesir Kuno berkeyakinan bahwa selama jasadnya masih utuh, maka dia akan tetap hidup. Oleh karena itu, masyarakat berusaha untuk mengawetkan mayat agar dia tetap hidup abadi. (Tarunasena, 2009; 164)
Dengan demikian kedua kepercayaan tersebut menghasilkan suatu kebudayaan yaitu, meyembah dewa-dewa dan menyimpan mayat di dalam piramida.

a. Dewa-dewa Mesir Kuno
Masyarakat Mesir Kuno menyembah beberapa dewa (politheisme) yaitu;
  • Dewa matahari yang disebut Amon (Mesir Selatan) dan Ra (Mesir Utara). Namun pada perkembangannya dewa matahari itu disebut Amon-Ra.
  • Dewa peradilan di akhirat yaitu Dewa Osiris.
  • Dewa Sungai Nil, yaitu Dewi Horus yang merupakan dewa kecantikan (Dewi Isis).
  • Dewa Anubis, yaitu dewa kematian.
  • Dewa Aris sebagai dewa kesuburan.
  • Dewa Thot sebagai dewa pengetahuan

3. Kepemerintahan
Peradaban Lembah Sungai Nil secara umum terdapat tiga fase dalam perkembangan di bidang pemerintahan. Pada awalnya masyarakat Lembah Sungai Nil hanya berupa desa-desa kecil. Berabad-abad kemudian pedesaan itu berubah menjadi sebuah kerajaan yang disebut Mones.

a. Kerajaan Mesir Tua
Setelah Mesir menjadi kerajaan yang besar ternyata pada perkembangan selanjutnya kerajaan Mesir Kuno terbagi menjadi dua yaitu, Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Sebutan raja-raja yang memerintah di Mesir dipanggil dengan sebutan Firaun atau Pharaoh. Firaun merupakan pusat kehidupan sosial, politik, dan kepercayaan bangsa Mesir Kuno (Tarunasena, 2009; 157). Berarti firaun memiliki kekuasaan yang luas untuk mengatur seluruh bidang kehidupan masyarakat.

Pada masa kerajaan Mesir Tua terbagi menjadi beberapa periode, sehingga pada masa Mesir Tua terdapat banyak raja, di antaranya;

  • Raja Menes, raja yang telah berhasil mempersatukan dua kerajaan itu menyebabkan dia mendapat julukan Nesutbiti (Raja bermahkota kembar). Kerajaan ini berpusat di Thinis.
  • Raja Chufu, Cherpren, dan Menkaure, pada masa raja ini muncul kebudayaan untuk mengawetkan mayat dengan cara dibalsem (Mumi).
  • Raja Pepi I, perluasan wilayah
  • Raja Pepi II, Kekuataan Mesir melemah, sehingga Kerajaan Mesir yang beribu kota di Memphis mengalami perpecahan dan berubah menjadi kerajaan yang kecil-kecil.

b. Kerajaan Mesir Pertengahan
Pertama, Raja Sesotris III, yaitu raja yang berhasil menyatukan kembali kerajaan-kerajaan kecil pada masa raja Pepi II. Selain itu, pada masa raja ini juga berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga ke Sudan, Palestina, dan ke daerah Sichem. Perekonomian bangsa Mesir pun menjadi meningkat karena raja tersebut piwai dalam berhubungan dengan negara sekitar.

Kedua Raja Amenemhet III, pada masa raja ini perekonomian Mesir mengalami kemajuan yang sangat pesat, terutama pada bidang pertanian. Bangsa Mesir mengandalkan Sungai Nil selain sebagai sarana transportasi, perdagangan, juga digunakan dan dimanfaatkan untuk pertanian. Sungai Nil yang selalu meluap sekali dalam setahun dimanfaatkan oleh para petani untuk menyuburkan lahan pertaniannya.

Namun pada 1750 SM, bangsa Hykos menyerang Mesir. Hal tersebut menyebabkan Kerajaan Mesir mengalami kemunduran. Bangsa Hykos berkuasa di Mesir, dan menjadikan Kota Awiris sebagai ibu kotanya.

c. Kerajaan Mesir Baru
Akhirnya di bawah komando Kerajaan Thebe bangsa Mesir berhasil mengalahkan bangsa Hykos. Sejak saat itulah raja-raja Thebe mendirikan kerajaan Mesir Baru.

  • Raja Ahmosih I, adalah Firaun yang berasal dari kerajaan Thebe yang memimpin langsung serangan ke Kerajaan Hykos. 
  • Raja Thutmosis I, adalah firaun yang berhasil memperluas wilayah kekuasaan mesir ke daerah asia barat.
  • Raja Thutmosis II, Mesir menyerang negara-negara Babylonia, Assyria, Cicilia, Cyprus, dan lain-lain

Masih banyak raja-raja Mesir yang belum kami sebutkan. Jika terdapat kesempatan, nantinya akan kami bahas secara khusus dalam satu artikel tentang Peradaban Lembah Sungai Nil.

4. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Iptek merupakan salah satu kebudayaan. Namun, karena kebudayaan ilmu pengetahuan awal masyarakat di Lembah Sungai Nil juga tergolong maju, maka menjadi bagian dari peradaban. Berikut ini adalah ilmu pengetahuan pada masa awal masyarakat lembah sungai nil.

  • Hieroglyph adalah nama huruf kebudayaan Mesir Kuno.
  • Astronomi,u ntuk mengetahui waktu bercocok tanam, panen atau berdagang dilihat dari siklus musim yang datang setiap tahunnya.
  • Sistem pengawetan, yaitu usaha untuk mengawetkan orang yang sudah meninggal dengan menggunakan rempah-rempah atau ramuan lainnya supaya tidak tercium bau busuk.
  • Arsitektur, yaitu peninggalan-peninggalan Mesir berupa patung dan bangunan yang besar menunjukkan adanya teknologi pembuatannya, apalagi semua ukuran patung dan bangunan tersebut berukuran besar, seperti piramid (makam para firaun), sphinx (singa berkepala manusia sebagai lambang kekuatan dan kebijaksanaan) dan obelisk (tugu batu untuk memuja Dewa Amon Ra).

B. Peradaban Lembah Sungai Indus
Daerah Lembah sungai Indus terletak di Barat Laut India. Sungai Indus berasal dari mata air di Tibet, mengalir melalui pegunungan Himalaya. Setelah menyatu dengan sungai lain, akhirnya bermuara ke Laut Arab. Studi tertua tentang India pada masa interglasial II, sekitar 400.000 SM - 200.000 SM. Berdasarkan penelitian terhadap jenis batu pada lapisan tanah di kawasan India. Terungkaplah sebuah fakta dan para ahli menyimpulkan bahwa di Lembah Sungai Indus pernah berlangsung peradaban yang terkenal dengan peradaban Mohenjodaro-Harappa yang berkembang pada 2300 SM.

Peradaban Lembah Sungai Indus dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu;

1. Keadaan sosial budaya
Penelitian di situs Mohenjodaro-Harappa, mengungkapkan bahwa penduduk pada masa ini mempunyai peradaban sosial budaya yang tinggi. Dari penelitian itu ditemukan bahwa masyarakat Mahendojaro-harppa telah mengenal adat istiadat dan telah mempunyai kebiasaan-kebiasaan dalam msyarakat.

2. Benda-benda yang dibuat
Penelitian itu juga menemukan beberapa benda yang tergolong canggih pada zamannya, yaitu;

  • Amulet-amulet atau benda kecil sebagai azimat dan dipakai sebagai kalung
  • Periuk belanga yang sudah dibuat dengan teknik tuang yang tinggi
  • Gelang, patung-patung kecil, dan lain-lain yang terbuat dari poeselin Tiongkok.
  • Piala-piasa emas, perak, timah hitam, tembaga, maupun perungu.

3.Kepercayaan
Cara penguburan jenazah telah dikenal oleh masyarakat Lembah Sungai Indus walau disesuaikan dengan tradisi suku bangsa. Selain itu, Masyarakat Lembah Sungai Indus di Mohenjodaro juga melakukan pembakaran jenazah. Jenazah yang sudah dibakar dan menjadi abu dimasukkan ke dalam tempat khusus. Namun, ada kalanya tulang-tulang yang tidak dibakar disimpan di tempayan.


Pada tahun 1500 SM, bangsa Arya yang berasal dari Asia Tengah menyerbu bangsa Dravida (penduduk Mahenjodaro-Harappa). Hingga pada akhirnya banya dari bangsa Dravida pergi ke selatan, namun ada juga yang masih bertahan dan mencoba berinteraksi terhadap bangsa Arya. Interaksi yang terus menerus menghasilkan suatu kebudayaan Hindu yang merupakan pencampuran kebudayaan Dravida dan Arya.

4. Agama
Terdapat dua Agama pada masa Lembah Sungai Indus yaitu, agama Hindu dan Budha. Karena peradaban Lembah Sungai Indus masih ada hubungannya, maka untuk agama akan di jelaskan pada pembahasan Lembah Sungai Gangga.

5. Politik dan Pemerintahan
Kondisi kehidupan politik pada masa transisi (pasca Harappa hingga masa Arya), tampaknya mulai melemah dikarenakan berkurangnya penduduk yang tinggal di kawasan Lembah Sungai Indus pada paruh kedua Milenium II SM.

C. Peradaban Lembah Sungai Gangga
Lembah Sungai Gangga merupakan sungai yang terletak antara Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Vindhyah. Di tempat itu juga terdapat anak sungai yang disebut Yamuna. Kedua sungai tersebut bermata air di Pegunungan Himalaya. Mengalir melalui beberapa kota seperti, Dlhi, Agra, dan bermuara di wilayah Banglades ke teluk Belgia. Lembah Sungai Gangga merupakan tempat yang subur.

Penduduk Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Arya yang termasuk Indo-jerman. Mereka berkulit putih, berbadan tinggi, dan mancung hidungnya. Bangsa ini memasuki wilayah India kurang lebih pada tahun 1500 SM.

1. Mata Pencaharian
Mata pencaharian Bangsa Arya semula berternak, akan tetapi karena bangsa ini berhasil mengalahkan bangsa Dravida di Lembah Sungai Indus yang subur. Maka daerah tersebut dikuasai dan mereka pun mulai bercocok tanam.

2. Sistem Kepercayaan atau Agama
Bangsa Aria berhasil mengambil alih kekuasaan politik, sosial dan ekonomi. Akan tetapi, dalam kebudayaan terjadi percampuran (asimilasi) antara Aria dan Dravida. Percampuran budaya itu melahirkan kebudayaan Weda. Kebudayaan inilah yang melahirkan agama dan kebudayaan Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang kemudian disebut Aryawarta (negeri orang Aria) atau Hindustan (tanah milik orang Hindu).

a. Agama Hindu
Inti dari ajaran agama Hindu adalah didasarkan pada karma, reinkarnasi, dan moksa. Karma adalah perbutan baik buruk dari manusia ketika di dunia yang menentukan kehidupan berikutnya. Reinkarnasi ialah penjilmaan kembali kehidupan manusia sesuai dengan karmanya. Bila seseorang berbuat baik akan lahir kembali ke tingkat yang lebih tinggi; sebaliknya jika berbuat buruk mengakibatkan reinkarnasi ke tingkat yang lebih rendah, misalnya lahir sebagai hewan. Moksa ialah tingkat hidup tertinggi yang terlepas dari ikatan keduniawian atau terbebas dari reinkarnasi.

b. Agama Budha
Tokoh pendiri agama Buddha adalah Gautama Sakyamuni. Nama ini mengandung arti orang bijak dari Sakya, ia diperkirakan lahir pada 563 SM. Ia adalah putra seorang kepala daerah yang bernama Suddhodana di Kapilavastu, perbatasan Nepal. Ketika umurnya sudah mencukupi, Gautama menikah dengan kemenakannya yang bernama Yasodhara. Selang beberapa waktu, Yasodhara melahirkan seorang anak yang bernama Rahula. 


Pada umur 29 tahun, Gautama memutuskan untuk meninggalkan keduniawian, meninggalkan istana dan mengembara dengan jubah kuning. Sampai pada suatu waktu, ketika Gautama sedang duduk di bawah sebatang pohon pipala di Bodhi Gaya, ia menerima penerangan atau Bodhi. Di tempat itu kemudian dibangun candi yang bernama Mahabodhi.

3. Kepemerintahan
Tidak banyak informasi yang di dapatkan dari sistem kepemerintahan Lembaha Suangai Gangga. Karena pada saat bangsa Arya sudah menguasai Lembah Sungai Indus, mereka tidak tidak mampu untuk membuat sistem kepemerintahan yang baik. Dan dikatakan bahwa bangsa Arya belum bisa mengatur sistem politik karena peradabannya masih tahap mengembara.


4. Sosial Budaya
Pembagian golongan atau tingkatan dalam masyarakat Hindu terdiri dari empat kasta atau caturwarna, yakni : Brahmana (pendeta), bertugas dalam kehidupan keagamaan; Ksatria (raja, bangsawan dan prajurit), berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara, Waisya (pedagang, petani, dan peternak), dan Sudra (pekerja-pekerja kasar dan budak).

Kasta Brahmana, Kastria, Waisya terdiri dari orang-orang Aria. Kasta Sudra terdiri dari orang-orang Dravida. Selain keempat kasta di atas, ada lagi kasta Paria/Candala atau Panchama. Panchama yang berarti "kaum terbuang". Kasta ini dipandang hina, karena melakukan pekerjaan kotor, orang jahat dan tidak boleh disentuh, lebih-lebih bagi kaum Brahmana.

D. Peradaban Lembah Sungai Mekong
Mekong atau Kamboja merupakan daerah pegunungan Kwen Lun di Asia. Sungai ini mengalir melaui daerah Cina Selatan, menjadi perbatasan Thailah dan Indo Cina dan menbangun Tanjung Kamboja. Sungai Mekong memberikan kesuburan tanah kepada daerah-daerah yang dilaluinya, seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja.

Pada lembah sungai Mekong terdapat dua pusat peradaban, yaitu Bacson-Hoabinh dan Dongson. Bascon adalah daerah pegunungan dan Hoabinh adalah dataran. Peradaban daerah ini pada mulanya adalah Mesolitikum. Dongson merupakan asal kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Karena itu, kebudayaan perunggu di Asia Tenggara disebut juga Kebudayaan Dongson. Pendukung dan penyebar kebudayaan Dongson adalah bangsa Melayu Baru yang menyebar ke kepulauan Nusantara sekitar 500 SM.

1. Mata Pencaharian
Bercocok tanam meliputi berladang maupun bersawah. Hasilnya berupa padi yang merupakan bahan makanan pokok, di samping palawija yang merupakan tanaman selingan, seperti kacang, kedelai, dan jagung. Untuk mengerjakan sawah, mereka menggunakan bajak yang ditarik oleh kerbau atau sapi.

2. Sistem Kepercayaan
Pemujaan roh nenek moyang (animisme) dan pemujaan terhadap benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib (dinamisme) adalah kepercayaan yang mereka kenal. Dalam prakteknya kedua macam kepercayaan itu menimbulkan kebudayaan wayang, pemujaan makam dan sebagainya.

3. Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan astronomi dipergunakan bangsa Melayu untuk pertanian dan pelayaran. Gugusan bintang Waluku yang bentuknya seperti bajak dipergunakan sebagai tanda untuk mengetahui datangnya musim bercocok tanam; sedangkan gugusan Bintang Salib Selatan dipergunakan untuk mengetahui arah dalam pelayaran.

4. Jenis Alat dan Teknologi
Salah satu ciri khas perahu buatan bangsa Melayu adalah dipergunakannya cadik. Cadik terbuat dari kayu atau bambu dan yang membuat perahu menjadi seimbang sehingga tidak mudah goyang.

Alat yang cukup terkenal juga adalah kapak lonjong dan kapak persegi yang dihasilkan dari peradaban Bascon. Sedangkan pada peradaban Dongson menghasilkan beberapa jenis alat dari perunggu adalah kapak corong yang merupakan kapak logam bertangkai.

Penutup

Sebenarnya masih ada beberapa peradaban yang belum kami bahas dalam artikel ini, yaitu;
1. Peradaban Lembah Sungai Hoang Ho atau Sungai Kuning (Cina)
2. Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris
3. Peradaban Yunani Kuno
4. Peradaban Romawi Kuno

Namun, akan kami bahas di dalam artikel selanjutnya. Karena jika kami bahas dalam satu artikel ini, maka akan terlalu panjang. Maka dari itu kami cukupkan pembahasan mengenai peradaban awal masyarakat di dunia dan akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat dan kami dari penulis apabila terdapat kesalahan dalam pembahasan ini mohon diluruskan di kolom komentar.

Artikel Berkaitan:
Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat di Dunia Terhadap Peradaban Indonesia

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah