-->

[ADS] Top Ads

Kisah Nabi Nuh AS Lengkap Berikut Ayat Al-Qur'an

Kisah Nabi Nuh as
Kisah Nabi Nuh as
Kisah Nabi Nuh AS - Masa fatroh atau masa kekosongan adalah masa diantara dua nabi yang begitu lama, sehingga berangsur-angsur manusia di bumi melupakan ajaran agama yang disampaikan oleh Nabi sebelumnya, hingga kebanyakan manusia bahkan semuanya melakukan kesyirikan. Sedangkan Nabi Nuh AS menerima wahyu yang pertama ketika masa fatrah itu terjadi. Beliau, Nabi Nuh AS merupakan keturunan yang kesembilan dari Nabi Adam AS. Ayah Nabi Nuh bernama Lamik bin Metusyalin bin Idris.

Sebeluh Nabi Nuh AS lahir di muka bumi, telah hidup lima orang yang saleh dan taat beragama. Mereka adalah kakek-kakek Nabi Nuh AS yang bernama Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka meninggal, dan untuk mengenang mereka (masyarakat) membuat patung kelima orang saleh tersebut dalam rangka menghormati dan memperingati kelima orang saleh itu. Waktu berlalu begitu cepat, hingga pada suatu masa terdapat isu yang mengatakan bahwa, patung-patung kelima orang saleh itu mempunyai kekuatan yang luarbiasa.

Isu yang tidak masuk akal itu (patung yang memiliki kekuatan) dimanfaatkan Iblis untuk menggoda manusia. Iblis membisikan kepada manusia bahwa, patung-patung itu adalah tuhan yang dapat memberikan manfaat bagi mereka. Manfaat itu berupa, dapat mendatangkan keberuntungan dan dapat menolak bahaya atau bencana. Hingga akhirnya manusia menyembah patung-patung itu dan menjadi sebuah kepercayaan yang sulit untuk dihilangakan.

Gambaran Kaum Nabi Nuh AS


Masa fatrah atau masa kekosongan yang begitu lama membuat manusia melupakan ajaran Nabi dan Rasul terdahulu. Ajaran ketauhidan untuk meyembah Allah SWT semata melenceng jauh hingga kesyirikan meraja lela. Patung-patung yang disebut berhala, mereka anggap tuhan yang dapat memberi kemanfaatan. Mereka meyembah berhala dengan bangga dan antusias. Nama berhala-behala itu bernama Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr. Nama itu diambil dari orang-orang saleh terdahulu.

Seperti biasanya, jika jaman zahiyah sudah membelenggu manusia, maka akan terjadi kekacauan yang sulit untuk dihindari. Kebaikan dianggap suatu keanehan dan keburukan dianggap hal yang biasa. Bahkan keburukan yang paling buruk dianggap mereka suatu kebaikan yang patut untuk dibanggakan. Yang kuat menindas kaum yang lemah, yang kaya menindas simiskin. Mereka yang kuat bangga menunjukan kekuatanya dengan menindas yang lemah. Mereka yang kaya bangga dengan kekayaanya, sehingga gengsi untuk bergaul dengan si miskin. Dan mereka yang berkuasa memperlakukan bawahanya seperti orang-orang rendahan.

Dakwah Nabi Nuh AS Kepada Kumnya


Nabi Nuh AS berdakwah di tengah-tengah badai pusaran kezaliman dan kesyirikan yang sulit untuk dihilangkan. Beliau AS berdakwah dengan penuh gagah berani, dan bijaksana. Kecerdasan dan fasih dalam menyampaikan risalah juga menjadi faktor pendukung dalam berdakwah. Selain itu Nabi Nuh AS juga memiliki sifat yang banyak bersyukur kepada Allah SWT. Hingga Allah SWT mengabadikan sifat Nabi Nuh AS di dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat tiga:
ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا

Artinya: (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Q.S al-Isra': 3)

Nabi Nuh AS berdakwah meyebarkan agama ketauhidan dengan menggunakan logika untuk memberitahukan bahwa alam semesta diciptakan oleh Sang Maha Pencipta yaitu, Allah SWT. Seluruh alam semesta yang berupa langit dengan hiasan di malam hari yaitu, bulan dan bintang serta hiasan yang berupa awan putih nan lembut pada siang hari adalah ciptaan Allah SWT. Bumi beserta isinya berupa gunung-gunung, tetumbuhan, air yang menyegarkan, angin yang berhembus lembut semua adalah ciptaan Allah SWT. Bagaimana mungkin alam semesta terlahir tanpa ada yang menciptakan.

Selain berdakwah dengan ogika, Nabi Nuh AS juga berdakwah dengan memberikan berita gembira kepada kepada kaum yang mengikuti petunjuknya dan memberi ancaman bagi orang-orang yang membangkang terhadap risalah Tuhan. Dalam Qur'an Surat al-A'raf ayat 59 Allah SWT berfirman:


لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)

Berdasarkan ayat tersebut, Nabi Nuh AS mengajarkan kaumnya untuk menyembah Allah semata, dan memberi berita berupa ancaman bagi orang yang tidak menyembah Allah SWT berupa adzab. Dalam Q.S Hud: 25 Allah berfirman "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu"

Namun dakwah Nabi Nuh AS menuai penolakan diantara kaum bangsawan, penguasa, dan orang-orang kaya. Sedangkan kaum yang lemah, orang-orang fakir dan kaum pekerja buruh banyak yang mengikuti dakwah Nuh AS. Pergolakan yang tidak bisa dihindari antara dua kelompok itu. Hingga perdebatan terjadi antara Nabi Nuh AS dan kaum yang menolak dakwah Beiau.


Perdebatan Antara Nabi Nuh AS Dengan Kaum Penguasa


Mula-mula golongan yang menolak dakwah Nabi Nuh AS berkata "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".

Nabi Nuh AS menjawab perkataan kaum penguasa yang menolak dakwah Nabi Nuh AS dengan berkata "wahai para penguasa, seandainya aku mempunyai kelebihan dan mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, apakah kamu akan mempercayaiku, sedangkan kamu (penguasa) tidak menyukai dakwahku. Aku pun sekali-kali tidak pernah meminta upah atas dakwahku, Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui".

Perdebatan antara Nabi Nuh AS dan para penguasa terjadi begitu sengit, hingga akhirnya para penguasa menantang Nabi Nuh AS untuk mendatangkan adzab yang diberitakanya. Para penguasa berkata "wahai Nuh, kami telah berdebat dengan mu dan kami tidak akan mempercayai apa yang kamu dakwahkan. Jika kamu memang orang yang benar, maka datangkanah adzab yang kau beritakan. Tantangan para penguasa itu tertera dalam Q.S Hud ayat 32.


 قَالُواْ يَٰنُوحُ قَدۡ جَٰدَلۡتَنَا فَأَكۡثَرۡتَ جِدَٰلَنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Artinya: Mereka (penguasa) berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar" (Q.S Hud:32)

Lalu Nabi Nuh AS menjawab tantangan pengusa dengan berkata "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri". Lalu Nabi Nuh AS berkata lagi "Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan"

Para penguasa menjawab perkataan Nabi Nuh AS dengan berkata bahwa, Nabi Nuh AS hanya membuat-buat nasehat saja. Dan diakhir perdebatan itu Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Nuh AS agar menjawabnya dengan perkataan "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat". Maksudnya, jika Nabi Nuh AS sudah menyampaikan nasehat kebenaran kepada penguasa, maka Nabi Nuh AS tidak akan menanggung dosa dari perbuatan mereka. Karena mereka sendiri yang memilih untuk tidak mengikuti nasehat itu.

Setelah perdebatan itu, kaum penguasa masih tidak mempercayai dan tidak mau mengikuti dakwah Nabi Nuh AS. Mereka masih berbuat ingkar atas kebenaran yang telah disampaikan Nabi Nuh AS. Hingga pada suatu hari Nabi Nuh AS mengeluh kepada Allah SWT. Sudah sekian lama Nabi Nuh AS berdakwah, akan tetapi masih banyak yang tidak mengidahkan dakwah yang disampaikannya. Mendengar Nabi Nuh AS mengeluh, Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Nuh AS agar jangan bersedih hati. Firman Allah SWT Q.S Hud Ayat 36:


وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُۥ لَن يُؤۡمِنَ مِن قَوۡمِكَ إِلَّا مَن قَدۡ ءَامَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ

Artinya: "Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan".


Bahtera penyelamat dan Adzab Banjir Bandang


Perdebatan antara Nabi Nuh AS dan kaum penguasa berjalan begitu dahsyat. Akan tetapi, walaupun banyak yang menentang, Nabi Nuh AS tetap berdakwah dengan sekuat tenaga. Selama 950 tahun Nabi Nuh AS berdakwah mayanpaikan risalah. Akan tetapi yang mengikuti seruanya masih sedikit. Hingga pada suatu hari Nabi Nuh AS mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk membuat bahtera. Firman Allah SWT:


وَٱصۡنَعِ ٱلۡفُلۡكَ بِأَعۡيُنِنَا وَوَحۡيِنَا وَلَا تُخَٰطِبۡنِي فِي ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِنَّهُم مُّغۡرَقُونَ

Artinya: "Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan". (Q.S. Hud: 37)

Bahtera yang sangat luarbiasa. Bahtera yang akan menjadi penyelamat bagi orang-orang yang beriman, yang yakin dan mengikuti seruan Nabi Nuh AS. Bahtera yang dibuat dengan petuntujuk Arsitek tanpa tanding dan di buat oleh manusia yang mulia. Arsitek itu adalah Allah SWT dan pembuat perahu itu adalah Nabi Nuh AS. Dalam ayat d atas disebutkan bahwa "dengan pengawasan dan petunjuk wahyu". Ayat itu menunjukan bahwa, Nabi Nuh AS membuat bahtera yang luarbiasa dengan petukjuk dari Allah SWT.

Tanpa diduga dan dinyana, ternyata rencana Allah SWT sungguh mengejutkan. Disebutkan dalam ayat di atas "sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan". Dari ayat itu dapat dipastikan bahwa Allah SWT akan memberikan adzab kepada kaum yang tidak beriman. Adzab itu berupa banjir bandang yang akan menenggelamkan mereka (kaum kafir).

Setalah Nabi Nuh AS menerima wahyu tersebut, maka Nabi Nuh AS mulai megerjakan petunjuk Allah untuk membuat bahtera. Ternyata dalam proses pembuatan perahu atau bahtera itu, mengalami banyak hambatan. Terutama oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka yang tidak beriman mengejek Nabi Nuh AS karena membuat perahu di dataran tinggi dan di musim kering. Dalam Q.S Hud ayat 38 "Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya".

Ejekan dari kaum penguasa (kafir) dengan enteng dijawab oleh Nabi Nuh AS dengan berkata ""Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami) Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal" (Q.S Hud;38-39)

Setelah bahtera yang dibuat dari petunjuk Arsitek tanpa tanding itu selesai, Allah SWT memberi perintah kepa Nabi Nuh AS agar memuat dari sepasang hewan-hewan, keluarga Nabi Nuh AS dan orang-orang yang beriman. Allah berfirman:


حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَمۡرُنَا وَفَارَ ٱلتَّنُّورُ قُلۡنَا ٱحۡمِلۡ فِيهَا مِن كُلّٖ زَوۡجَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِ وَأَهۡلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيۡهِ ٱلۡقَوۡلُ وَمَنۡ ءَامَنَۚ وَمَآ ءَامَنَ مَعَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٞ

Artinya: "Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman". Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit".


Kisah Nabi Nuh as
Kisah Nabi Nuh as

Setelah Nabi Nuh AS melaksanakan perintah Allah SWT untuk memuat para binatang, keluarga dan orang-orang beriman, maka hujan lebat yang dipenuhi dengan badai dan petin turun ke bumi. Hujan yang terdahsyat tanpa tanding sampai menenggelamkan apapun. Bahkan gunung sekalipu ikut tenggelam. Namun ketika Nabi Nuh dan para pengkut berlayar, Nabi Nuh AS melihat anak kandungnya berada di tempat terpencil.

Kisah Nabi Nuh as
Kisah Nabi Nuh as

Nabi Nuh AS menyeru "wahai anakku, naikah ke perahu ini" akan tetapi anak Nabi Nuh AS tidak mau menaiki perahu itu dan berkata "aku akan naik ke atas gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah ini". Dan ternyata anak Nabi Nuh AS ikut tenggelam bersama orang-orang yang tak beriman. Dan selamatlah Nabi Nuh AS beserta pengikutnya.  Dialog antara Nabi nuh dan anaknya terdapat dalam Q.S Hud ayat 42-43.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah