-->

[ADS] Top Ads

Kisah Nabi Nuh AS Berdakwah Kepada Kaumnya

Kisah Nabi Nuh AS - Nabi Nuh AS adalah salah satu 25 Nabi dan Rasul yang wajib diketahui oleh umat Islam. Selain itu, akan lebih baik jika kita sebagai Umat Islam mengetahui kisah perjuangan Nabi Nuh AS. Baiklah, pada kesempatan kali ini kami akan menceritakan kisah Nabi Nuh AS.

Kisah Nabi Nuh AS


Keadaan Kaum Nabi Nuh AS


Nabi Nuh AS hadir di muka bumi ketika berhala dan kesyirikan sudah merajalela. Karena Nabi Nuh AS diutus menjadi Rasul ketika masa kekosongan atau Fathrah. Masa ini merupakan masa di antara dua Rasul yang begitu lama, sehingga pada masa itu berangsur-angsur manusia sudah mulai jauh dari ketauhidan atau mengesakan Allah SWT. Hingga akhirnya kesyirikan sudah tidak bisa lagi dihindari. Perbuatan kebajikan malah dianggap suatu keburukan dan kemungkaran sudah menjadi hal yang biasa.

Tidak jauh berbeda dengan kaum yang dihadapi Nabi Nuh AS. Beliau AS berdakwah ditengah-tengah pusaran kerusakan moral, baik moral ketuhanan maupun moral kemasyarakatan. Para penyembah berhala itu membuat patung dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka sembah dengan cara memujanya. Mereka mempercayai bahwa, patung yang mereka buat dan mereka sembah dapat memberi manfaat kepada mereka. Manfaat itu berupa dapat menolak segala musibah dan kemalangan.

Para penyembah berhala juga meyakini bahwa, patung-patung yang mereka sembah mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga dapat memberikan keberuntungan. Dan yang lebih aneh lagi, mereka mengganti nama-nama tuhan mereka (patung berhala) dengan kehendak mereka sendiri. Ketika mereka sudah bosan dengan nama "Wadd", mereka akan mengganti nama patung berhala mereka dengan nama "Suwa", ketika nama "Suwa" sudah bosan diganti dengan nama "Yaguts" dan bila sudah bosan mereka mengganti nama tuhan mereka dengan nama Yatuq atau Nasr.

Itulah gambaran kaum pada era Nabi Nuh AS, yang pada intinya mereka mengalami kerusakan moral lahir dan batin.

Dakwah Nabi Nuh AS 


Nabi Nuh AS berdakwah kepada orang-orang yang sudah jauh tersesat dari ajaran Nabi terdahulu. Mereka menyembah selain Allah SWT yang menciptakan alam semesta, pemilik kehidupan dan kematian makhluk-makhluk yang ada. Melalui alam semesta yang diciptakan Allah SWT, Nabi Nuh AS mengajak kaumnya untuk mengesakan Allah SWT. Matahari, bulan dan bintang yang menghiasi langit di malam hari, bumi dan segala kekayaannya yang berupa tetumbuhan, air, gunung-gunung, dan segala keindahanya adalah bukti nyata adanya Dzat Yang Maha Esa yaitu, Dzat yang menciptakan seluruh alam.

Selain itu, Nabi Nuh AS juga memberi berita dari Sang Pencipta yang berupa ancaman dan khabar gembira. Ancaman bagi orang-orang yang melalukan kemusyrikan dan kemaksiatan dengan balasan neraka dan segala siksaan di dalamnya. Khabar gembira bagi mereka yang mengesakan Allah SWT dan pelaku kebajikan atas balasan surga dan segala kenikmatanya.

Dengan penuh kesabaran dan keuletan Nabi Nuh AS berdakwah. Bijaksana, kelembutan dan kefasihan dalam mengucapkan risalah Tuhan menjadi sifat-sifat yang dimilikinya. Akan tetapi ketika ketegasan dibutuhkan, maka Nabi Nuh AS akan bersikap tegas terhadap kaumnya. Hingga pada suatu hari Nabi Nuh AS berdialog dengan para pembesar dan penguasa.

Mereka para pembesar berkata "Bukankah engkau hanya manusia biasa yang tidak ada bedanya dari kami. Jikalau Tuhan benar-benar mengutus seorang Rasul, maka Ia akan mengutus malaikat yang patut kami dengarkan dan kami ikuti kata-katanya. Bukan manusia yang kedudukan sosialnya seperti para buruh. Mereka (para buruh) tidak mempunyai daya fikir dan ketajaman otak".

Nabi Nuh AS menjawab perkataan mereka "Apakah engkau mengira bahwa aku dapat memaksa untuk mengikuti ajakanku. Jika kamu tetap menolak ajakanku serta tetap membuta dan menuli dari kebenaran yang aku sampaikan, biarlah Allah SWT yang memberi balasanya. Sedang kau masih dengan kesombongan dan kecongkaan karena kedudukan dan harta benda yang kau miliki. Aku hanya menyampaikan amanah dari-NYA. DIA-lah pula yang berkuasa untuk menurunkan adzab baik di dunia atau menangguhkanya".

Sebenarnya, para penguasa dan pembesar sudah menyadari kebenaran atas apa yang menjadi ajakan Nabi Nuh AS, akan tetapi mereka tidak mau mengakui karena kesombongan mereka. Para penguasa gengsi jika hidup berdampingan dengan orang-orang pekerja yang mereka anggap rendah.

Hingga pada akhirnya mereka para penguasa dan pembesar mengajukan syarat kepada Nabi Nuh AS, mereka berkata "Wahai Nuh, jika engkau menghendaki kami untuk mengikutimu dan memberikan harta kepadamu, maka jauhilah para pekerja buruh. Karena kami tidak dapat bergaul dengan berdampingan dengan petani buruh. Dan bagaimana kami dapat menerima agama yang menyamaratakan kedudukan antara penguasa dan kaum rendahan".

Nabi Nuh AS dengan tegas menolak syarat yang mereka ajukan dengan berkata "Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tanpa adanya pengecualian. Baik kaya dan miskin, majikan dan buruh, penguasa dan rakyat biasa, semuanya sama dihadapan hukum Allah SWT. Mereka kaum buruh mengikutiku karena keyakinan dan keikhlasan mereka. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka?".

Karena mereka para penguasa tidak berdaya atas kebenaran yang diucapkan Nabi Nuh AS, mereka menjawab "Wahai Nuh, kami sudah berdebat denganmu, dan cukuplah kami mendengar dakwahmu. Kami tidak akan mengikuti ajakanmu dan tetap tidak akan melepaskan kepercayaan kami. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancaman yang engkau beritakan. Karena kami masih meragukan dakwahmu.

Hingga pada suatu masa, Allah SWT menurunkan adzab berupa banjir bandang yang dapat menenggelamkan gunung. Dan binasalah orang-orang yang membangkang atas perintah-Nya.

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah