-->

[ADS] Top Ads

Pengertian Praaksara dan Tradisi Zaman Pra-Aksara di Indonesia

Pengertian praaksara dan tradisi praaksara di Indonesia - Sejarah merupakan hal yang sangat penting untuk menjadikan kehidupan manusia menuju zaman yang lebih baik, entah itu sejarah yang berupa tradisi atau sejarah yang berupa pengalaman. Sejarah yang baik dan dapat memberikan contoh yang baik pula dalam kehidupan di masyarakat akan ditiru dari generasi ke generasi selanjutnya hingga menjadi suatu tradisi. Maka dari itu, kita sebagai bangsa Indonesia penting untuk mengetahui tradisi nenek moyang kita.



Pengertian Praaksara dan Nirleka

Secara bahasa, pengertian praaksara adalah “sebelum aksara”. Kata praaksara sendiri sebenarnya terdiri dari dua kata yaitu, “pra” yang artinya “sebelum” dan “aksara” yang artinya “tulisan”. Ketika dua kata itu digabung menjadi satu, akan membentuk kata “praaksara” yang artinya adalah “sebelum tulisan” atau “sebelum mengenal tulisan”. Sedangkan pengertian praaksara secara istilah adalah zaman ketika manusia belum mengenal tulisan.

Istilah lain yang sama maknanya dengan kata “praaksara” adalah “nirleka”. Kata “nirleka” juga mengandung dua kata yaitu, “nir” dan “leka”. Arti dari kedua kata tersebut adalah “nir” yang artinya “tidak ada” dan “leka” yang artinya “tulisan”. Jadi arti dari “nirleka” adalah “tidak ada tulisan”. Sedangkan secara istilah, pengertian dari “nirleka” adalah zaman di mana manusia tidak mengenal tulisan atau zaman dimana manusia tidak ada tulisan.



Dari penjelasan di atas, kedua istilah tersebut (praaksara dan nirleka) memiliki inti yang sama, yaitu di mana pada zaman itu manusia belum mengenal tulisan. Dalam buku Sejarah Indonesia Kelas X yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014) menyebutkan:

Pra-aksara berasal dari dua kata, yakni pra yang berarti sebelum dan aksara yang berarti tulisan. Dengan demikian zaman pra-aksara adalah masa kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan. Ada istilah yang mirip dengan istilah pra-aksara, yakni istilah nirleka. Nir berarti tanpa dan leka berarti tulisan. Karena belum ada tulisan maka untuk mengetahui sejarah dan hasil-hasil kebudayaan manusia adalah dengan melihat beberapa sisa peninggalan yang dapat kita temukan. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Indonesia kelas X, 2014:4).

Inti dari pengertian praaksara adalah zaman di mana manusia belum mengenal tulisan atau zaman ketika manusia tidak menggunakan tulisan dikarenakan belum ada tulisan. Kemudian, ada sebuah istilah yang sebenarnya memiliki arti yang berbeda dengan istilah “praaksara”, namun masih banyak yang menganggapnya sama. Istilah ini adalah “prasejarah”. Antara kata “praaksara” dan kata “prasejarah” sebenarnya mengandung arti yang berbeda. Selanjutnya, untuk memperjelas perbedaan antara kedua istilah itu, silakan simak pada bab Perbedaan Praaksara dan Prasejarah.

Perbedaan Praaksara dan Prasejarah

Agar menjadi runtut dan jelas dalam membedakan antara kata “praaksara” dan “prasejarah”, alangkah baiknya jika mengetahui terlebih dahulu pengertian dari praaksara dan prasejarah.

Di atas tadi sudah disebutkan bahwa pengertian dari praaksara adalah masa kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan. Pada pengertian praaksara ini mengandung masa atau waktu yang khusus yaitu, waktu ketika manusia belum mengenal tulisan. Jadi, ketika manusia manusia belum menggunakan tulisan dikarenakan tulisan memang tidak ada pada saat itu, maka itulah yang disebut dengan praaksara. Sedangkan pengertian “prasejarah” adalah “pra” berarti “sebelum” dan “sejarah” berarti “sejarah” itu sendiri. Jadi arti dari kata “prasejarah” adalah sebelum adanya sejarah. Sedangkan zaman dimana belum adanya sejarah adalah pada saat manusia belum tercipta atau belum ada di bumi.

Dari uraian di atas, perbedaan dari kedua istilah itu adalah rentang waktunya. Jika prasejarah, berarti zaman dimana manusia belum ada di bumi. Sedangkan praaksara memiliki rentang waktu di mana manusia sudah tercipta di bumi akan tetapi belum mengenal tulisan.

Untuk memperkuat dan memperjelas perbedaan antara kata “praaksara dan prasejarah”, akan kami kutipkan suatu pendapat yang diambil dari buku yang berjudul Sejarah Indonesia (2014):

Pra-aksara adalah istilah baru untuk menggantikan istilah prasejarah. Penggunaan istilah prasejarah untuk menggambarkan perkembangan kehidupan dan budaya manusia saat belum mengenal tulisan adalah kurang tepat. Pra berarti sebelum dan sejarah adalah sejarah sehingga prasejarah berarti sebelum ada sejarah. Sebelum ada sejarah berarti sebelum ada aktivitas kehidupan manusia. Dalam kenyataannya sekalipun belum mengenal tulisan, makhluk yang dinamakan manusia sudah memiliki sejarah dan sudah menghasilkan kebudayaan. Oleh karena itu, para ahli mempopulerkan istilah praaksara untuk menggantikan istilah prasejarah. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, “Sejarah Indonesia kelas X”, 2014:4).

Dalam kutipan di atas, menyebutkan bahwa, penggunaan istilah prasejarah untuk menggambarkan perkembangan kehidupan dan budaya manusia saat belum mengenal tulisan adalah kurang tepat. Oleh karena itu, biasakanlah menggunakan istilah “praaksara” untuk menggambarkan kehidupan manusia ketika belum mengenal tulisan dan menggunakan istilah “prasejarah” untuk menggambarkan kehidupan sebelum adanya manusia di bumi. Karena sejak manusia berada di bumi sudah menciptakan sejarahnya masing-masing.

Walaupun demikian, masih ada sebagian dari kita bahwa antara prasejarah dan praaksara memiliki arti yang sama. Dalam bukunya Hendrayana (2009) menyebutkan: Kehidupan sebelum masyarakat mengenali tulisan atau aksara disebut kehidupan prasejarah (Hendrayana, Sejarah “Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah kelas X” Departemen pendidikan Nasional, 2009 : 24).

Kapan Dimulainya dan Berakhirnya Zaman Praaksara?




Pertanyaan itu memiliki jawaban yang mudah, akan tetapi untuk memastikan kapan permulaanya dan kapan berakhirnya zaman praaksara, para Ahli belum mengetahuinya. Namun jika di tinjau dari pengertian “praaksara”, tentu jawabannya cukup mudah. Lalu apa jawabannya?. Jawabannya adalah zaman praaksara berakhir ketika manusia sudah mengenal tulisan. Sedangkan kapan zaman praaksara itu dimulai?, jawabannya adalah ketika manusia ada atau tercipta.

Zaman pra-aksara dimulai sudah tentu sejak manusia ada, itulah titik dimulainya masa praaksara. Zaman pra-aksara berakhir setelah manusianya mulai mengenal tulisan. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab adalah kapan tepatnya manusia itu mulai ada di bumi ini sebagai pertanda dimulainya zaman pra-aksara?. Sampai sekarang para ahli belum dapat secara pasti menunjuk waktu kapan mulai ada manusia di muka bumi ini. Tetapi yang jelas untuk menjawab pertanyaan itu kamu perlu memahami kronologi perjalanan kehidupan di permukaan bumi yang rentang waktunya sangat panjang. Bumi yang kita huni sekarang diperkirakan mulai terjadi sekitar 2.500 juta tahun yang lalu. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, “Sejarah Indonesia kelas X”, 2014 : 4-5).

Tradisi Zaman Praaksara di Indonesia

Zaman praaksara merupakan masa di mana manusia belum mengenal tulisan. Lalu bagaimana manusia khususnya nenek moyang kita di Indonesia mewariskan tradisinya?. Di zaman yang sudah medern sekarang ini, masih ada yang melakukan tradisi warisan nenek moyang pada zaman praaksara, walaupun jumlahnya sangat sedikit. Contoh suku pedalaman yang menghindari keramaian serta belum menerima teknologi yang canggih. Mereka biasanya hidup di pedalaman atau di hutan. Bahkan kehidupannya hampir sama dengan kehidupan pada masa praaksara. Hal ini adalah bukti bahwa, tradisi masyarakat Indonesia di era sebelum mengenal tulisan masih ada.

Nah, untuk jawaban di atas, karena cara mewariskan tradisi itu bukan hanya menggunakan tulisan, melainkan dengan cara kebiasaan yang diajarkan oleh manusia zaman praaksara. Contoh, pewarisan tradisi itu melalui alat-alat yang digunakan oleh manusia praaksara seperti, batu, tulang, dan logam. Benda-benda yang terbuat dari batu, logam, dan seterusnya mengandung informasi yang dapat dijadikan bahan penelitian dan menjadi sebuah tulisan sejarah dan akan disampaikan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya.

Baik, untuk mengenal lebih lanjut dari tradisi praaksara di Indonesia, inilah beberapa tradisi yang diambil dari cara hidup manusia sebelum mengenal aksara.

Tradisi Manusia Hidup Berpindah-Pindah atau Tidak Menetap (Paleolitikum)

Pada zaman ini manusia masih memiliki gaya hidup yang berpindah-pindah atau tidak menetap. Mereka hidup dengan berburu untuk mengumpulkan makanan dan tinggal di gua satu ke gua yang lainya. Kehidupan mereka masih liar dan tampak belum menguasai alam. Di Indonesia, kebudayaan atau tradisi berpindah-pindah, berburu, dan tinggal di gua-gua disebut dengan kebudayaan atau tradisi Pacitan. Seperti yang telah disebutkan dalam bukunya Wardaya (2009):

Manusia di zaman hidup berpindah termasuk jenis Pithecanthropus. Mereka hidup dari mengumpulkan makanan (food gathering), hidup di gua-gua, masih tampak liar, belum mampu menguasai alam, dan tidak menetap. Kebudayaan mereka sering disebut kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Disebut kebudayaan Pacitan sebab alat-alat budayanya banyak ditemukan di Pacitan (di Pegunungan Sewu Pantai Selatan Jawa) berupa chopper (kapak penetak) disebut juga kapak genggam. Karena masih terbuat dari batu maka disebut stone culture (budaya batu). Alat sejenis juga ditemukan di Parigi (Sulawesi) dan Lahat (Sumatra). (Sumber : Wardaya, Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas X, 2009: 19).



Tradisi Manusia Hidup Setengah Menetap (Semisedenter atau Mesolitikum)

Dari sumber yang sama, bahwa manusia pada periode ini sudah memiliki kemajuan dalam tradisinya yaitu, setengah menetap atau terkadang menetap terkadang berpindah-pindah (semisedenter).

Mereka sudah memiliki kemajuan hidup seperti adanya kjokkenmoddinger (sampah kerang) dan abris sous roche (gua tempat tinggal). Alat-alatnya adalah kapak genggam (pebble) disebut juga kapak Sumatra, kapak pendek (hache courte), dan pipisan. (Sumber: Wardaya, Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas X, 2009: 20)

Tradisi Manusia Hidup Menetap (Neolitikum)

Pada masa periode ini, masyarat sudah hidup menetap dan sudah mulai bisa bercocok tanam. Artinya pada masa ini, manusia sudah bisa memanfaatkan alam untuk memenuhi makanan. Adapun jenis makananya adalah sejenis ubi, talas, padi. Mereka pun menggunakan alat yang lebih bagus dari zaman sebelumnya. Seperti yang telah diterangkan oleh Wardaya dalam buku Cakrawala Sejarah (2009):

Pada zaman ini, manusia sudah mulai food producing, yakni mengusahakan bercocok tanam sederhana dengan mengusahakan ladang. Jenis tanamanya adalah ubi, talas, padi, dan jelai. Mereka menggunakan peralatan yang lebih bagus seperti beliung persegi atau kapak persegi dan kapak lonjong yang dipergunakan untuk mengerjakan tanah. Kapak persegi ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan Barat, sedangkan di Semenanjung Melayu kapak ini disebut kapak bahu. Kapak lonjong berbentuk bulat telur, banyak ditemukan di Sulawesi, Papua, atau kepulauan Indonesia Timur. Alat serpih untuk mata panah dan mata tombak ditemukan di Gua Lawa Sampung (Jawa Timur) dan Cabbenge (Sulawesi Selatan). Di Malolo (Sumba Timur) ditemukan kendi air. Pada masa ini, terjadi perpindahan penduduk dari daratan Asia (Tonkin di Indocina) ke Nusantara yang kemudian disebut bangsa Proto Melayu pada tahun 1500 SM melalui jalan barat dan jalan utara. Alat yang dipergunakan adalah kapak persegi, beliung persegi, pebble (kapak Sumatra), dan kapak genggam. Kebudayaan itu oleh Madame Madeleine Colani, ahli sejarah Prancis, dinamakan kebudayaan Bacson-Hoabinh. Kepercayaan zaman bercocok tanam adalah menyembah dewa alam. (Sumber : Wardaya, Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas X, 2009: 20)

Tradisi Megatilikum

Pada zaman ini, alat dibuat dari batu besar seperti menhir, dolmen, dan sarkofagus. Menhir adalah tugu batu besar tempat roh nenek moyang, ditemukan di Sumatra Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan. Dolmen adalah meja batu besar (altar), terdapat di Bondowoso, Jawa Timur. Sarkofagus adalah kubur peti batu besar. Di Sulawesi, sarkofagus dikenal dengan sebutan waruga. (Sumber : Wardaya, Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas X, 2009: 20)

Tradisi Perundagian

Ketika tradisi menetap sudah berlangsung sekian lama, kemajuan di bidang alat seperti kapak sudah mengalami kemajuan yaitu, sudah teruat dari logam. Meraka juga sudah mengenal sawah dan sistem pengairan. Zaman ini disebut zaman kemahiran teknologi. Mereka juga telah mengenal sawah dan sistem pengairan(Wardaya, Cakrawala Sejarah, 2009: 20). Jenis benda logam yang dibuat di Indonesia pada zaman ini, antara lain, sebagai berikut:

Nekara, yaitu semacam tambur besar yang ditemukan di Bali, Roti, Alor, Kei, dan Papua.

Kapak corong, disebut demikian karena bagian tangkainya berbentuk corong. Sebutan lainnya adalah kapak sepatu. Benda ini dipergunakan untuk upacara. Banyak ditemukan di Makassar, Jawa, Bali, Pulau Selayar, dan Papua.

Arca perunggu, ditemukan di daerah Bangkinang, Riau, dan Limbangan, Bogor. Selain itu, ada perhiasan perunggu, benda besi, dan manik-manik. Kepercayaan di zaman perundagian adalah menyembah roh nenek moyang (animisme).



Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Pengertian dari praaksara adalah zaman di mana manusia belum mengenal aksara.
  2. Terdapat istilah yang sama maknanya dengan praaksara yaitu nirleka.
  3. Perbedaan antara praaksara dengan prasejarah adalah: Jika praaksara berarti belum mengenal tulisan. Jika prasejarah berarti saat manusia belum ada.
  4. Permulaan zaman praaksara adalah ketika manusia ada di bumi, sedangkan akhir dari zaman praaksara adalah pada saat manusia sudah mengenal aksara.

Tradisi Masyarakat di Indonesia pada zaman praaksara ada lima periode:
  1. Tidak Menetap
  2. Setengah menetap
  3. Menetap
  4. Megatilikum
  5. Perundagian
Itulah pembahasan pengertian zama praaksara dan tradisi masyarakat Indonesia pada zaman praaksara. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan Anda serta dapat menjadi referensi. Jika terdapat tulisan maupun pendapat yang kurang benar mohon diberi saran yang bersifat membangun untuk kemajuan artikel ini. Terimakasih….

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah