-->

[ADS] Top Ads

Biografi Lengkap Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro
Gambar P. Diponegoro
Biografi Pangeran Diponegoro - Bendoro Raden Mas Ontowiryo merupakan nama kecil dari Pangeran Diponegoro. Selain itu Beliau juga mempunyai gelar yang sebut dengan Sultan Abdul Hamid Herucokro Amirulmukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi. Beliau merupakan putra sulung dan lahir dari pasangan Pangeran Adipati Anom (Hamangkubuwono III), seorang raja Mataram yang berada di Yogyakarta dan seorang selir yang bernama R.A. Mangkarawati dari Pacitan. Pangeran Diponegoro lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dan meninggal pada tanggal 8 Januari 1855 di Makasar, Sulawesi Selatan di umurnya yang ke 69 tahun. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia pada tanggal 6 November 1973 dengan nomor SK. 087/TK/1973. 

Menurut Heru Basuki dalam bukuaya "Dakwah Dinasti Mataram, Dalam Perang Diponegoro, Kyai Mojo dan Perang Perang Sabil Sentot Ali Basah", disebutkan bahwa, saat masih kanak-kanak, Pangeran Diponegoro diramal oleh Buyutnya, Sultan Hamengkobowono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir. Pengeran diponegoro juga pernah menjabat sebagai pendamping Hamengkubowono V, karena Beliau memiliki sifat yang arif dan bijaksana.


Istri-Istri Pangeran Diponegoro


Pangeran Diponegoro mempunyai 3 istri yaitu: Raden Ayu Ratnaningrum  putri dari Pangeran Penengah atau Dipawiyana II, Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.

Namun pada kutipan lain menyebutkan bahwa, setidaknya Pangeran Diponegoro pernah menikah dengan 9 orang wanita:

  1. B.R.A. Retna Madubrangta puteri kedua Kyai Gedhe Dhadhapan;
  2. R.A. Supadmi yang kemudian diberi nama R.A. Retnakusuma, putri Raden Tumenggung Natawijaya III, 3. Bupati Panolan, Jipang;
  3. R.A. Retnadewati seorang putri Kyai di wilayah Selatan Jogjakarta;
  4. R.Ay. Citrawati, puteri Raden Tumenggung Rangga Parwirasentika dengan salah satu isteri selir;
  5. R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretna (putri HB II), jadi R.A Maduretna saudara seayah dengan Sentot Prawiradirdja, tetapi lain ibu;
  6. R.Ay. Ratnaningsih putri Raden Tumenggung Sumaprawira, bupati Jipang Kepadhangan;
  7. R.A. Retnakumala putri Kyahi Guru Kasongan;
  8. R.Ay. Ratnaningrum putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II.
  9. Syarifah Fathimah Wajo putri Datuk Husain (Wanita dari Wajo, Makassar).

Sekilas Pendidikan Pangeran Diponegoro


Pada waktu nasih kecil Pangeran Diponegoro lebih cenderung tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat. Beliau sering tinggal di Tegalrejo bersama eyang Buyut Putrinya (Permaisuri Hamengkubuwono I) dari pada tinggal di Jogja. Maka dari itu, Pangeran Diponegoro pernah belajar Agama pada kyai Taftayani, salah satu dari keturunan dari keluarga asal Sumatra Barat, yang bermukim dekat Tegalrejo. Selain mengenyam pendidikan agama dari Kyai Taftayani, Pangeran diponegoro juga pernah nyantri di Melangi yang diasuh oleh Kyai Gede Dadaban.


Sekilas Perjuangan Pangeran Diponegoro



Sejak awal Pangeran Diponegoro tidak suka dengan keberadaan  Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan memberlakukan pajak yang cukup tinggi kepada rakyat. Padahal pada saat itu Belanda adalah pendatang dan misi dari Belanda datang ke Indonesia adalah untuk menjajah. Akan tetapi Belanda malah berbuat sesuka hati dengan tidak menghargai adat istiadat bangsa Indonesai. Terlebih lagi, rakyat Indonesia khususnya di Yogyakarta dipungut pajak yang tinggi dan harta hasil pajak tidak bisa dinikmati rakyat setempat. Belanda menggunakan hasil pajak itu untuk kepentingan pribadi.

Bukan hanya itu saja, Belanda telah memasang patok di tanah kelahiran Pangeran Diponegoro yaitu, di desa  Tegalrejo. Dengan demikian lengkap sudah alasan Pangeran Diponegoro untuk membela Tanah Air. Sikap Pangeran Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka telah menuai banyak dukungan dari simpati dari rakyat. Kemudia, atas saran paman Pangeran Diponegoro GPH Mankubumi, Pangeran Diponegoro agar membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong.

Dengan setrategi yang cerdik, Pangeran Diponegoro menyatakan perlawanan terhadap Belanda ini merupakan perang sambil melawan kaum kafir. Dengan demikian Pangeran Diponegoro mendapatkan dukungan yang lebih dari daerah Kedu dan Pacitan. Salah seorang tokoh agama di  Surakarta,  Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong. Perjuangan Pangeran Diponegoro ini juga didukung oleh Sunan Pakubuwana VI dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya Bupati Gagatan.


Biografi Pangeran Diponegoro
Ilustrasi Perang Diponegoro

Perang berkecamuk di daerah jawa, karena perang ini melibatkan hampir di seluruh pulau Jawa.  Maka dari itu perang Diponegoro ini juga disebut dengan perang Jawa. Dalam peperangan ini Belanda telah mengalami kerugian yang cukup besar, tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta  golden. Sampai-sampai dari pihak Belanda mengadakan sayembara untuk menangkap Pangearan Diponegoro. Dan barang siapa yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro akan diberi hadiyah sejumlah 50.000 Golden.

Perang Diponegoro ini berlansung pada tahun 1825-­1830. Dan untuk menghindari upaya Belanda dalam menangkap Pangeran Diponegoro, beliau sering berpindah-pindah tempat. Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin
spiritual, ditangkap.

Pada tanggal 28 Maret 1830, Belanda menggunakan rencana licik untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Jenderal De Kock  membuat sebuah perundingan yang dimana ia meminta agar langsung bertemu dengan Pangeran Diponegoro di Magelang, namun dalam perundingan tersebut Belanda sudah menyiapkan rencana untuk  menangkap Diponegoro. Beliau menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggotanya dilepaskan.

Setelah Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dengan cara yang licik, Pangeran Diponegoro telah diasingkan selama beberapa kali mulai dari Ungaran, Batavia, Manado, hingga Makassar. Pada tanggal 8 Januari 1 855, beliau meninggal dunia di Benteng Rotterdam. Selama berlangsungnya peperangan ini Belanda mengalami kerugian dari segi finansial dan pasukan yang gugur saat berperang.

Biografi Lain:
Biografi lengkap Ir Soekarno Dari Lahir Hingga Wafat; Riwayat Hidup Ir Soekarno

Copyright © 2020

Wikuwik.com - Ilmu Sejarah