-->

[ADS] Top Ads

Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia dan Penjelasanya

Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia

Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia

Penting bagi kita untuk mengetahui sejarah yang telah ada sejak dahulu. Karena dengan kita mengetahui sejarah, kita bisa mengenal peradaban masa lalu. Banyak para pakar sejarah yang sudah menguak peradaban masa lalu. Sehingga kita hanya perlu mempelajari saja. Kehidupan awal masyarakat Indonesia merupakan bagian dari sekian banyak cerita.

Ada tiga fase kehidupan awal masyarakat Indonesia, berikut penjelasanya;

1. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Manusia merupakan makhluk yang memiliki perbedaan dengan hewan. Manusia memiliki akal untuk berfikir sedangkan binatang tidak memilikinya. Maka dari itu, manusia berinteraksi dengan lingkungan, alam dan tantangan lebih banyak menggunakan akalnya.

Perkembangan kehidupan manusia terjadi bukan hanya dengan alam dan lingkungannya saja, akan tetapi interaksi dengan sesama manusia juga mengalami perkembangan. Berikut ini perkembangan kehidupan awal masyarakat Indonesia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan.

Keadaan Lingkungan

Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, kehidupan manusia purba masih sangat sulit, karena keadaan alam belum stabil (Marwan, 2009). Letusan gunung masih sering terjadi, aliran sungai terkadang mengalami pergeseran arah karena pergerakan lempengan bumi.

Manusia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan selalu berpindah-pindah untuk mencari daerah baru yang masih terdapat sumber makanan. Pada masa ini, manusia tinggal di gua-gua yang tidak jauh dari air, tepi pantai dan tepi sungai (Hendrayana, 2009).

Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial pada masa berburu dan mengumpulkan makanan sudah dilakukan dengan cara berkelompok. Saat perburuan, tentu diperlukan adanya kerja sama antar individu yang kemudian membentuk sebuah kelompok kecil (Hendrayana, 2009).

Selain itu juga adanya keterikatan satu sama lain di dalam satu kelompok, yang laki-laki bertugas memburu hewan dan yang perempuan mengumpulkan makanan dan mengurus anak. Satu kelompok biasanya terdiri dari 10 – 15 orang.

Budaya dan Alat Yang Digunakan

Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan alat-alat yang digunakan masih sangat sederhana. Batu, tulang, dan kayu merupakan bahan-bahan yang digunakan oleh manusia purba untuk membuat alat-alat (Tarunasena, 2009). Batu yang digunakan pun masih kasar dan belum dihaluskan.

Hasil kebudayaan (alat-alat) yang digunakan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan antara lain:
  • Kapak perimbas: tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan cara digenggam; diduga hasil kebudayaan Pithecanthropus Erectus. Kapak perimbas ditemukan pula di Pakistan, Myanmar, Malaysia, Cina, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
  • Kapak penetak: bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas, namun lebih besar dan masih kasar; berfungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu; ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
  • Kapak genggam: bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas dan penetak, namun bentuknya lebih kecil dan masih sederhana dan belum diasah; ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia; digenggam pada ujungnya yang lebih ramping.
  • Pahat genggam: bentuknya lebih kecil dari kapak genggam; berfungsi untuk menggemburkan tanah dan mencari umbi-umbian untuk dikonsumsi.
  • Alat serpih atau flake: bentuknya sangat sederhana; berukuran antara 10 hingga 20 cm; diduga digunakan sebagai pisau, gurdi, dan penusuk untuk mengupas, memotong, dan menggali tanah; banyak ditemukan di goa-goa yang pernah ditinggali manusia purba.

Selain itu ada pula alat-alat yang terbuat dari tulang: berupa tulang-belulang binatang buruan. Alat-alat tulang ini berfungsi sebagai pisau, belati, mata tombak, mata panah; banyak ditemukan di Ngandong.

2. Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia pada Masa Bercocok Tanam

Kehidupan awal masyarakat Indonesia pada masa bercocok tanam sudah mulai meningkat dari masa sebelumnya. Terutama pada cara memperoleh makanan. Cara mencari makanan pada masa berburu hanya dengan berburu, sedangkan pada masa bercocok tanam, cara mencari makanan sudah lebih bervariasi.

Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Pada masa bercocok tanam kehidupan sosialnya masih tetap berkelompok. Tempat tinggal juga masih berada di hutan-hutan atau di gua-gua. Karena manusia pada masa bercocok taman sudah mulai mengenal bertani, maka tempat tinggalnya sudah mulai tidak sering berpindah-pindah. Artinya, manusia pada masa bercocok tanam sudah mulai setengah menetap.

Mulai bercocok tanam, manusia purba menjadi saling mengenal dengan sesama. Hubungan kelompok satu dengan yang lainnya menjadi erat. Ini karena dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.

Mengenai kehidupan ekonominya, dalam buku yang berjudul Sejarah SMA/MA Jilid 1 Kelas X menyebutkan bahwa:

Kehidupan bercocok tanam pertama kali yang dikenal manusia purba adalah berhuma. Berhuma adalah bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan kemudian menanaminya. Setelah tanahnya tak subur, mereka mencari hutan lain untuk dihumakan. Setelah bosan berhuma, manusia purba segera mencari akal guna mempermudah hidup mereka. Mulailah mereka bercocok tanam dan beternak (Hendrayana, 2009; 112).

Alam yang dipakai untuk bercocok tanam adalah hutan-hutan. Hutan itu ditebang, dibersihkan, kemudian ditanam dengan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, atau pepohonan lainnya yang dibutuhkan oleh manusia atau masyarakat.

Cara yang mereka lakukan masih sangat sederhana yaitu dengan berhuma. Berhuma merupakan cara bercocok tanam yang sangat sederhana. Karena berhuma memerlukan tempat yang subur, maka ketika tanah sudah tidak subur, mereka akan mencari daerah baru.

Budaya dan Alat-Alat yang Dihasilkan

Kehidupan awal masyarakat Indonesia pada masa bercocok taman baik budaya maupun alat-alat yang dipergunakan sudah lebih efektif dari masa berburu. Mereka sudah mulai memperhalus peralatan mereka.

Dari sinilah timbul perkakas-perkakas yang lebih beragam dan maju secara teknologi dari pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, baik yang terbuat dari batu, tulang, maupun tanah liat (Hendrayana, 2009: 113).

Berikut ini adalah budaya atau alat-alat pada saat itu yang bersumber dari bukunya Hendrayana, Sejarah SMA/MA Jilid 1 Kelas X, hlm. 113-114;
  • Beliung persegi: diduga dipergunakan dalam upacara; banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Semenanjung Melayu, dan beberapa daerah di Asia Tenggara.
  • Kapak lonjong: umumnya terbuat dari batu kali yang berwarna kehitam-hitaman; dibuat dengan cara diupam hingga halus; ditemukan di daerah Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Filipina, Taiwan, Cina.
  • Mata panah: digunakan sebagai alat berburu dan menangkap ikan; untuk menangkap ikan mata panahnya dibuat bergerigi dan terbuat dari tulang, mata panah untuk menangkap ikan ini banyak ditemukan di dalam goa-goa di pinggir sungai; orang Papua kini masih menggunakan mata panah untuk menangkap ikan dan berburu, namun terbuat dari kayu.
  • Gerabah: terbuat dari tanah liat yang dibakar; digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda perhiasan; biasanya dihiasi motif-motif hias yang indah.
  • Perhiasan: terbuat dari tanah liat, batu kalsedon, yaspur, dan agat; dapat berwujud kalung, gelang, anting-anting; bila seseorang meninggal maka ia akan dibekali perhiasan di dalam kuburannya.

3. Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia pada Masa Perundagian

Pada masa ini, baik sistem sosial, budaya dan alat-alat yang dihasilkan sudah mengalami kemajuan yang pesat. Seperti yang disebutkan di awal bahwa manusia berbeda dengan hewan atau binatang. Manusia memiliki akal untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan Sosial

Pada masa perundagian kehidupan sosial sudah mulai terdapat persaingan antar individu. Mereka (masyarakat pada masa perundagian) sudah berkeinginan untuk menguasai satu bidang. Gejala ini menyebabkan timbunnya golongan sosial. Golongan ini merupakan golongan masyarakat terampil dan mampu menguasai teknologi pada bidang-bidang tertentu, misalnya membuat rumah, peleburan logam, membuat perhiasan (Hendrayan 2009;.116).

Pada masa perundagian diperkirakan sudah mengenal pembagian kerja. Hal ini dapat dilihat dari pengerjaan barang-barang dari logam. Pengerjaan barang-barang ari logam membutuhkan suatu keahlian, tidak semua orang dapat mengerjakan pekerjaan ini. Dengan demikian masyarakat perundagian sudah terjadi pelapisan sosial (Tarunasena, 2009;140).

Pada masa perundagian kehidupan sosialnya sudah mengenal sistem kemasyarakatan yang sudah teratur. Masyarakat hidup diikat oleh norma-norma dan nilai. Norma-norma dan nilai-nilai ini diciptakan oleh mereka sendiri, disepakati dan dijadikan pegangan dalam menjalankan kehidupannya.

Sebagaimana layaknya dalam suatu sistem kemasyarakatan, pada masa ini sudah ada pemimpin dan ada masyarakat yang dipimpin. Struktur ini dikatakan ada kalau dilihat dari penemuan alat-alat untuk penguburan. Kuburan-kuburan yang ada terdapat kuburan yang diiringi dengan berbagai bekal bagi mayat. Model kuburan ini diperkirakan hanya untuk para pemimpin. (Tarunasena, 2009;140)

Kehidupan Ekonomi

Berbicara mengenai kehidupan ekonomi pada masa perundagian tentu tidak lepas dari mata pencaharian masyarakat pada masa perundagian. Sistem mata pencaharian pada masa perundagian sudah mengalami kemajuan. Keterikatan terhadap bahan-bahan makanan yang disediakan oleh alam mulai berkurang. Mereka mampu mengolah sumber-sumber daya yang ada di alam untuk dijadikan bahan makanan.

Cara bertani berhuma sudah mulai berubah menjadi bertani dengan bersawah. Ada perbedaan dalam cara bertani berhuma dengan bersawah. Dalam bertani berhuma ada kebiasaan meninggalkan tempat olahannya, apabila tanahnya sudah tidak subur, jadi hidup mereka pun tidak menetap secara permanen. Sedangkan dalam bertani bersawah tidak lagi berpindah, mereka tinggal secara permanen.

Budaya dan Alat-Alat yang Dihasilkan

Pada masa ini budaya dan alat-alat yang dihasilkan sudah banyak bervariasi. Hasil peninggalan budaya dan alat-alat pada masa perundagian adalah sebagai berikut;
  • Nekara perunggu: berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk memohon turun hujan dan sebagai genderang perang; memiliki pola hias yang beragam, dari pola binatang, geometris, dan tumbuh-tumbuhan, ada pula yang tak bermotif; banyak ditemukan di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Selayar, Papua.
  • Kapak perunggu: bentuknya beraneka ragam. Ada yang berbentuk pahat, jantung, atau tembilang; motifnya berpola topang mata atau geometris.
  • Bejana perunggu: bentuknya mirip gitar Spanyol tanpa tangkai; di temukan di Madura dan Sulawesi.
  • Arca perunggu: berbentuk orang sedang menari, menaiki kuda, atau memegang busur panah; ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor, Palembang.
  • Perhiasan dan manik-manik: ada yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi; berbentuk gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, bandul; banyak ditemukan di Bogor, Bali, dan Malang; sedangkan manik-manik banyak ditemukan di Sangiran, Pasemah, Gilimanuk, Bogor, Besuki, Bone; berfungsi sebagai bekal kubur; bentuknya ada yang silinder, bulat, segi enam, atau oval.
Sumber: Hendrayana, (2009; 116-117).

Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Indonesia

Seperti yang disebutkan di atas bahwa kehidupan awal masyarakat Indonesia dibagi menjadi tiga fase, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa perundagian. Maka dari itu pada kepercayaan awal masyarakat Indonesia akan dibahas berdasarkan tiga fase tersebut.

Sistem kepercayaan awal masyarakat Indonesia akan kami rangkum dari sumber buku Sejarah SMA/MA Jilid I karya Hendrayana.

1. Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Indonesia pada Masa Berburu

Penemuan akan kuburan primitif merupakan bukti bahwa manusia berburu makanan ini telah memiliki kepercayaan yang bersifat rohani dan spiritual. Masyarakat zaman ini menganggap bahwa orang yang telah mati akan tetap hidup di dunia lain dan tetap mengawasi anggota keluarganya yang masih hidup.

Adanya penggunaan alat-alat berburu dari alam menimbulkan kepercayaan akan adanya kekuatan alam yang dianggap telah membantu keberhasilan berburu.

Temuan lukisan di dinding-dinding gua menunjukkan adanya hasrat manusia purba untuk merasakan suatu kekuatan yang melebihi kekuatan dirinya. Lukisan dibuat dalam bentuk cerita upacara penghormatan nenek moyang, upacara kesuburan, perkawinan, dan upacara minta hujan, seperti yang terdapat di Papua.

2. Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Indonesia pada Masa Bercocok Tanam

Pemujaan terhadap roh atau arwah leluhur tidak hanya terdapat di Indonesia, namun juga hampir di seluruh dunia. Pemujaan ini berawal dari anggapan manusia terhadap kekuatan alam.

Tanah, air, udara, dan api dianggap sebagai unsur pokok dalam kehidupan semesta. Semua itu diatur dan dijaga oleh suatu kekuatan, kepercayaan inilah yang menyebabkan munculnya sosok roh setelah mati.

Sistem kepercayaan masa bercocok tanam ini merupakan kelanjutan dari kepercayan masa sebelumnya. Pada masa bercocok tanam ini manusia purbanya telah mengenal anggapan bahwa roh manusia setelah mati dianggap tidak hilang, melainkan berada di alam lain yang tidak berada jauh dari tempat tinggalnya dahulu.

Dengan demikian, karena sewaktu-waktu roh yang bersangkutan dapat dipanggil kembali bila dimintakan bantuannya.

3. Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Indonesia pada Masa Perundagian

Kepercayaan masyarakat pada masa perundagian merupakan kelanjutan dari masa bercocok tanam. Kepercayan berkembang sesuai dengan pola pikir manusia yang merasa dirinya memiliki keterbatasan dibandingkan dengan yang lainnya. Anggapan seperti ini memunculkan jenis kepercayaan: animisme dan dinamisme.

Animisme

Dalam kepercayaan animisme, manusia mempunyai anggapan bahwa suatu benda memiliki kekuatan supranatural dalam bentuk roh. Roh ini bisa dipanggil dan diminta pertolongan pada saat diperlukan.

Dinamisme

Kepercayaan dinamisme ini perpanjangan dari animisme. Roh atau makhluk halus yang diyakini berasal dari jiwa manusia yang meninggal, kemudian mendiami berbagai tempat, misalnya hutan belantara, lautan luas, gua-gua, sumur dalam, sumber mata air, persimpangan jalan, pohon besar, batu-batu besar, dan lain-lain.

Timbullah kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib yang dapat menambah kekuatan seseorang yang masih hidup. Kekuatan yang timbul dari alam semesta inilah yang menimbulkan kepercayaan dinamisme (dinamis berarti bergerak).

Keberadaan Awal Manusia di Bumi

Pembahasan mengenai kehidupan awal manusia di bumi akan lebih mudah jika kita melihat bagan dan tabel berikut ini;

pembagian zaman praaksara

Sumber: Hendrayana, Sejarah SMA/MA Jilid 1 Kelas X, 2009; 92.

Catatan:
Penjelasan tabel di atas akan kami bahas dari Arkaikum (Zaman Batu Tertua) terlebih dahulu, kemudian Paleozoikum, Mesozoikum, terus ke atas.

1. Masa Arkaikum ( Zaman Batu Tertua )

Arkaikum atau arkeozoikum merupakan zaman batu tertua atau masa awal. Masa ini disebut juga dengan masa awal pembentukan bumi (dari inti bumi – kulit bumi). Pada masa ini belum ada kehidupan di bumi, karena pada saat itu bumi belum stabil dan masih berupa gas yang memiliki suhu sangat panas. Berjalanya waktu, gas panas itu temperaturnya menurun dan mulai mengeras sampai membentuk kerak bumi.

Pada bukunya Tarunasena (2009; 123) arkaikum disebut dengan arkeozoikum atau disebut dengan masa Pra-Kabumi. Intinya sama, yaitu masa sebelum bumi belum terbentuk. Untuk lebih jelasnya mengenai gambaran masa arkaikum atau arkeozoikum kami akan kutip penjelasan dari Bukunya Tarunasena (2009; 123).

Pada masa arkeozoikum, di bumi belum ada tanda-tanda kehidupan. Bumi ini masih merupakan gas yang panas sehingga tidak memungkinkan untuk makhluk hidup dapat bertahan hidup dalam kondisi alam seperti itu. Lama kelamaan akhirnya temperatur gas tersebut akhirnya mulai menurun dan sebagian mulai mengeras membentuk kerak bumi.

Sumber: Tarunasena M., Sejarah SMA/MA Untuk Kelas X, 2009; 123.

2. Masa Paleozoikum (Zaman Kehidupan Tua)

Paleozoikum artinya adalah zaman bumi purba; maksudnya masa ketika pada permukaan bumi mulai terbentuk hidrosfer dan atmosfer (Hendrayana, 2009; 93). Pada masa ini sudah terdapat tanda-tanda kehidupan. Diawali dengan makhluk hidup bersel tunggal kemudian makhluk bersel banyak juga mulai tumbuh.

3. Masa Mesozoikum (Zaman Kehidupan Pertengahan)

Masa mesozoikum disebut juga dengan zaman kehidupan madya (Tarunasena M., 2009; 123). Artinya pada masa ini merupakan fase kedua dari keberadaan makhluk hidup. Masa ini, di bumi mengalami perkembangan yang pesat dengan ditandai adanya hewan-hewan bertubuh besar. Hewan-hewan bertubuh besar itu sebagai mana yang di sebutkan dalam bukunya Hendrayana, yaitu;

Pada masa ini hewan jenis reptilia meningkat jumlahnya, dinosaurus menguasai daratan, ichtiyosaurus berburu di dalam lautan, dan pterosaurus merajai angkasa. Telah muncul pula jenis hewan mamalia (hewan menyusui). Walaupun demikian, zaman ini tetap disebut zaman reptil karena banyaknya populasi reptil yang hidup.

Sumber: Hendrayana, Sejarah SMA/MA Jilid 1 Kelas X, 2009; 93.

4. Masa Kainozoikum (Zaman Kehidupan Baru)

Sesuai dengan Bagan 1 di atas, zaman atau masa ini dibagi menjadi dua, yaitu;

Zaman Tersier

Zaman ini muncul pada saat zaman hewan-hewan berukuran besar (seperti dinosaurus) mulai punah. Pada zaman ini diperkirakan muncul hewan baru yang merupakan jenis hewan mamalia, burung berukuran besar namun tidak mempunyai gigi yang menyerupai burung unta, dan munculnya fauna laut seperti ikan. Namun pada zaman ini diperkirakan manusia belum ada (Tarunasena, 2009; 124).

Zaman Kuarter

Pada zaman ini banyak terjadi kepunahan dan munculnya hewan-hewan serta tumbuh-tumbuhan baru. Manusia diperkirakan muncul pada zaman kuarter. Hal ini dibuktikan dengan ditemukanya fosil-fosil manusia yang setelah diperkirakan usianya berada pada kala plestosen (Tarunasena, 2009; 124). Zaman Kuarter dibagi menjadi dua yaitu;

Kala Plestosen, Pada masa Plestosen paling sedikit telah terjadi 5 kali zaman es (zaman glasial) (Hendrayana, 2009; 94). Namun pada bukunya Tarnasena menyebutkan bahwa, pada kala plestosen terjadi tujuh kali perubahan, yaitu empat kali zaman glasial dan tiga kali zaman interglasial ( Tarunasena, 2009; 124).

Kala Holosen, manusia modern seperti manusia pada saat ini diperkirakan muncul.

E. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut;

Perkembangan kehidupan awal masyarakat Indonesia dari masa ke masa mengalami banyak kemajuan. Ada tiga masa di mana kehidupan awal masyarakat Indonesia mengalami perkembangan yaitu, pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, pada masa bercocok tanam, dan pada masa perundagian.

Pada masa perundagian kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan alat-alat yang dihasilkan mengalami perkembangan yang luar biasa. Terdapat banyak variasi peninggalan alat-alat yang digunakan, kehidupan ekonomi juga semakin makmur, serta kehidupan sosialnya sudah teratur dan terstruktur.

Demikian penjelasan kehidupan awal masyarakat Indonesia. Jika terdapat kesalahan, kritik dan saran dalam tulisan ini mohon komentarnya di kolom komentar di bawah untuk meluruskanya. Agar website yang kami bangun menjadi lebih baik untuk kedepanya.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah